Siswa SMPN 1 Cikarang Selatan Lolos Seleksi Garudayaksa EPA U-16 Usai Dibina Lewat 14 Ekstrakurikuler dan Tim Elite
Siswa SMPN 1 Cikarang Selatan lolos ke Garudayaksa EPA U-16 lewat ekosistem pembinaan 14 ekstrakurikuler dan tim elite. Sekolahnya sendiri sudah menghasilkan juara Gala Siswa, juara Proton Super Cup, hingga alumni yang berlaga di Gothia Cup Swedia.

Di balik lolosnya Muhammad Rosi Aquilani ke EPA U-16 Garudayaksa, terdapat sistem pembelajaran yang selama ini dijalankan SMPN 1 Cikarang Selatan. Sekolah ini tidak sekadar menemukan bakat, tapi membangun ekosistem pembinaan yang melibatkan puluhan siswa setiap minggunya.
SMPN 1 Cikarang Selatan memiliki sekitar 14 ekstrakurikuler yang mencakup olahraga, seni, bahasa, Pramuka, dan Paskibra. Bagi siswa yang menunjukkan kemampuan lebih di bidang olahraga, sekolah membentuk kelompok tambahan bernama tim elite.
"Untuk olahraga, kami memiliki pelatihan khusus bagi anak-anak yang sudah berprestasi atau secara kemampuan bermain berada pada level yang lebih baik. Mereka mendapatkan latihan tambahan agar ketika mengikuti kompetisi bisa memberikan hasil maksimal," kata Ary Ismail, Guru PJOK dan Pembina Ekstrakurikuler Futsal dan Sepak Bola.
Baca Juga: Film See For Me Tampilkan Aplikasi Pengawasan Jarak Jauh untuk Korban Kejahatan
Latihan Setelah Jam Sekolah
Latihan tim elite dimulai pukul 15.00, setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Pembinaan ini berlangsung hingga pukul 17.00 atau 17.30, empat kali dalam seminggu. Sekolah mengklaim pola ini dirancang agar prestasi olahraga tidak mengorbankan kemampuan akademik siswa.
"Yang penting komunikasi dengan pihak sekolah dan ada surat secara resmi. Kemudian kita mencari solusi bagaimana pola belajarnya. Jangan sampai karena mengejar prestasi, akademiknya tertinggal. Keduanya harus berjalan bersama," tegas Ary.
Baca Juga: Pelatihan Content Creator di Karawang Bekali Puluhan Peserta Keterampilan Produksi Konten Digital
Sistem ini telah menghasilkan juara pertama Gala Siswa tingkat Kabupaten Bekasi yang kemudian mewakili Bekasi di tingkat provinsi. Tim futsal putri sekolah juga meraih juara pertama Proton Super Cup dan lolos ke tingkat Jawa Barat. Salah satu pemain putri mereka bahkan masuk tim Porda Kabupaten Bekasi untuk sepak bola putri.
Jejak Alumni hingga ke Swedia
Dampak pola pembinaan ini melampaui batas waktu sekolah. Beberapa tahun lalu, seorang alumni SMPN 1 Cikarang Selatan masuk Timnas Pelajar U-14 dan mengikuti Gothia Cup di Swedia. Ada pula alumni yang berkarier di Liga 2 dan Liga 3.
Yang lebih jarang terjadi, sebagian alumni berubah menjadi pelatih. Beberapa di antaranya kini melatih sepak bola putri di Kabupaten Bekasi dengan lisensi kepelatihan resmi.
"Ketika mereka memiliki karier dan prestasi yang baik di luar sana, nama SMPN 1 Cikarang Selatan juga akan ikut terangkat dengan sendirinya," kata Ary.
Model yang Bisa Ditiru
Bagi keluarga di Bekasi dan wilayah Jawa Barat lainnya, keberhasilan Rosi menunjukkan bahwa sekolah negeri bisa menjadi ruang menemukan dan mengembangkan potensi nonakademik anak. Asalkan ada koordinasi antara sekolah, keluarga, dan pihak pembina.
"Harapan kami tentu anak-anak bisa terus berkembang. Kalau mereka ingin menjadi atlet, mereka sudah memiliki jalur melalui prestasi yang diraih sejak SMP. Kalau lainnya, pengalaman selama proses pembinaan juga menjadi bekal bagi mereka," kata Ary.
Perjalanannya masih panjang. Namun, di setiap langkahnya terdapat jejak sebuah almamater yang sejak awal berupaya menjaga satu prinsip sederhana: setiap anak memiliki potensi untuk berprestasi, dan tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan jalan terbaik untuk mewujudkannya.