Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Super Flu di Bandung: Wali Kota Imbau Tetap Tenang Meski Ada Kematian Pasien

Bandung · Oleh Salsa Maharani · · Diperbarui 2 Maret 2026

Wali Kota Bandung mengimbau warga tetap tenang menghadapi isu "Super flu" meski ada kematian pasien di RSHS. Kematian tersebut terkait komorbid berat. Prioritaskan gaya hidup sehat dan waspada, sambil menunggu informasi resmi dari pemerintah.

Super Flu di Bandung: Wali Kota Imbau Tetap Tenang Meski Ada Kematian Pasien

Super Flu di Bandung: Antara Kewaspadaan dan Ketenangan Publik

Isu mengenai "Super flu" akhir-akhir ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat, khususnya di Kota Bandung. Kendati belum ada laporan resmi mengenai kasus "Super flu" yang terkonfirmasi, Wali Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyikapi informasi yang beredar dengan rasionalitas serta data medis yang akurat.

Fakta di Balik Kematian Pasien RSHS Bandung

Pernyataan ini muncul menyusul kabar duka meninggalnya seorang pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang diduga terinfeksi "Super flu". Namun, Wali Kota menegaskan bahwa pasien tersebut diketahui memiliki komorbid berat, yakni penyakit penyerta berisiko tinggi. “Pasien yang diduga itu memiliki penyakit penyerta serius seperti gangguan jantung, diabetes melitus, dan penyakit degeneratif lainnya. Jadi, ini perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kepanikan,” jelasnya.

Fakta ini penting untuk ditekankan agar masyarakat tidak terbawa kepanikan massal. Kematian pasien dengan komorbid yang parah tidak serta merta dapat diatributkan sepenuhnya pada satu jenis infeksi tanpa analisis medis yang mendalam.

Prioritaskan Gaya Hidup Sehat untuk Kekebalan Tubuh

Bagi masyarakat yang tidak memiliki riwayat penyakit penyerta, langkah paling krusial saat ini adalah memperkuat daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan, bukan terjebak dalam ketakutan berlebihan. “Selama kita sehat dan tidak memiliki penyakit degeneratif, tidak perlu panik. Jaga pola hidup sehat, makan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga,” tutur Wali Kota, menekankan pentingnya preventif melalui gaya hidup sehat.

"Pencegahan terbaik dimulai dari diri sendiri. Pola hidup sehat adalah kunci untuk menghadapi berbagai ancaman penyakit, termasuk 'Super flu'."

Ini sejalan dengan rekomendasi kesehatan global yang selalu menempatkan gaya hidup sehat sebagai fondasi imunitas tubuh yang kuat, terlepas dari ancaman virus musiman maupun global.

Vaksinasi Flu: Opsi Pencegahan Mandiri

Sebagai langkah pencegahan tambahan, Wali Kota juga menyebutkan opsi vaksinasi flu bagi masyarakat yang memiliki kemampuan finansial. Beberapa jenis vaksin flu, termasuk vaksin dengue, tersedia secara mandiri di klinik-klinik tertentu. “Di Bio Farma tersedia vaksin flu dan vaksin dengue. Ini bukan program pemerintah, jadi memang berbayar. Tapi bagi yang ingin, silakan langsung datang ke klinik Bio Farma,” imbuh beliau. Ini memberikan alternatif bagi individu yang ingin mengambil langkah proaktif untuk melindungi diri.

Koordinasi dan Informasi Akurat dari Pemerintah

Pemerintah Kota Bandung memastikan akan terus berkoordinasi erat dengan fasilitas kesehatan dan pemerintah pusat untuk memantau perkembangan isu kesehatan ini. “Kami akan menyampaikan informasi resmi dan akurat. Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan tapi tetap waspada dan disiplin menjaga kesehatan,” pungkasnya.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Reemerging (Pinere) RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa ada seorang pasien lansia dengan gejala "Super flu" yang meninggal dunia, namun pasien tersebut diketahui memiliki multi-komorbid atau penyakit penyerta yang berat. Dr. Yovita menjelaskan, penyakit bawaan pada pasien tersebut masuk kategori berat, sehingga belum dapat dipastikan apakah kematiannya disebabkan oleh "Super flu" atau komplikasi dari penyakit bawaannya.

"Penyakit bawaan pada pasien yang meninggal tersebut yakni stroke dan gagal jantung. Terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan, karena memang dia mungkin komorbid yang banyak," papar dr. Yovita.

Saat ini, RSHS Bandung merawat 10 pasien yang menunjukkan gejala "Super flu", dengan rentang usia beragam mulai dari 20-60 tahun, dua bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun, serta seorang anak usia 11 tahun. Dua di antaranya berada dalam kondisi serius, dengan satu pasien di ruang high care dan satu lagi di ruang intensif yang kemudian meninggal dunia karena komorbid berat.

Situasi ini menggarisbawahi pentingnya tidak panik namun tetap waspada, serta mengandalkan informasi dari sumber resmi. Edukasi publik mengenai kesehatan dan peran komorbid dalam keparahan penyakit menjadi kunci dalam menghadapi isu-isu kesehatan yang berkembang.