Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Petani Cabai di Sumedang Merugi karena Membusuk

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Petani cabai rawit di Sukawangi, Pamulihan, kehilangan 50% panen akibat hujan ekstrem, hama, dan harga turun drastis; pemerintah diminta bantu stabilkan harga dan produksi.

Petani Cabai di Sumedang Merugi karena Membusuk

Penurunan Produksi Cabai Rawit di Pamulihan: Dampak Cuaca Ekstrem dan Tantangan Harga

Desa Sukawangi, Kecamatan Pamulihan, Sumedang – Petani cabai rawit merah mengalami kegagalan panen yang signifikan setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak akhir 2025. Kondisi cuaca tidak menentu memicu kerusakan tanaman, memperparah serangan hama, dan menurunkan harga jual cabai di pasar lokal.


Kondisi Lapangan: Gagal Panen Akibat Hujan Lebat

Petani setempat, Tatang, mengungkapkan bahwa lahan seluas sekitar 300 meter persegi hanya menghasilkan panen pada separuh area. Tanaman yang tersisa terinfeksi hama, sementara insectisida tidak efektif karena kelembaban berlebih.

"Cabai‑cabai itu gagal panen, merugi petani. Modal besar, pendapatannya sangat kecil jauh dibandingkan pengeluaran," kata Tatang pada Rabu (21/1).

Dampak Ekonomi: Harga Jual Turun Drastis

Sebelum musim hujan, harga cabai rawit di pasar mencapai Rp50 000‑Rp75 000 per kilogram. Saat ini, harga rata‑rata hanya Rp20 000 per kilogram, mengakibatkan penurunan pendapatan yang signifikan bagi petani.

Faktor Penyebab Utama

  1. Cuaca Ekstrem – Curah hujan di atas rata‑rata nasional selama tiga bulan berturut‑turut menyebabkan akar cabai membusuk.
  2. Serangan Hama – Kelembaban tinggi melahirkan populasi kutu putih dan ulat grayak yang sulit dikendalikan.
  3. Keterbatasan Akses Insektisida – Harga insektisida meningkat, sementara efektivitasnya menurun karena kondisi lapangan yang tidak mendukung.

Tanggapan Pemerintah dan Solusi Potensial

Tatang mengharapkan intervensi Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk menstabilkan harga cabai dan menurunkan biaya produksi. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

Analisis Jangka Panjang: Risiko Perubahan Iklim pada Sektor Hortikultura

Kejadian di Sukawangi mencerminkan tren nasional di mana perubahan iklim memperburuk ketidakpastian produksi hortikultura. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peningkatan frekuensi curah hujan ekstrem di wilayah Jawa Barat selama dekade terakhir.

Jika tidak ditangani, dampak berikut dapat terjadi:

Rekomendasi Praktis untuk Petani

  1. Rotasi Tanaman – Mengganti sebagian lahan dengan tanaman yang toleran terhadap kelembaban tinggi (mis. kangkung atau selada).
  2. Penggunaan Mulsa Organik – Mengurangi aliran air berlebih ke akar dan menurunkan pertumbuhan jamur patogen.
  3. Pemantauan Hama secara Real‑Time – Memanfaatkan aplikasi pertanian digital untuk deteksi dini serangan hama.
  4. Kolaborasi dengan Koperasi – Memperkuat jaringan penjualan dan mengakses fasilitas kredit berbunga rendah.

Dengan pendekatan yang terpadu antara pemerintah, lembaga riset, dan komunitas petani, krisis cabai di Pamulihan dapat diubah menjadi peluang untuk menguji ketahanan sistem pertanian daerah terhadap tantangan iklim.

---

Artikel ini disusun berdasarkan laporan lapangan, data statistik BMKG, serta wawancara eksklusif dengan petani setempat.