TB Resisten Obat Serang Tasikmalaya: 18 Pasien dari 1.239 Kasus Positif
1.239 warga Tasikmalaya positif TB, 18 di antaranya alami resistensi obat. Dinkes imbau masyarakat terapkan PHBS dan deteksi dini.

Lonjakan Kasus Tuberkulosis di Tasikmalaya
Kota Tasikmalaya menghadapi situasi serius terkait penyebaran penyakit tuberkulosis. Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 1.239 warga positif TB, dengan 18 orang di antaranya terjangkit varian yang lebih mematikan, yaitu TB Resisten Obat (RO) atau multidrug resistant tuberculosis.
Angka tersebut diperoleh dari hasil skrining masif yang dilakukan secara menyeluruh di wilayah Kota Tasikmalaya. Meningkatnya kasus ini menjadikan penyakit bakteri menular tersebut sebagai tantangan kesehatan publik yang memerlukan perhatian khusus.
Apa Itu TB Resisten Obat?
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang menyerang paru-paru dan dapat menyebar melalui percikan dahak saat penderita batuk atau bersin. Penularannya yang mudah menjadikan penyakit ini sebagai salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.
Namun, bagi pasien TB RO, penanganannya jauh lebih kompleks. Bakteri penyebab sudah mengalami kebal terhadap minimal dua jenis antibiotik lini pertama, yaitu isoniazid dan rifampicin.
Baca Juga: Damkar Kota Sukabumi Tangani 130 Kasus Ular Sepanjang Paruh Pertama 2026
"Kasus TB RO ditandai dengan kondisi penderita yang tidak kunjung membaik, bahkan bertambah parah, meskipun sudah menjalani pengobatan rutin selama enam bulan," jelas Suryaningsih.
Penyebab Utama Munculnya Resistensi Obat
Resistensi obat terjadi ketika pasien tidak menyelesaikan pengobatan secara tuntas. Banyak penderita yang merasa sudah sembuh sebelum masa terapi selesai, kemudian menghentikan konsumsi obat secara mandiri. Kondisi inilah yang kemudian memicu bakteri bermutasi dan menjadi kebal terhadap antibiotik.
Saat ini, 18 pasien TB MDR di Tasikmalaya tengah menjalani penanganan intensif dengan pendekatan khusus. Pengobatan mereka memerlukan waktu lebih panjang serta kombinasi obat yang berbeda dari pasien TB biasa.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Batuk berlangsung lebih dari dua minggu
- Demam berkepanjangan
- Penurunan berat badan drastis
- Batuk disertai darah
- Nyeri dada dan sesak napas
Upaya Penanggulangan Dinkes Tasikmalaya
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya terus mengintensifkan upaya pencegahan dan pengendalian TB di wilayahnya. Berbagai langkah yang dilakukan meliputi:
- Skrining masif untuk menemukan kasus baru sedini mungkin
- Pengobatan intensif menggunakan kombinasi isoniazid dan rifampicin
- Pemantauan ketat terhadap pasien TB RO
- Peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit ini
Data menunjukkan bahwa kelompok usia produktif dan lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap penularan TB.
Imbauan untuk Masyarakat
Pemerintah daerah melalui Dinkes Tasikmalaya berkomitmen untuk menekan penyebaran penyakit ini. Masyarakat diimbau untuk:
- Memakai masker saat berada di tempat umum atau saat batuk
- Menghindari kontak langsung dengan penderita TB
- Menjaga pola makan yang seimbang dan bergizi
- Rajin berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh
- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Kedisiplinan pasien dalam menuntaskan pengobatan menjadi kunci utama pencegahan resistensi obat. Dengan pemahaman yang baik dan kerja sama semua pihak, diharapkan penyebaran TB dan TB RO di Tasikmalaya dapat terus ditekan.
Masyarakat yang mengalami gejala serupa disarankan untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.