Program Gaslah Bandung Dapat Apresiasi Menteri LH: Ini Alasanannya
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi program Gaslah Kota Bandung, model pengelolaan sampah berbasis warga dengan pendekatan hulu.

Kunjungan Kerja Menteri LH ke Lokasi Pengelolaan Sampah Warga Bandung
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Hanif Faisol Nurofiq melakukan kunjungan kerja ke sejumlah titik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Bandung. Kunjungan ini menjadi perhatian khusus karena menitikberatkan pada evaluasi program inovatif yang melibatkan langsung warga dalam pengelolaan sampah perkotaan. Salah satu program yang menjadi fokus utama adalah Program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah), yang telah berjalan di beberapa wilayah kota.
Gambar terlampir menunjukkan suasana kunjungan kerja tersebut, yang menyasar area strategis untuk melihat langsung bagaimana program Gaslah beroperasi di lapangan.
Penilaian Menteri LH tentang Pentingnya Pendekatan Hulu
Selama kunjungan, Hanif menekankan bahwa penanganan sampah dari tingkat hulu adalah langkah paling mendasar untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan. Menurutnya, banyak negara membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk menerapkan pendekatan ini secara efektif, sehingga keberhasilan Bandung dalam mengimplementasikannya patut diapresiasi.
"Ini merupakan langkah yang paling mendasar untuk penanganan sampah. Banyak negara memerlukan waktu 10 sampai 15 tahun untuk melakukan hal yang sama," ucap Hanif dalam keterangan persnya.
Menteri LH juga menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), terutama mengingat keterbatasan daya tampung TPA Sarimukti yang saat ini dialami. Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah justru ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat dan kemampuan mereka untuk menangani sampah sejak dari lingkungan tempat tinggal.
"Langkah paling ideal di tengah desakan kedaruratan sampah ini adalah menyelesaikan sampahnya di hulu. Saya juga mengapresiasi konsistensi Pemkot Bandung dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis warga melalui program Gaslah yang melibatkan masyarakat secara langsung," paparnya.
Harapan Menteri untuk Perluasan Program
Hanif berharap bahwa program pengelolaan sampah berbasis warga seperti Gaslah dapat diperluas ke seluruh wilayah Kota Bandung, dengan dukungan dari semua pemangku kepentingan. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan pengelola kawasan sangat penting agar setiap wilayah dapat mengelola sampahnya secara mandiri.
Ia juga menambahkan bahwa sejumlah wilayah di Kota Bandung telah menunjukkan praktik baik dalam pengelolaan sampah berbasis kewilayahan, yang menjadi bagian penting dari upaya pengurangan sampah kota secara berkelanjutan.
"Ternyata Kota Bandung bisa. Banyak RW yang mampu menuntaskan persoalan sampahnya sendiri. Dan pendekatan berbasis komunitas menjadi fondasi utama agar penanganan sampah tidak hanya bergantung pada sistem pengangkutan menuju hilir. Kita percaya penyelesaian sampah di kota tidak bisa dibebankan ke hilir ketika hilirnya tidak memiliki muara. Karena itu penyelesaian di tingkat RW menjadi sangat penting," ungkapnya.
Tindak Lanjut Koordinasi Pusat dan Daerah
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa kunjungan Menteri LH merupakan tindak lanjut dari koordinasi intensif antara pemerintah pusat dan daerah dalam percepatan penanganan sampah di Kota Bandung. Ia menjelaskan bahwa kedua pihak telah melakukan rapat koordinasi nasional (Rakornas) terkait penanganan sampah pada 25-26 Februari 2026, dan kunjungan ini merupakan tindak lanjut langsung dari hasil rapat tersebut.
Selain program Gaslah, Farhan juga mengungkapkan bahwa Pemkot Bandung telah menjalankan program penanganan sampah lain yang telah lama berjalan, yaitu Kang Pisman (singkatan dari Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Saat ini, pemerintah daerah sedang berupaya mengintegrasikan program Kang Pisman dengan program Buruan Sae dan Dapur Dahsat, yang merupakan bagian dari ekosistem program sirkular yang saling menopang satu sama lain.
Lokasi Kunjungan dan Evaluasi Akhir
Selama kunjungan kerja, Hanif menyisir beberapa titik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Bandung, antara lain:
- RW 19 Kelurahan Antapani Tengah
- RW 05 Kelurahan Dago
Kunjungan kemudian ditutup dengan meninjau eks TPA Jelekong di Baleendah, Kabupaten Bandung, yang merupakan lokasi bekas tempat pembuangan sampah yang telah ditinggalkan dan dimanfaatkan kembali.
Kesimpulan dari kunjungan ini adalah bahwa program Gaslah dan inisiatif serupa di Kota Bandung telah berhasil menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga melalui pengolahan dan pemanfaatan sampah menjadi bahan bernilai tambah.