Setelah Banjir Bandang Memutus Akses Jembatan di Nagari Anduriang, Lima Ribuan Warga Bergantung pada Satu Rakit Drum
Warga Nagari Anduriang Kecamatan 2×11 Kayutanam Padang Pariaman mengandalkan rakit drum swadaya dan menunggu jembatan darurat serta permanen setelah jembatan tunggal mereka hancur akibat banjir bandang November 2025.

Rakit Swadaya Drum dan Jembatan Darurat: Memulihkan Akses Warga Nagari Anduriang Padang Pariaman
Pada Rabu, 4 Februari 2026, rakit penyeberangan buatan warga di Korong Lubuakaua, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayutanam, Padang Pariaman, tampak terus beroperasi sejak pagi hingga malam. Ribuan warga antre untuk menggunakan rakit ini, yang menjadi satu-satunya akses bagi mereka setelah jembatan tunggal penghubung ke pusat kecamatan dan jalan nasional Padang-Bukittinggi hancur akibat banjir bandang pada November 2025. Foto: Aris Prima G/PadekI
Kondisi Akses yang Terkoyak Pasca Bencana
Sebelum bencana, jembatan tersebut menjadi jalur utama bagi warga empat korong di Nagari Anduriang untuk beraktivitas di luar nagari. Setelah hilangnya jembatan, warga terpaksa membuat rakit penyeberangan swadaya menggunakan drum baja sebagai bahan dasar. Rakit ini dioperasikan dengan tali kawat (sling) yang dipandu oleh satu warga di atas rakit, dengan bantuan warga di kedua sisi sungai untuk meregangkan sling dan membantu penyeberangan. Setiap perjalanan rakit hanya dapat mengangkut dua sepeda motor dan sekitar lima orang, dengan jadwal operasi dari pukul 6 pagi hingga 11 malam.
Peran Sukarela Warga dalam Mengelola Layanan
Salah satu sukarelawan yang mengoperasikan rakit adalah On Hendri, 64 tahun, mantan Kepala Korong Lubuakaua. Ia mengatakan bahwa tim sukarelawan tidak memungut biaya untuk menggunakan rakit, namun warga dapat memberikan sumbangan secara sukarela untuk menutupi biaya minum para sukarelawan dan kebutuhan lain terkait bencana.
"Kalau tidak ada rakit ini, sudah lumpuh total akses warga di sini. Makanya, warga inisiatif membuat rakit," ujar On Hendri.
Deni Yunanda, 34 tahun, seorang guru SD yang tinggal di Nagari Katapiang, mengatakan bahwa ia sangat terbantu dengan keberadaan rakit ini. Ia harus bolak-balik antara rumah orangtuanya di Nagari Anduriang dan rumah istrinya di Nagari Katapiang setiap hari.
"Kalau cuaca buruk tidak mungkin ke Katapiang. Sebab rakit tidak dapat beroperasi," tambahnya.
Deni menambahkan bahwa rakit ini tidak hanya membantu aktivitas ekonomi, tetapi juga pendidikan dan layanan pemerintah bagi warga di empat korong tersebut.
Keterbatasan Rakit dan Upaya Membangun Jembatan Darurat
Meskipun membantu, sistem rakit memiliki keterbatasan. Saat ini, hanya ada dua rakit, tetapi hanya satu tali sling yang tersedia, yang dipinjam dari kepolisian. Salah satu rakit juga merupakan bantuan dari kepolisian, yang kemudian dimodifikasi oleh warga untuk meningkatkan kinerjanya. Rinaldi Azhar, Kepala Korong Lubuakaua, mengatakan bahwa sekitar 5.000 warga dari empat korong (Sipisangsipinang, Lubuaknapa, Kampuangtangah, dan Lubuakaua) bergantung pada akses ini. Untuk memperbaiki situasi, warga bersama TNI AD, AL, dan Ormas Aksi Solidaritas Piaman Laweh (Aspila) sedang membangun jembatan darurat swadaya menggunakan pondasi batu ronjong dan alas atas dari potongan pohon kelapa. Meskipun demikian, jembatan darurat ini masih berada di tengah aliran sungai Batang Anai, sehingga tetap rentan terhadap kerusakan jika terjadi hujan lebat dan sungai meluap.
Harapan untuk Jembatan Permanen
Untuk mengatasi masalah jangka panjang, tim survei dari PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) telah melakukan pengecekan di lokasi untuk pembangunan jembatan permanen, yang direncanakan akan dimulai tahun ini. Alat berat juga sudah tiba di lokasi untuk mengatur aliran sungai dan mempersiapkan pembangunan. On Hendri berharap bahwa proyek jembatan permanen ini tidak tertunda, mengingat akses ini adalah satu-satunya urat nadi ekonomi warga di nagari tersebut. Ia menambahkan bahwa rakit swadaya mungkin masih akan digunakan meskipun jembatan darurat selesai, mengingat jumlah warga yang cukup banyak yang keluar masuk setiap hari.
"Ini satu-satunya akses. Satu-satunya urat nadi ekonomi warga di sini. Semoga menjadi prioritas utama," tukas On Hendri.
Artikel ini diperbarui pada Minggu, 8 Februari 2026, 13:29 WIB