Tragedi KDMP: Tiga Calok Manajer Meninggal, Desakan Investigasi Makin Kuat
Tiga calon manajer KDMP meninggal saat pelatihan militer. Imparsial desak investigasi dan nilai pendekatan militer tidak cocok untuk warga sipil, desak penghentian program serupa.

Tragedi kematian tiga orang calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) mengkhawatirkan. Organisasi masyarakat sipil Imparsial menegaskan bahwa pendekatan pelatihan militer untuk warga sipil menyimpan risiko besar yang tidak bisa diabaikan.
Imparsial Desak Investigasi dan Penegakan Hukum
Ardi Manto Adiputra, Direktur Imparsial, menyampaikan bahwa kematian ketiga peserta latihan dasar militer ini menunjukkan lemahnya sistem perlindungan peserta pelatihan. Organisasi ini mendesak dilakukan investigasi menyeluruh dan penegakan hukum terhadap pelaku serta struktur komando penanggung jawab program.
Baca Juga: Tom Rahill Tangkap 96 Piton di Florida, Raih Rp 179 Juta dari Kompetisi Berburu
"Tidak ada hubungan sama sekali antara profesionalisme kerja menjalankan tugas koperasi dengan pelatihan militer," tegas Ardi.
Imparsial menilai hilangnya nyawa di bawah kendali panitia seleksi dan penyelenggara pelatihan merupakan tanggung jawab yang harus dijawab secara hukum.
Risiko Pendekatan Militer bagi Sistem Manajemen Sipil
Ardi menjelaskan bahwa pelibatan TNI dalam pelaksanaan program KDMP sangat tidak tepat. Selain bertentangan dengan UU TNI terkait operasi selain perang, pendekatan militer ini dinilai berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis dan inovatif masyarakat sipil.
Beberapa dampak yang dikhawatirkan:
- Menutup ruang dialog partisipatif yang sudah berjalan dalam sistem kepemimpinan demokratis
- Menggantinya dengan pendekatan otoritatif dan patuh terhadap perintah komando
- Cenderung menggunakan pendekatan keamanan atau koersif dalam penyelesaian masalah
"Pendidikan militer sangat tidak tepat untuk diaplikasikan dalam membangun sistem manajerial organisasi sipil," tegas Ardi.
Catatan Penting dari Pengalaman Jawa Barat
Imparsial menyoroti bahwa Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya pernah menerapkan pendidikan barak militer untuk anak-anak nakal. Organisasi ini telah mengkritik pendekatan tersebut karena tidak tepat untuk mengatasi kenakalan remaja.
Menurut Ardi, nilai-nilai dominan dalam lingkungan militer seperti kepatuhan, komando, dan hierarki dapat mengikis nilai-nilai penting bagi masyarakat sipil:
- Critical thinking
- Kreativitas
- Kebebasan berpikir
- Ruang untuk berargumentasi
Kabar baiknya, program tersebut akhirnya dihentikan hingga saat ini.
Desakan Penghentian Program
Imparsial menegaskan bahwa program KDMP sudah cacat sejak awal dan sebaiknya dihentikan sebelum ada konsep yang matang mengikuti prinsip-prinsip budaya organisasi masyarakat sipil.
"Semua program pemerintah yang dijalankan dengan menggunakan pendekatan militer sebaiknya dihentikan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)," tegas Ardi.
Tragedi ini menjadi peringatan penting bahwa pendekatan militer tidak cocok diterapkan secara serampangan untuk warga sipil. Diperlukan konsep pelatihan yang memperhatikan karakteristik dan kebutuhan spesifik organisasi berbasis masyarakat.
(E-4)