Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Transformasi Kerajinan Kulit Garut: Dari Jok Delman ke Tren Fashion Kekinian

Bandung · Oleh Raka Permana · · Diperbarui 2 Maret 2026

Jelajahi Sukaregang, sentra kerajinan kulit Garut yang melegenda. Dari jok delman di era kolonial hingga produk fashion modern, simak perjalanan industri ini, tantangan di era digital, dan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat.

Transformasi Kerajinan Kulit Garut: Dari Jok Delman ke Tren Fashion Kekinian

Transformasi Kerajinan Kulit Garut: Dari Jok Delman ke Tren Fashion Kekinian

Pagi yang dingin di Garut tak mengurangi semangat untuk menelusuri Sukaregang, denyut nadi industri kulit setempat. Sepanjang jalan, toko-toko berjejer rapi, memamerkan aneka produk kulit mulai dari jaket, tas, hingga sepatu. Aroma khas kulit semerbak di udara, menyambut kedatangan kami di kawasan yang tak hanya menjadi pusat belanja, tetapi juga menyimpan sejarah panjang dan kerja keras lintas generasi.

Jejak Sejarah Industri Kulit Sukaregang

Sejarah Sukaregang sebagai sentra pengolahan kulit bermula pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1920-an, di masa kolonial Belanda. Aviantrini (2025) mencatat bahwa pada masa itu, kulit banyak digunakan untuk keperluan fungsional seperti jok delman dan pelana sepeda. *

Catatan kolonial dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (Stibbe, 1919) bahkan menyebut Garut sebagai daerah potensial untuk pengolahan hasil peternakan, termasuk kulit. Iklim pegunungan yang sejuk dan ketersediaan ternak menjadi faktor pendukung utama perkembangan industri ini.

Kondisi geografis Garut yang dingin secara alami menuntut penggunaan bahan yang kuat dan tahan lama, menjadikan kulit sebagai pilihan utama. Hal ini secara turun-temurun menumbuhkan keterampilan menyamak kulit yang kemudian mengakar kuat di masyarakat. Laporan ekonomi kolonial De Inlandsche Nijverheid in Nederlandsch-Indië (Boeke, 1927) juga menegaskan perkembangan pesat industri rumahan berbasis keterampilan lokal di wilayah pedalaman Jawa Barat, termasuk aktivitas penyamakan kulit di Priangan. Sukaregang menjadi contoh nyata bagaimana kebutuhan praktis masyarakat kolonial dan lokal berperan dalam menciptakan industri kulit yang berkelanjutan.

Peran Tokoh Lokal dalam Pengembangan Industri

Setelah kemerdekaan Indonesia, peran tokoh lokal menjadi semakin vital dalam menentukan arah industri kulit Sukaregang. Warga setempat sering menyebut Haji Muhtar dan Haji Usman sebagai perintis penyamakan kulit secara mandiri. Dengan alat sederhana, mereka memiliki visi jangka panjang untuk mengembangkan industri ini. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya seperti Haji Ayub dan Haji Ujang Solihin. Aviantrini (2025) menggarisbawahi bahwa mereka bukan hanya produsen, tetapi juga pionir yang membangun ekosistem ekonomi bagi warga setempat.

Keterampilan membuat kerajinan kulit di Sukaregang tidak diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan diwariskan dari generasi ke generasi melalui pengalaman sehari-hari. Anak-anak belajar dengan mengamati dan membantu orang tua mereka, sehingga mereka sudah akrab dengan tekstur kulit sejak usia dini. Wawan Ridwan dalam esainya "Dinamika Industri Jaket Kulit Garut di Era Modern" (2024) menegaskan bahwa keahlian perajin Sukaregang terbentuk dari kebiasaan panjang, bukan dari teori buku teks. Beberapa alat penyamakan peninggalan Belanda bahkan masih digunakan hingga saat ini, menunjukkan betapa kuatnya tradisi ini.

Evolusi Produk: Dari Fungsionalitas ke Gaya Hidup

Pada masa kolonial, produk kulit Sukaregang lebih bersifat fungsional dan terbatas. Namun, pasca-kemerdekaan, arah industri mulai berubah. Jaket kulit muncul sebagai produk unggulan. Hakim Ghani dalam karyanya "Piazza Firenze dan Kebangkitan Industri Kulit Garut" (2024) menjelaskan bahwa jaket kulit berkembang karena kebutuhan masyarakat Garut akan pakaian hangat dan tahan lama. Seiring waktu, fungsi jaket bergeser dari sekadar pelindung tubuh menjadi simbol gaya dan identitas pemakainya.

Kini, keberagaman produk kulit Sukaregang sangatlah luas. Meskipun jaket tetap menjadi primadona, produk lain seperti tas, sepatu, dompet, sabuk, hingga gantungan kunci juga diproduksi. Setiap produk dibuat dengan mempertimbangkan jenis kulit yang digunakan. Kulit domba Garut yang lembut ideal untuk jaket, sedangkan kulit sapi dan kerbau yang lebih keras cocok untuk sepatu dan tas. Para perajin memiliki pemahaman mendalam tentang karakter setiap bahan, memperlakukan kulit dengan cermat layaknya sahabat kerja.

Proses Produksi dan Tantangan Modern

Bahan baku kulit sebagian besar berasal dari Garut dan wilayah sekitarnya, yang dikenal sebagai sentra peternakan domba Priangan sejak masa kolonial. Kulit mentah kemudian dikirim ke tempat penyamakan. Proses penyamakan merupakan inti dari industri ini, melibatkan tahapan panjang seperti perendaman, pengapuran, pengerokan, pencelupan, hingga pengeringan. Aviantrini (2025) menggambarkan proses ini sebagai perjalanan panjang yang menuntut ketelitian tinggi, mengubah kulit mentah menjadi karya bernilai.

Sistem produksi di Sukaregang masih didominasi oleh skala rumahan, seringkali melibatkan seluruh anggota keluarga. Meskipun mesin modern digunakan, peran manusia tetap dominan. Sebuah kesalahan kecil dapat merusak seluruh lembar kulit, sehingga pengalaman dan kehati-hatian menjadi modal utama. Produk Sukaregang memiliki karakter khas yang dihasilkan dari proses produksi yang penuh perasaan dan ketelitian.

Perubahan zaman turut memengaruhi cara penjualan produk kulit. Dulu, transaksi terjadi secara langsung di toko-toko Jalan Ahmad Yani dan Gagak Lumayung. Pembeli dan penjual berinteraksi akrab, menawar, dan berbincang. Namun, era digital membawa tantangan baru. Ghani (2024) melaporkan bahwa kehadiran toko online menciptakan persaingan ketat, dengan harga murah dan produksi massal menjadi ancaman serius bagi pedagang pasar tradisional.

Kendala utama perajin Sukaregang saat ini adalah konsistensi produksi dan pemasaran digital. Skala rumahan menyulitkan mereka untuk memenuhi pesanan besar. Tidak semua perajin juga akrab dengan teknologi. Namun, banyak perajin mulai beradaptasi dengan belajar menggunakan media sosial dan membangun kolaborasi. Pemerintah daerah pun turut mendorong inovasi dan pendampingan demi keberlangsungan industri ini.

Sukaregang: Warisan Budaya yang Terus Berinovasi

Secara geografis, sentra kulit Sukaregang sangat mudah dijangkau, berada di Kecamatan Garut Kota. Sebuah gapura besar menjadi penanda pintu masuk kawasan ini. Dari pusat kota, hanya dibutuhkan beberapa menit perjalanan, sementara dari Bandung sekitar tiga jam. Jalan sepanjang lima ratus meter dipenuhi toko-toko kulit, membentuk apa yang Ghani (2024) gambarkan sebagai lorong mode lokal yang ramai, di mana setiap toko menyimpan cerita dan harapan.

Tahun 2025 menjadi momen penting bagi Sukaregang, dengan ditetapkannya kerajinan kulit ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat. Penetapan ini diumumkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat pada Januari 2025, menyusul kajian mendalam dan sidang penetapan pada Desember 2024. Aviantrini (2025) menegaskan bahwa pengakuan ini merupakan penghargaan atas nilai budaya, sejarah, dan kontribusi ekonomi industri kulit Sukaregang bagi Garut dan Jawa Barat.

Sukaregang lebih dari sekadar destinasi belanja. Ia adalah simbol ketekunan, kreativitas, dan identitas Garut. Di tengah gempuran digital, kawasan ini terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Kisah Sukaregang adalah bukti nyata bahwa karya lokal memiliki potensi besar untuk bertahan, berkembang, dan bersaing di kancah yang lebih luas.

Aneka barang kerajinan kulit Sukaregang _Aneka produk kerajinan kulit Sukaregang menunjukkan keragaman dan kualitas._

Alat penyamakan kulit _Beberapa peralatan penyamakan kulit, menunjukkan sebagian proses produksi._

Produk kulit dijual dengan harga terjangkau _Beragam produk dari kulit yang ditawarkan di Sukaregang._

Toko online bersaing dengan pasar tradisional _Tantangan persaingan digital mendorong inovasi pemasaran bagi perajin lokal._