Satu Tahun Farhan di Bandung: Fokus Perkuat Layanan Publik Dasar
Satu tahun kepemimpinan Muhammad Farhan sebagai Wali Kota Bandung fokus pada perbaikan layanan dasar publik, event berkelanjutan, dan transparansi pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

Setelah satu tahun menjalani jabatan sebagai Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memfokuskan kepemimpinannya pada perbaikan layanan dasar publik yang langsung dirasakan oleh warga, alih-alih hanya mengandalkan gagasan besar atau program yang terdengar menarik. Kepemimpinannya yang dimulai pada 20 Februari 2025 ini dihadapkan pada dinamika kota yang kompleks, namun Farhan menekankan bahwa langkah awalnya adalah mendengar dan menyesuaikan arah kebijakan berdasarkan pengalaman sehari-hari warga.
Perspektif Farhan Tentang Kepemimpinan di Bandung
Farhan mengakui bahwa Bandung adalah kota dengan energi besar, kreativitas tinggi, dan ekspektasi publik yang tinggi. Dalam setahun terakhir, ia menyaksikan bagaimana warga menyampaikan harapan, kritik, bahkan kekecewaan secara langsung maupun melalui ruang digital, dan ia menerima semua itu sebagai bagian dari demokrasi kota yang hidup.
"Dalam setahun terakhir, saya melihat bagaimana warga Bandung menyampaikan harapan, kritik, bahkan kekecewaan mereka, baik secara langsung maupun melalui ruang digital. Semua itu saya terima sebagai bagian dari demokrasi kota yang hidup," ujar Farhan.
Ia menegaskan bahwa sejak awal, ia berkomitmen untuk menjaga ruang bagi warga menyampaikan pendapat, termasuk kritik, tetap terbuka. Tugas pemerintah, menurutnya, adalah memastikan suara-suara itu tidak berhenti di keluhan, tetapi dijawab dengan perbaikan nyata.
Layanan Dasar Sebagai Prioritas Utama
Farhan menekankan bahwa memimpin Bandung tidak cukup dengan gagasan besar. Yang paling dirasakan warga adalah hal-hal yang hadir setiap hari: sampah yang terkelola, jalan yang tertata, parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang ramah, serta pelayanan publik yang responsif.
"Dari berbagai isu yang mewarnai perjalanan satu tahun ini, saya belajar bahwa memimpin Bandung tidak cukup dengan gagasan besar atau program yang terdengar menarik. Yang paling dirasakan warga justru hal-hal yang hadir setiap hari, sampah yang terkelola, jalan yang tertata, parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang kembali ramah, serta pelayanan publik yang responsif," tambahnya.
Kritik yang disampaikan warga, menurutnya, hampir selalu berangkat dari pengalaman nyata dalam keseharian mereka. Karena itu, ia memilih untuk tidak memandang kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa kehadiran pemerintah harus benar-benar terasa dalam kehidupan warga.
Pendekatan Event Bandung yang Berkelanjutan
Bandung seringkali dijuluki sebagai kota event, yang dapat menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya, dan menarik wisatawan. Namun, julukan ini juga menyertai kritik, seperti kemacetan, sampah pasca-acara, dan pertanyaan tentang manfaat jangka panjang bagi warga. Farhan memahami kritik tersebut dan menegaskan bahwa ke depan, setiap event di Kota Bandung harus memenuhi standar yang lebih jelas.
"Tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berdampak. Dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan. Dengan pendekatan ini, event tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kualitas hidup warga," jelasnya.
Pengelolaan Sampah dan Revitalisasi Ruang Publik
Di sisi lain, Farhan juga mencermati isu seperti sampah, tata kota, dan ruang publik yang mungkin tidak selalu menjadi berita utama, tetapi inilah wajah pemerintahan yang paling dekat dengan keseharian masyarakat. Dalam satu tahun ini, ia mulai menata ulang pendekatan pengelolaan sampah, memperbaiki infrastruktur dasar, dan merevitalisasi ruang publik agar kembali menjadi milik bersama.
"Saya tidak akan mengatakan bahwa semua persoalan telah selesai. Belum. Namun arah kebijakannya jelas. Bandung harus nyaman dihuni sebelum indah dipromosikan. Kota ini tidak boleh hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga adil bagi warganya sendiri," tandasnya.
Farhan juga menyatakan bahwa tahun pertama kepemimpinannya juga menjadi pengingat bahwa membangun kota tidak pernah lepas dari ujian. Di tengah kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat diuji oleh berbagai dinamika yang menyentuh aspek etika dan integritas pemerintahan. Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak boleh bersikap defensif, tetapi juga tidak boleh gegabah.
"Prinsip yang dipegang sederhana, menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi dan memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa gangguan. Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul," tandasnya.
Transparansi dan Keterbukaan untuk Membangun Kepercayaan
Farhan menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak bisa dibangun dengan retorika. Ia tumbuh dari keterbukaan dan konsistensi. Karena itu, pihaknya berupaya memperkuat transparansi, termasuk dalam pengelolaan anggaran daerah dan pengambilan keputusan publik. Pemerintah kota tidak boleh alergi terhadap pertanyaan, dan di era digital, kepercayaan dibangun lewat data, penjelasan yang jujur, dan kesediaan untuk dikoreksi.
"Saya memilih kata "merawat" untuk menggambarkan arah kepemimpinan Kota Bandung. Kota bukan sekadar kumpulan proyek, melainkan ruang hidup bersama. Merawat berarti memperhatikan yang kecil, mendengar yang lemah dan memperbaiki yang rusak, sedikit demi sedikit tetapi konsisten," sambungnya.
Tahap Belajar dan Ajakan Bersama-sama Merawat Bandung
Satu tahun pertama jabatan Farhan, menurutnya, adalah fase belajar dan menata fondasi. Tahun-tahun berikutnya harus menjadi fase mempercepat, dengan komitmen pada layanan publik yang manusiawi, lingkungan yang lestari, ekonomi yang inklusif, dan tata kelola yang bersih. Farhan menekankan bahwa Bandung tidak akan pernah selesai oleh wali kota dan jajaran pemerintah saja. Kota ini hidup dan bergerak karena warganya. Karena itu, dirinya mengajak seluruh warga Bandung untuk terus terlibat, mengawasi, dan menjaga kota ini bersama-sama. Satu tahun ini bukan tentang klaim keberhasilan, melainkan tentang tanggung jawab untuk terus belajar.
"Bandung yang kita cintai bukan hanya warisan, tetapi titipan bagi generasi berikutnya. Tugas kita hari ini adalah merawatnya bersama agar Bandung benar-benar tumbuh sebagai kota UTAMA, unggul dalam kualitas hidup, terbuka dalam tata kelola, amanah dalam kepemimpinan, terus bergerak maju, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan yang hidup di tengah warganya," tegas Farhan.