Taman Film Pasopati Bandung: Ironi Ruang Publik Terlupakan yang Rusak
Taman Film Pasopati Bandung, ruang publik bioskop terbuka yang dulunya populer, kini terabaikan dengan layar mati, rumput terkelupas, dan sampah berserakan. Warga khawatir ruang rekreasi murah ini akan hilang selamanya.

Suasana Senja di Bawah Kolong Pasopati
Ketika matahari perlahan meredup di langit Bandung, goresan jingga cahaya terhalang oleh beton raksasa Jembatan Mochtar Kusumaatmadja, lebih dikenal sebagai Jembatan Pasopati. Di bawahnya, keriuhan kecil pecah di tengah hiruk pikuk lalu lintas di atas: suara tawa anak-anak bercampur dengan aroma jajanan buka puasa yang menggugah selera. Ini adalah Taman Film Pasopati, oase beton yang masih dijadikan pilihan warga untuk ngabuburit, meskipun kondisinya kini memprihatinkan.
Sejarah dan Tujuan Awal Pembangunan
Taman Film Pasopati diresmikan pada tahun 2014 selama masa jabatan Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung. Ruang publik ini awalnya dirancang sebagai bioskop terbuka untuk rakyat, dengan layar raksasa berukuran 4x8 meter yang bisa menampilkan film atau video untuk warga tanpa dipungut biaya apapun. Selain area bermain anak, taman ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung untuk keluarga yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan harga terjangkau.
Kondisi Kini yang Memprihatinkan
Namun, seiring berjalannya waktu, Taman Film Pasopati kehilangan sentuhan perawatan rutin. Layar bioskop raksasa yang dulunya menjadi daya tarik utama kini membisu, tanpa sinyal proyektor yang menampilkan konten apapun. Rumput sintetis yang dahulu empuk dan bersih kini banyak yang terkelupas, menganga dan terlihat kusut. Aroma pesing sesekali menusuk hidung, bersaing dengan bau knalpot kendaraan di jalan raya di atasnya. Sampah plastik pun terkadang masih berserakan di sekitar taman, seolah tempat sampah yang disediakan hanya menjadi hiasan belaka. Mural-mural yang dahulu berwarna-warni juga mulai pudar akibat polusi dan usia.
Persepsi Warga tentang Taman Film
Banyak warga yang masih datang ke Taman Film Pasopati meskipun kondisinya tidak sebaik dulu. Erni, warga Lembang yang datang dengan buah hatinya yang masih batita, rela menempuh perjalanan jauh sejak pukul 15.00 WIB hanya untuk menikmati hiburan murah meriah.
"Ke sini sudah beberapa kali. Ada playground-nya, pas buat anak. Jajanan buat buka puasa juga banyak di sekitar sini," kata Erni.
Bagi Erni, Taman Film Pasopati adalah jawaban bagi orang tua yang ingin menyenangkan anak tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Sementara itu, Boy (48), warga Sekeloa, Coblong, Kota Bandung, juga sering datang ke taman ini bersama anak dan cucunya. Dia mengakui bahwa suasananya tenang dan tidak se ramai Alun-alun Bandung atau Jalan Braga. Namun, dia juga menampik rasa prihatinnya melihat kondisi taman yang semakin memburuk.
"Saya sering melihat pengunjung yang masih abai, tetap memakai sepatu saat menginjak rumput sintetis, sehingga mempercepat kerusakan karpet hijau itu," ujar Boy.
Boy menambahkan bahwa harapannya adalah Taman Film Pasopati ini segera diperhatikan kembali, dijaga, dan layarnya dihidupkan lagi sebelum benar-benar mati suri. Dia bergegas pulang menjelang waktu berbuka puasa setelah selesai bermain bersama cucunya.
Ironi di Balik Oase Beton Ini
Ironinya, Taman Film Pasopati dulunya dijadikan model ruang publik yang ramah keluarga dan terjangkau untuk semua kalangan. Namun, sekarang, ruang yang dirancang untuk menghibur rakyat ini terabaikan dan dibiarkan rusak. Meskipun banyak warga yang masih memanfaatkan taman ini untuk ngabuburit, kurangnya perawatan membuatnya tidak layak untuk digunakan sebagai ruang publik. Revitalisasi terakhir taman ini dilakukan pada tahun 2015, dan sejak saat itu, tidak ada perawatan besar yang dilakukan untuk menjaga fasilitasnya.