Perang Dagang hingga Naiknya Harga Bahan, Kolaborasi Jadi Jurus Jitu Bisnis F&B Bertahan
Industri F&B hadapi tantangan besar: kenaikan harga bahan baku, pelemahan rupiah, hingga perang dagang. Kolaborasi dan manajemen keuangan sehat jadi kunci pelaku usaha tetap bertahan.

Tekanan Eksternal Belum Berakhir
Sektor food and beverage (F&B) di Indonesia hingga kini masih menghadapi tantangan besar meski pandemi Covid-19 sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Kenaikan harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor-faktor yang memberatkan pelaku usaha di industri ini.
Kondisi ini diperparah oleh perang dagang antarnegara besar yang ikut memengaruhi rantai pasok bahan makanan secara global. Imbasnya terasa langsung di tingkat pelaku usaha, mulai dari warung kopi kecil hingga restoran menengah.
Pengalaman Nyata di Lapangan
Founder Ray Janson Radio, Ray Janson, membagikan pengalamannya dalam kegiatan Industry Night 2026 di Kota Bandung, Senin (15/6/2026). Ia menyebut bahwa bisnisnya sendiri belum kembali ke kondisi sebelum pandemi.
"Bisnis saya sendiri contohnya belum balik 100 persen. Setelah pandemik (Covid-19), ada berbagai faktor lain seperti konflik global, kenaikan mata uang asing, dan harga bahan baku yang terus meningkat."
Pria yang juga dikenal sebagai praktisi bisnis ini menjelaskan, situasi tersebut membuat pelaku usaha tidak bisa lagi sekadar mengandalkan produk yang sedang tren untuk bertahan di pasar.
Pelajaran Berharga dari Pandemi
Ray menilai, banyak orang menganggap kesuksesan bisnis F&B ditentukan oleh menu atau produk yang viral. Padahal, faktor terpenting justru berada pada pengelolaan bisnis secara keseluruhan.
"Yang bakal stay di mana-mana, F&B seluruh dunia itu sama. Bisnisnya harus ngurusin cash flow dengan baik dan memanage bisnisnya dengan baik. Produk bisa mengikuti tren atau bahkan melawan tren."
Bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang biasanya memiliki:
- Manajemen keuangan yang sehat
- Pengaturan arus kas yang tertata
- Efisiensi operasional yang baik
- Perencanaan stok bahan baku yang matang
Kolaborasi sebagai Strategi Ampuh
Di tengah kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional, Ray menilai kolaborasi menjadi salah satu strategi paling efektif bagi pelaku usaha F&B.
Kolaborasi tidak selalu harus berwujud acara atau promosi bersama. Banyak peluang kerja sama yang bisa dilakukan untuk menekan biaya sekaligus memperluas pasar. Contohnya, beberapa pelaku usaha dapat melakukan pembelian bahan baku secara bersama-sama kepada supplier sehingga memperoleh harga yang lebih kompetitif.
"Solusinya sama seperti saat pandemi. Bisnis harus bisa berkolaborasi supaya bukan hanya bertahan, tapi juga berkembang bersama."
Bentuk kolaborasi lainnya meliputi:
- Pengembangan produk secara bersama
- Promosi silang antar-brand
- Penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan beberapa pelaku usaha sekaligus
- Pembagian ruang atau resource untuk event tertentu
Peran Penting Komunitas
Ray memandang, kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Bali telah memiliki ekosistem komunitas F&B yang cukup solid. Para pelaku usaha di kota-kota tersebut tidak segan untuk saling berdiskusi dan berbagi peluang baru.
"Komunitas itu penting untuk mengaktifkan kolaborasi. Sekarang banyak outlet yang menggandeng komunitas lari, fotografi, dan komunitas lainnya untuk meramaikan tempat usaha."
Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai semakin relevan ke depan. Konsumen masa kini tidak hanya mencari produk yang baik, tetapi juga pengalaman dan koneksi sosial yang bisa mereka dapatkan dari sebuah tempat atau jenama.
Kombinasi Kunci untuk Bertahan dan Berkembang
Dengan kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, pelaku usaha F&B perlu lebih adaptif dalam mengelola bisnis. Ray meyakini tiga要素 berikut menjadi kombinasi penting agar bisnis tetap cuan dan mampu berkembang:
- Manajemen keuangan yang sehat — memastikan arus kas tetap terjaga di tengah tekanan
- Kolaborasi yang kuat — membuka peluang baru dan efisiensi biaya
- Dukungan komunitas — membangun jaringan dan menjangkau pasar lebih luas
Ketiga要素 ini saling melengkapi dan membentuk fondasi kokoh bagi pelaku F&B untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan.