Sambut Ramadan, Santri Tunanetra Sam’an dan Jurig Bandung Ajak Warga Berantas Buta Huruf Al-Quran
Kegiatan sosial kreatif 'Buka Mata' di Jalan Asia-Afrika Bandung digelar untuk menyambut Ramadan, dengan menggabungkan seni dan pesan literasi Quran.

Aksi 'Buka Mata' di Bandung: Rayakan Ramadan dengan Sentuhan Kreatif
Di tengah rintik hujan yang menyelimuti kawasan bersejarah Jalan Asia-Afrika, Bandung, sebuah aksi sosial kreatif menghadirkan kehangatan dan senyum para pengunjung. Kegiatan bertajuk "Buka Mata" digelar oleh Pesantren Tunanetra Sam’an di bawah naungan Cinta Quran Foundation bersama Komunitas Jurig Bandung, sebagai ikhtiar menyambut bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari.
Deteksi Aksi: Sosok Hantu dan Santri Tunanetra Berjajar
Para santri tunanetra beserta anggota Komunitas Jurig Bandung berdiri berjajar sambil membawa letter board berisi kutipan-kutipan jenaka. Berbeda dari ekspektasi, sosok "hantu" yang diperankan komunitas tidak bertujuan menakut-nakuti, melainkan menggelitik kerinduan warga Bandung dan wisatawan terhadap suasana Ramadan yang penuh makna.
Sosok hantu tersebut merepresentasikan godaan setan yang kerap menjerumuskan manusia ke perbuatan maksiat. Sementara kehadiran para santri tunanetra menjadi simbol datangnya bulan suci Ramadan, di mana menurut hadis populer di kalangan umat Islam, Allah membelenggu setan-setan sehingga manusia lebih dimudahkan untuk mendekatkan diri kepada kebaikan. Adegan ini kemudian menunjukkan bagaimana "setan" itu lari terbirit-birit saat santri hadir, menyampaikan pesan lembut tentang pentingnya menjauhi godaan dan mendekatkan diri kepada Al-Quran.
Makna di Balik Nama "Buka Mata"
Tajuk "Buka Mata" dipilih bukan tanpa alasan. Di balik keceriaan aksi tersebut, terdapat pesan mendalam mengenai realita umat Muslim di Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari Institut Ilmu Quran (IIQ) tahun 2024, sebanyak 72,25% Muslim di Indonesia belum bisa membaca Al-Quran. Hal ini menjadi dasar mengapa Cinta Quran Foundation menggelar aksi ini, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi Quran.
"Saya ingin mengajak masyarakat untuk 'membuka mata' hati. Meskipun santri-santri kami memiliki keterbatasan penglihatan fisik, semangat mereka untuk meraih keberkahan dan cinta dari Quran tidak pernah padam. Ironis jika kita yang memiliki penglihatan sempurna justru belum bisa membaca kalam-Nya," ujar Fikar, salah satu koordinator lapangan dari Cinta Quran Foundation dalam wawancara eksklusif.
Komitmen Menyebarkan Syiar Quran
Meski sempat diguyur hujan, semangat para santri dan anggota komunitas tidak surut. Langkah ini merupakan bentuk komitmen Cinta Quran Foundation sebagai lembaga terdepan dalam mensyiarkan Al-Quran, dengan visi besar mengentaskan buta aksara Quran di seluruh penjuru negeri.
Cinta Quran meyakini bahwa Al-Quran adalah solusi hidup untuk berbagai masalah kehidupan. Oleh karena itu, gerakan ini bertujuan untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat agar bahu-membahu memberikan akses pendidikan Quran bagi mereka yang membutuhkan, termasuk kelompok disabilitas seperti santri tunanetra. Aksi "Buka Mata" adalah salah satu bentuk inovasi untuk mencapai visi tersebut, dengan menggabungkan seni dan kegiatan sosial untuk menjangkau lebih banyak orang.
Aksi ini tidak hanya menghadirkan kehangatan di tengah hujan, tetapi juga memberikan pesan yang mendalam tentang pentingnya literasi Quran dan semangat kebersamaan menyambut bulan suci Ramadan. Banyak pengunjung yang terharu setelah menyaksikan aksi ini, dan beberapa bahkan langsung mendaftar untuk mengikuti kelas belajar Al-Quran yang diadakan oleh Cinta Quran Foundation.