Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Petani Jawa Barat Pakai Benih TANGGUH 77 F1 Hadapi Musim Kemarau 2026

Bandung · Oleh Salsa Maharani ·

Petani di berbagai kabupaten Jawa Barat mengikuti kegiatan temu lapangan untuk mempelajari strategi budidaya menghadapi musim kemarau 2026, termasuk penggunaan benih TANGGUH 77 F1 yang tahan penyakit dan adaptif terhadap cuaca panas.

Petani Jawa Barat Pakai Benih TANGGUH 77 F1 Hadapi Musim Kemarau 2026

Musim kemarau 2026 telah memasuki periode awal di Jawa Barat, menimbulkan risiko kekeringan dan cuaca ekstrem yang dapat mengganggu produktivitas pertanian serta stabilitas pasokan pangan nasional. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah ini mengalami musim kemarau lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga petani perlu mengambil langkah antisipasi dini untuk melindungi tanaman mereka.

Konteks Risiko Musim Kemarau 2026

Kekeringan di musim kemarau 2026 bukan hanya ancaman bagi petani individu, tetapi juga dapat berdampak luas pada sektor pertanian Jawa Barat yang merupakan salah satu pusat produksi hortikultura nasional. Jika tidak diatasi dengan tepat, penurunan produktivitas tanaman dapat menyebabkan kenaikan harga pangan dan gangguan ketahanan pangan di tingkat regional maupun nasional. Oleh karena itu, berbagai inisiatif edukasi dan pelatihan diadakan untuk membantu petani mengadaptasi budidaya dengan kondisi iklim yang berubah.

Kegiatan Temu Lapangan untuk Petani Jawa Barat

Ratusan petani dari berbagai kabupaten di Jawa Barat telah mengikuti kegiatan temu lapangan di sentra produksi hortikultura cabai keriting. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pembelajaran praktis bagi petani, dengan fokus pada strategi budidaya yang efisien di tengah cuaca panas, pengelolaan risiko iklim, dan pemilihan varietas tanaman yang adaptif. Selama acara, para peserta mendapatkan pengetahuan mendalam tentang pengelolaan sumber daya air, pemupukan tepat guna, penentuan waktu tanam yang akurat, serta cara memilih benih yang tangguh di lahan kering.

Fitur Unggul Benih TANGGUH 77 F1

Salah satu inovasi yang menjadi sorotan dalam kegiatan ini adalah benih cabai keriting TANGGUH 77 F1. Varietas hibrida ini dirancang khusus untuk menghadapi kondisi musim panas yang ekstrem, dengan keunggulan utama ketahanan terhadap beberapa penyakit tanaman cabai yang umum terjadi di musim kemarau, seperti Virus Gemini (GV), Layu Bakteri, dan Busuk Batang. Selain tahan penyakit, benih ini juga memiliki daya adaptasi luas di dataran rendah hingga dataran menengah, dengan potensi hasil mencapai 21 ton per hektar. Masa panen yang relatif singkat, yakni 73–75 hari setelah tanam (HST), juga menjadi nilai tambah bagi petani, karena memungkinkan perputaran modal yang lebih cepat dan produktivitas yang terjaga di tengah tekanan iklim.

Testimoni Petani Sukabumi

Adom, seorang petani cabai dari Desa Tugu, Kecamatan Kebandungan, Sukabumi, mengungkapkan bahwa serangan virus menjadi momok utama selama musim kemarau sebelumnya. Menurutnya, pemilihan varietas tanaman yang tepat adalah kunci keberhasilan panen, dan ia merasa terbantu dengan pengetahuan yang didapat selama kegiatan temu lapangan.

"Ketahanan virusnya memang luar biasa. Aman dan tidak kena virus. Buahnya juga bagus. Kondisi tanaman yang tetap sehat membuat petani lebih tenang dalam menjalani musim tanam di tengah cuaca yang tidak menentu," ujar Adom pada Selasa (19/5).

Peran Kolaborasi dalam Penguatan Ketahanan Pangan

General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia (EWINDO), Budi Hariyono, menekankan bahwa petani adalah aktor utama yang berhadapan langsung dengan risiko iklim. Oleh karena itu, dukungan inovasi dari sektor swasta dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk meningkatkan ketahanan pangan.

"Penguatan sistem pangan tidak dapat bertumpu pada teknologi atau produk semata. Benih unggul hanya salah satu bagian. Keberhasilan pertanian sangat ditentukan oleh kolaborasi antara petani, sektor swasta, pemerintah, penyuluh, hingga akademisi," tegas Budi.

Menurut Budi, kolaborasi lintas pihak ini sangat penting untuk mengembangkan solusi yang holistik dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim. Selain penyediaan benih unggul, petani juga membutuhkan akses ke informasi terkini tentang teknik budidaya, sumber daya air yang cukup, dan dukungan kebijakan yang mendukung pertanian adaptif iklim.

Upaya Berkelanjutan untuk Ketahanan Pangan

Kegiatan temu lapangan ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk memperkuat ketahanan pangan di Jawa Barat dan seluruh Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi terbaru, serta kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan petani dapat menghadapi tantangan musim kemarau 2026 dengan lebih baik, menjaga produktivitas tanaman, dan memastikan pasokan pangan nasional tetap stabil.