Pemprov Jabar Siapkan Sumedang Sebagai Kawasan Budaya Sunda Strategis
Pemerintah Jawa Barat menyiapkan Sumedang sebagai kawasan budaya Sunda strategis untuk mengembalikan akar identitas dan nilai tradisi masyarakat setempat.

Sumedang, Jawa Barat – Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah meluncurkan program komprehensif untuk menjadikan Kabupaten Sumedang sebagai kawasan strategis berbasis budaya Sunda. Langkah ini diambil sebagai upaya mengembalikan akar identitas dan nilai-nilai tradisi masyarakat setempat, yang telah menjadi bagian dari warisan peradaban Sunda selama berabad-abad.
Peran Penting Sumedang dalam Warisan Budaya Sunda
Kabupaten Sumedang bukan hanya sekadar wilayah administratif di Jawa Barat, melainkan bagian integral dari peradaban Sunda yang memiliki warisan nilai, simbol, dan filosofi yang kuat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan daerah harus diselaraskan dengan jati diri masyarakat, agar tidak kehilangan identitas lokal yang menjadi kekayaan utama.
"Sumedang dan seluruh warganya yang memiliki semangat yang sangat mahal untuk sama-sama membangun daerahnya dengan memiliki dasar kebudayaan yang kuat. Pembangunan harus kembali menyatu dengan jati diri masyarakatnya," ujar Dedi Mulyadi di Sumedang, Minggu lalu.
Penataan Kawasan dengan Pendekatan Budaya Terintegrasi
Sebagai bagian dari program ini, Pemprov Jabar mendorong penataan kawasan kota Sumedang dengan pendekatan budaya yang terintegrasi dengan kawasan pendidikan. Penataan ini mencakup berbagai elemen penting, seperti:
- Wajah jalan utama kota yang mencerminkan karakter Sunda
- Ruang publik yang nyaman dan ramah keluarga
- Detail arsitektur kecil seperti gapura masuk, penerangan jalan, dan tata letak kios
Semua elemen ini akan dirancang dengan gaya khas Sunda yang sederhana, tertib, tetapi sarat makna lokal. Menurut Dedi Mulyadi, penataan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan estetika kota, tetapi juga untuk mengingatkan masyarakat pada asal-usul budaya mereka. Selain itu, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kawasan pendidikan di Sumedang, sehingga generasi muda dapat tumbuh tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedekatan yang erat dengan nilai-nilai budaya lokal.
Kirab Mahkota Binokasih: Simbol Perjalanan Peradaban Sunda
Pada kesempatan yang sama, Dedi Mulyadi juga menyorot acara Kirab Mahkota Binokasih yang dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei lalu. Acara ini bukan hanya sekadar seremoni budaya, melainkan simbol perjalanan panjang peradaban Sunda yang kini diarahkan kembali menuju kejayaan.
"Ini bukan sekadar seremoni, tetapi perjalanan untuk membangun masa depan. Sumedang harus menjadi contoh bagaimana budaya menjadi dasar pembangunan," tegasnya.
Menurut gubernur, acara ini menjadi titik awal untuk melaksanakan langkah nyata dalam pembangunan kawasan budaya Sumedang, bukan hanya upaya semata tanpa tindakan nyata.
Ajakan Gotong Royong untuk Pembangunan Berkelanjutan
Gubernur juga mengajak seluruh elemen masyarakat Sumedang untuk terlibat aktif dalam pembangunan kawasan budaya ini. Ia menekankan bahwa kebersamaan, gotong royong, dan saling mendukung adalah kunci untuk membangun daerah yang lebih maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya. "Dengan kebersamaan, bergotong royong, dan saling mendukung, kita bisa membangun kampung dan kota yang lebih maju tetapi tidak kehilangan jati dirinya," ujar Dedi Mulyadi.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Jawa Barat dalam memadukan pembangunan modern dengan pelestarian warisan budaya lokal. Dengan cara ini, masyarakat dapat menikmati kemajuan tanpa harus meninggalkan akar identitas yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.