Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Strategi Nasional Kemenag: 96 Titik Pantau Hilal untuk Menentukan Awal Ramadhan 1447

Bandung · Oleh Nayla Putri · · Diperbarui 2 Maret 2026

Kemenag pantau hilal di 96 titik, termasuk Bandung, untuk menentukan awal Ramadhan 1447 H dengan metode ilmiah, kolaborasi akademik, dan tantangan cuaca.

Strategi Nasional Kemenag: 96 Titik Pantau Hilal untuk Menentukan Awal Ramadhan 1447

Latar Belakang Pemantauan Hilal Nasional

Pada Selasa, 17 Februari 2026, Kementerian Agama kembali melaksanakan tradisi tahunan rukyatul hilal—pemantauan bulan sabit baru—di 96 lokasi terpilih seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi penentu resmi hari pertama Ramadhan 1447 H, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam menyelaraskan penentuan kalender Islam secara ilmiah dan transparan.

Metode dan Perlengkapan Modern

"Pengamatan hilal tidak hanya soal astronomi, melainkan juga integritas proses keagamaan," ujar salah satu koordinator tim Bandung.

Partisipasi Daerah: Kasus Bandung

Kegiatan di Bandung menonjol karena:

Signifikansi Penentuan Awal Ramadan

  1. Konsistensi Nasional: Dengan 96 titik pantau, pemerintah dapat menghindari perbedaan regional yang selama ini muncul akibat perbedaan cuaca atau kebijakan lokal.
  2. Legitimasi Keagamaan: Hasil yang terverifikasi secara ilmiah memperkuat keabsahan pengumuman Kementerian Agama di mata ulama dan masyarakat.
  3. Dampak Ekonomi: Penetapan tanggal Ramadhan memengaruhi jadwal pasar, transportasi, dan sektor pariwisata halal, sehingga kejelasan waktu menjadi penting bagi pelaku bisnis.

Tantangan yang Dihadapi

Langkah Ke Depan

Kesimpulan

Pemantauan hilal di 96 titik, termasuk observasi di UNISBA Bandung, menegaskan sinergi antara ilmu pengetahuan dan tradisi Islam dalam menentukan awal Ramadhan. Dengan pendekatan yang terstandarisasi, transparan, dan melibatkan komunitas lokal, Kementerian Agama berupaya menyeimbangkan akurasi astronomi dengan kepercayaan masyarakat, sekaligus meminimalisir perbedaan penetapan di tingkat nasional.

Artikel ini disusun untuk memberikan perspektif analitis terhadap proses pemantauan hilal, menekankan pentingnya modernisasi metodologi sekaligus menghormati nilai-nilai keagamaan.