Transformasi di Balik Tembok: Program Beasiswa UTB Buka Jalan Pendidikan Tinggi untuk Warga Binaan Lapas Banceuy
UTB menjadi kampus pertama di Bandung yang menyediakan beasiswa penuh bagi warga binaan Lapas Banceuy, melengkapi program dengan pelatihan softskill dan digitalisasi tata kelola untuk mempercepat reintegrasi sosial.

Membuka Selimut Baru: Pendidikan Tinggi untuk Narapidana
Bandung—Pendidikan tinggi bukan lagi mimpi yang mustahil bagi warga binaan Lapas Kelas IIA Banceuy. Universitas Teknologi Bandung (UTB) menepis anggapan bahwa narapidana tidak berhak mengakses bangku kuliah. Melalui perjanjian kerja sama (PKS) yang ditandatangani Kamis, 12 Februari 2026, UTB memperkenalkan program beasiswa penuh khusus penghuni lapas. Langkah ini sekaligus menjadikan UTB sebagai perguruan tinggi pertama di Kota Kembang yang menjejakkan misi inklusif hingga ke balik tembok penjara.
"Pendidikan harus menjadi jembatan transformasi bagi siapa saja, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan," tegas Rektor UTB, Muchammad Naseer.
Dari Tindak Pidana Terorisme hingga Akses Kuliah: Narasi Perubahan
Momentum penandatanganan PKS berbarengan dengan upacara Ikrar Setia NKRI oleh narapidana kasus terorisme. Perpaduan simbolik ini menegaskan bahwa negara tetap menjamin hak sipil warga binaan—termasuk hak belajar—sekaligus menumbuhkan rasa kebangsaan yang lebih konstruktif. Eris Ramdani, Kepala Lapas Banceuy, menyebut kejadian sebagai "terobosan progresif" yang menumbuhkan harapan baru.
Tiga Pilar Kolaborasi: Pendidikan, Pelatihan, dan Teknologi
Kerja sama UTB–Lapas Banceuy tidak sekadar menyediakan beasiswa S-1, melainkan menyusun ekosistem pembelajaran holistik:
- Pendidikan formal: kuota khusus bagi warga binaan yang memenuhi syarat akademik
- Pelatihan softskill: keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan wirausaha
- Pengembangan sistem informasi: digitalisasi tata kelola lapas untuk efisiensi pembinaan
Kombinasi ketiga elemen ini diharapkan mempercepat reintegrasi sosial, sehingga eks-narapidana memiliki bekal kompetitif saat kembali ke masyarakat.
Menyisir Tantangan: Mengapa Baru Sekarang?
Data Kemenkumham Jabar menunjukkan bahwa kurang dari 2% warga binaan di wilayah ini yang mengenyam pendidikan tinggi selama masa hukuman. Ishadi Maja Prasetiyo, Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan, mengungkap tiga kendala klasik:
- Keterbatasan anggaran pembinaan
- Minimnya kampus yang membuka pintu inklusi
- Stigma sosial yang masih mengakar
Kehadiran UTB dianggap sebagai katalisator yang bisa mendorong perguruan tinggi lain mengikuti jejak serupa.
Mengeja Manfaat Jangka Panjang
Dampak ekonomi dari program ini menarik untuk disimak. Studi Lembaga Kajian Pemberdayaan Hukum (2025) mencatat bahwa narapidana yang berhasil meraih gelar akademik memiliki peluang 73% lebih besar untuk tidak mengulangi tindak pidana. Sementara itu, biaya produktivitas masyarakat akibat kejahatan bisa ditekan hingga Rp1,2 miliar per tahun jika angka residivisme turun 10%.
Apa yang Akan Terjadi Setelah Ini?
Untuk memperkuat komitmen, UTB dan Lapas Banceuy merencanakan Upacara Hari Bhakti Pemasyarakatan pada 27 April 2026 yang akan dipusatkan di kampus UTB. Acara ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi program beasiswa agar meluas ke lapas-lapas lain di Jawa Barat.
Langkah Praktis bagi Warga Binaan
Pendaftaran beasiswa akan dibuka setiap semester genap melalui mekanisme berikut:
- Seleksi administrasi: rapor Dikdas & Dikmen, surat rekomendasi petugas pembina
- Tes motivasi & wawancara: menilai komitmen belajar dan rencana pasca bebas
- Pembebasan bersyarat: bagi peserta yang menunjukkan progress akademik memuaskan
Tim dosen pendamping akan tetap memberikan bimbingan akademik hingga lulus, termasuk akses perpustakaan digital dan kelas daring.
Menutup Lingkar, Membuka Cakrawala
Inisiatif UTB menegaskan bahwa investasi terbaik bagi bangsa adalah pendidikan, bahkan bagi mereka yang pernah melenceng. Dengan membuka akses pendidikan tinggi, negara tidak hanya memproduksi lulusan baru, tetapi juga menumbuhkan warga negara yang lebih berdaya. Ke depan, masyarakat berhak menantikan bukan sekadar pembangunan fisik lapas, melainkan transformasi manusia yang berkelanjutan.