Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Panda Mengibar Bendera Lagi Setelah 38 Tahun, Penghuni Panti Sosial Aura Welas Asih Sukabumi Ikuti Upacara HUT ke-81

Jabar · Oleh ·

Tiga penghuni Panti Sosial Aura Welas Asih Palabuhanratu mengisi posisi pengibar bendera HUT ke-81 RI. Panda menjadi pengibar untuk pertama kalinya sejak 1988.

Panda Mengibar Bendera Lagi Setelah 38 Tahun, Penghuni Panti Sosial Aura Welas Asih Sukabumi Ikuti Upacara HUT ke-81

Suaranya bergetar. Panda menarik tali pengerek perlahan hingga kain merah putih terentang sempurna dan berkibar di puncak tiang. Ini kali pertama ia mengibarkan bendera sejak 1988, ketika masih duduk di bangku SMA. Tiga puluh delapan tahun berlalu, dan hari itu warga berusia paruh baya itu kembali berdiri di halaman yang sama, di antara ratusan penghuni Panti Sosial Aura Welas Asih, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Panda bukan satu-satunya. Tiga penghuni panti mengisi posisi pengibar bendera pada upacara memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia di tempat itu. Mereka yang sehari-hari menjalani masa rehabilitasi sosial di lembaga kesejahteraan ini mendapat peran utama dalam upacara.

Persiapan Sepekan di Balik Ceremonial

Proses latihan memakan waktu sekitar sepekan. Agam Rahman Suparman, pekerja sosial yang menangani acara, menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah daya ingat para penghuni yang tidak stabil. "Yang paling sulit itu tingkat ingatannya. Banyak lupanya, tapi saya ingatkan lagi, ingatkan lagi supaya mengikuti upacara dengan baik," tutur Agam.

Baca Juga: Diskominfo Cirebon Latih Forum Anak Jadi Garda Terdepan Literasi Digital di Kalangan Sebaya

Untuk formasi inti, Agam memilih penghuni yang memiliki riwayat baris-berbaris di masa lalu dan dinilai mudah diajak komunikasi. Faktor kestabilan emosi dan kemauan juga menjadi pertimbangan.

"Pertama-tama saya cari pasien yang lebih mudah diajak interaksi, komunikasi. Dan alhamdulillah ketika saya tanya, mereka dulunya pernah mengikuti baris-berbaris, sehingga sudah ada basic-nya," kata Agam.

Panda sendiri awalnya menawarkan diri menjadi pelatih karena mengira semua laki-laki di panti bisa. Ketika diberitahu bahwa posisi pengibar bendera masih kurang, ia sepakat mengambil bagian. "Ya sudah, saya akhirnya ikut untuk mengibarkan bendera," kenangnya.

Baca Juga: Polisi Malaysia Tangkap 335 Orang di Forest City, Aset Senilai Rp4,3 Miliar Disita

Panti Sosial sebagai Ruang Rehabilitasi

Panti Sosial Aura Welas Asih beroperasi sebagai lembaga kesejahteraan sosial di wilayah pesisir selatan Jawa Barat. Tempat ini menaungi warga yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan, termasuk mereka yang datang setelah dijemput keluarga.

Keberadaan panti-panti seperti ini menjadi bagian dari sistem kesejahteraan sosial di Jawa Barat yang menangani kelompok rentan. Para penghuninya menjalani masa rehabilitasi dengan berbagai bentuk kegiatan, termasuk latihan keterampilan dasar yang mendukung kemandirian.

Upacara kemerdekaan menjadi salah satu bentuk terapi yang digunakan untuk membangun rasa percaya diri dan keterlibatan sosial penghuni. Merangkai suasana sakral dengan tanggung jawab formal terbukti efektif mengembalikan rasa harga diri.

Momen yang Mengubah Persepsi

Agam yang telah hampir tiga tahun bekerja di panti mengakui bahwa keberhasilan upacara melampaui ekspektasinya. "Saya sebagai pelatih merasa sangat bangga. Karena kan tidak dapat dipungkiri mereka ini pasien yang istimewa," katanya.

"Ketika pembacaan doa, lalu pengibaran bendera saya pun tidak expect untuk berhasil karena mengingat mereka lebih cepat lupalah," lanjut Agam.

Di lapangan, seorang petugas dengan telaten membetulkan kerah kemeja seorang penghuni lansia dan menyematkan kancing satu per satu. Di sisi lain, petugas lain membantu memakaikan kemeja hitam dengan sabar. Tidak ada instruksi tegas, yang tampak adalah pendekatan lembut untuk mempersiapkan para penghuni berdiri tegak.

Asa Kembali ke Keluarga

Panda telah satu tahun menetap di panti setelah dijemput oleh keluarganya. Ia kini berharap momentum kemerdekaan ini menjadi langkah nyata menuju pulihnya kondisi yang dialaminya. "Semoga mereka terus berusaha untuk sembuh, terus mempunyai jiwa nasionalisme kepada Merah Putih, kepada negara, sehingga bisa kembali kepada keluarga, menjalani rutinitas bersama keluarga kembali," harap Agam.

Bagi Panda sendiri, perasaan itu terasa sangat personal. "Agak deg-degan karena sudah puluhan tahun nggak megang bendera lagi," akunya. Usai bertugas, Panda mengulas senyum lega. "Alhamdulillah bangga,"ujarnya singkat.

Ia menutup dengan rasa terima kasih kepada pengurus, pemilik panti yang memberi kesempatan, pelatih, dan teman-temannya yang menyisihkan waktu berlatih bersama.