Riset Internasional: Bahaya Kekerasan Verbal pada Anak Setara Kekerasan Fisik untuk Kesehatan Mental
Riset Liverpool John Moores University reveal kekerasan verbal pada anak memiliki dampak kesehatan mental hampir setara kekerasan fisik, dengan risiko 64% lebih tinggi.

Mengapa Kekerasan Verbal Perlu Dipandang Serius?
Banyak orang tua beranggapan bahwa membentak, menghina, atau merendahkan anak merupakan bentuk disiplin yang lazim dilakukan. Namun, penelitian terbaru dari Liverpool John Moores University mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: kekerasan verbal terhadap anak-anak memiliki dampak kesehatan mental jangka panjang yang hampir setara dengan kekerasan fisik.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open ini menganalisis data lebih dari 20.000 orang dewasa di Inggris dan Wales yang lahir sejak tahun 1950-an. Para peneliti menelusuri pengalaman masa kecil partisipan, termasuk paparan terhadap kekerasan fisik maupun verbal, lalu mengaitkannya dengan kondisi kesehatan mental saat dewasa.
Baca Juga: Paman Bacok Keponakan hingga Tewas di Warung Banyuresmi, Ancam 10 Tahun Penjara
Temuan Utama: Risiko Kesehatan Mental Meningkat Drastis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik kekerasan fisik maupun verbal sama-sama meningkatkan risiko seseorang mengalami kesejahteraan mental yang rendah ketika dewasa. Secara spesifik:
- Anak yang mengalami kekerasan fisik memiliki risiko 52% lebih tinggi mengalami kesehatan mental yang buruk saat dewasa
- Anak yang mengalami kekerasan verbal memiliki risiko 64% lebih tinggi mengalami masalah serupa
- Risiko menjadi semakin besar apabila seorang anak mengalami kedua bentuk kekerasan secara bersamaan
"Kekerasan verbal bukan sekadar menyakiti perasaan anak sesaat. Dampaknya terhadap perkembangan otak dan sistem biologis anak bisa bertahan bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut," jelas peneliti dalam laporan studinya.
Kekerasan Verbal sebagai Sumber Stres Beracun
Para ahli menjelaskan bahwa kekerasan verbal dapat menjadi sumber toxic stress atau stres beracun yang memengaruhi perkembangan otak anak. Berbeda dengan kekerasan fisik, luka akibat kata-kata keras sering kali tidak terlihat secara kasat mata, sehingga sering luput dari perhatian.
Baca Juga: Danantara Setuju Tagihan Utang KCIC Ditanggung Kemenkeu, Bukan Lagi di Laporan Investasi
Dalam jangka panjang, pengalaman kekerasan verbal pada masa kecil dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, antara lain:
- Gangguan kecemasan dan perasaan cemas berlebihan
- Depresi dan perasaan sedih berkepanjangan
- Penyalahgunaan alkohol atau narkoba sebagai pelarian
- Perilaku berisiko dan agresi terhadap orang lain
- Penyakit kronis seperti penyakit jantung dan diabetes
Dampak pada Kehidupan Sosial dan Emosional
Penelitian ini juga mengungkap dampak nyata kekerasan verbal terhadap kualitas hidup seseorang di masa dewasa. Dibandingkan dengan individu yang tidak pernah mengalami kekerasan verbal saat kecil, mereka yang mengalaminya cenderung:
- Merasa jarang merasa dekat dengan orang lain
- Lebih berisiko merasa tidak optimistis terhadap masa depan
- Sulit rileks dan merasa tegang secara permanen
- Kurang mampu menghadapi masalah sehari-hari
Tren yang Perlu Diwaspadai
Meskipun kasus kekerasan fisik terhadap anak cenderung menurun, penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan verbal justru semakin meningkat. Kondisi ini menjadikan edukasi kepada orang tua tentang bahaya kata-kata kasar menjadi sangat mendesak.
Langkah Preventif yang Dapat Dilakukan
Bagi orang tua yang ingin menerapkan disiplin tanpa kekerasan, terdapat beberapa pendekatan alternatif yang terbukti efektif:
- Komunikasi terbuka dengan menjelaskan alasan di balik setiap aturan
- Penguatan positif dengan menghargai perilaku baik anak
- Menetapkan batasan yang jelas dengan nada tenang dan konsisten
- Menjadi role model dalam mengelola emosi
- Mencari bantuan profesional jika merasa sulit mengontrol emosi saat mendisiplinkan anak
Penutup
Kekerasan verbal mungkin tidak meninggalkan bekas fisik, namun dampaknya terhadap jiwa anak sangat nyata dan berlangsung jangka panjang. Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya ini, diharapkan orang tua dapat menemukan cara mendisiplinkan anak yang lebih sehat dan konstruktif, tanpa melukai mental maupun emosional mereka.
Membangun lingkungan rumah yang aman secara emosional bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga investasi penting bagi kesehatan mental generasi mendatang.