Tim Sekolah Vokasi Unpad Ciptakan Dekomposer Asem7, Ubah Limbah Organik jadi Kompos dalam 2-4 Minggu
Tim Sekolah Vokasi Unpad menciptakan Asem7, dekomposer berbasis tujuh mikroba fungsional yang mengubah limbah organik jadi kompos dalam 2-4 minggu, lebih cepat dari produk sejenis.

Sisa sayur yang biasanya dibuang ke tempat sampah kini bisa berubah jadi pupuk untuk tanaman. Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran mengembangkan Asem7, dekomposer berbasis tujuh mikroba fungsional yang mempercepat proses penguraian limbah organik menjadi kompos.
Asem7 merupakan hasil kolaborasi riset antara Sekolah Vokasi Unpad dengan PT Akselagro Gain Energi. Produk ini diformulasikan agar mikroba di dalamnya tidak hanya mampu menguraikan bahan organik, tetapi juga tetap stabil selama penyimpanan.
Dosen Program Studi Bisnis Logistik Sekolah Vokasi Unpad, Dr. Rani Sukmadewi, menjelaskan bahwa riset ini awalnya bermula dari kebutuhan akan dekomposer yang lebih efektif dari produk sejenis yang sudah beredar.
Baca Juga: Dispertan Garut Bagikan 2.500 Kg Benih Padi untuk Lahan Puso Akibat Kekeringan
"Riset ini diawali dengan adanya kebutuhan untuk membuat produk yang memiliki efektivitas dengan fungsi produk yang dinilai lebih baik dari produk atau pesaing yang sudah ada di pasaran. Dan juga penelitian ini sebetulnya memang diarahkan ke arah hilirisasi, sehingga memang sejak awal penelitian ini dibentuk," kata Rani.
Pengujian menunjukkan bahwa Asem7 mampu menstabilkan pH kompos pada kisaran 7-8 sejak hari ke-27. Sebagai pembanding, dekomposer EM4 dalam penelitian yang sama baru mencapai kondisi pH stabil pada hari ke-37. Rasio C/N akhir kompos yang dihasilkan berada di rentang 15-25 dan memenuhi standar mutu kompos.
Dengan formulasi tersebut, Asem7 diharapkan bisa membantu menghasilkan kompos dalam waktu sekitar dua hingga empat minggu. Proses ini melibatkan tujuh mikroba fungsional yang bekerja secara sinergis untuk menguraikan bahan organik.
Baca Juga: Banjir Thailand memaksa buaya dan ular memasuki permukiman, satu buaya ditembak mati
Hasil penelitian mengenai Asem7 telah dipublikasikan dalam Journal of Applied Agricultural Science and Technology (JAAST) Vol. 9 No. 2 pada 2025. Penelitian berjudul Acceleration of Organic Waste Decomposition: A Comparative Study of ASEM-7 Decomposer Efficiency on Several Organic Wastes itu menjadi dasar sebelum produk diarahkan ke pemanfaatan lebih luas.
Bagi pembaca muda yang tertarik dengan urban farming atau menanam di rumah dan kos, produk ini bisa jadi alternatif untuk mengelola sisa masakan sendiri. Limbah organik dapur yang biasanya langsung dibuang bisa diolah menjadi kompos untuk memupuk tanaman di rumah.
Target pengguna Asem7 tidak hanya petani dan kelompok tani, tetapi juga pelaku pertanian organik, agribisnis, komunitas, hingga rumah tangga. Pengembangan lebih lanjut juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga pengujian dan sertifikasi, produsen pupuk organik, distributor produk pertanian, kelompok tani, hingga mitra industri.
Rani menilai Asem7 sebagai contoh bagaimana penelitian perguruan tinggi bisa menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Limbah organik yang sebelumnya berakhir sebagai sampah di TPA kini bisa diolah kembali agar memiliki nilai guna.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana teknologi ini bisa benar-benar menjangkau masyarakat dan menjadi bagian dari kebiasaan baru dalam mengelola limbah organik.