Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Pada Bandung dan Rindu yang Tak Tuntas

Bandung · Oleh Raka Permana · · Diperbarui 2 Maret 2026

Seorang pria kembali ke Bandung dengan rindu pada mantan pacar Kirana tanpa kabar terlebih dahulu. Setelah menerima pesan tak terduga, ia bertemu di kafe dan mengetahui rencana pernikahan Kirana gagal karena kebangkrutan bisnis ayahnya, membuka peluang untuk melanjutkan kisah yang belum tuntas.

Pada Bandung dan Rindu yang Tak Tuntas

Kembali ke Tanah Pasundan: Rindu yang Mengembara di Stasiun Bandung

Sesaat sebelum KA Parahyangan berhenti di Stasiun Bandung, suara pengumuman dalam dua bahasa bergema di gerbong: "Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kereta api KA Parahyangan akan tiba di pemberhentian akhir, stasiun Bandung..." Bunyi itu mengingatkan penumpang untuk mempersiapkan barang bawaan, tetapi bagi saya, itu adalah tanda bahwa akhirnya saya kembali ke tanah Pasundan—tempat yang menyimpan rindu pada Kirana, gadis masa lalu yang selalu mengisi pikiran.

Setelah turun dari kereta, saya menarik nafas dalam-dalam, menahan sesaat sebelum menghembuskannya perlahan. Perasaan getaran halus dari dalam diri seperti saat akan tampil di depan audiens besar: campuran gembira, cemas, dan rindu yang sudah membuncah. Saya menolak tawaran ojek dari pria paruh baya di trotoar, memilih berjalan kaki untuk berinteraksi dengan kota yang sudah lama tidak saya kunjungi.

Paskal Food Market: Kenangan yang Tak Terlupakan

Pada pukul 18:30, saya tiba di Paskal Food Market—tempat favorit kami bersama Kirana. Saya memilih tempat duduk outdoor, memesan segelas jahe hangat dan nasi goreng ikan asin, makanan yang selalu saya sukai dan Kirana ingat dengan baik.

Kenangan tentang hari hujan di warung mie ayam samping kampus Universitas Kristen Maranatha terlintas di pikiran. Saat itu, Kirana menyantap mie ayam sambil bertanya: "Kenapa sih kau begitu tidak suka pada daging ayam?" Saya menjawab dengan singkat: "Semua orang punya makanan yang tidak disukai." Saat itu, saya hanya menikmati segelas jeruk hangat dan krupuk pangsit yang dihidangkan untuknya. Kenangan itu membuat senyum tersenyum di wajah saya meskipun saya sendirian.

Pesan Tak Terduga dari Kirana: Harapan yang Kembali

Tiga hari sebelum saya tiba di Bandung, saya sedang membunuh waktu di Warmindo pinggir Jakarta saat banjir melanda kota. Tiba-tiba, notifikasi WhatsApp berbunyi: "Aku ingin bertemu denganmu, dua hari lagi pada hari Sabtu. Kafe langganan kita." Pesan itu membuat jantungku berdegup kencang.

Hanya dua minggu sebelumnya, kami memutuskan untuk saling melepaskan dengan ikhlas. Kirana harus kembali ke kotanya untuk menerima pertunangan dengan pria yang dikenal ibunya sejak SMA—rencana yang terkait dengan bisnis ayahnya. Saya menyelipkan surat terakhir di tas ranselnya, dengan doa di paragraf akhir: jika dia tidak bahagia dengan pilihan itu, semoga dia kembali ke Bandung untuk melanjutkan kisah yang belum tuntas. Tampaknya doa itu telah terjawab.

Gajuakopi: Pertemuan yang Mengubah Semua

Saya datang agak telat ke Gajuakopi di Jl Sawunggaling—lebih 15 menit dari janjian pukul 15.00—karena kemacetan jalan Bandung yang parah pada weekend. Kirana sudah ada di sana, menikmati matcha yang mulai dingin, dengan wajah yang tenang namun sedikit sendu.

Setelah saya meminta maaf karena keterlambatan, Kirana langsung membuka pembicaraan: "Bisnis ayahku bangkrut dan partnernya kecewa. Mereka sedang mengurus perkara di Pengadilan pada beberapa aset yang masih tersisa." Ia menjelaskan bahwa rencana pernikahannya adalah bagian dari kesepakatan bisnis yang sekarang runtuh, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Bandung.

Kami diam sejenak, menikmati suasana kafe yang tenang dan suara hujan yang mulai mengguyur luar. Bandung dengan segala dinamikanya selalu menawarkan sore yang syahdu selepas hujan, dan saat itu, saya merasa bahwa kota ini sedang memberikan kesempatan kedua untuk kita.

"Hidupku pada kota ini, Bandung dengan segala dinamikanya selalu menawarkan sore yang syahdu selepas hujan. Aku ingin menjalani seluruh sisa hidupku di kota ini meski harus mengulum rindu pada kenangan yang sudah berlalu."

Itu adalah kata-kata Kirana yang membuat saya menyadari bahwa rindu yang belum tuntas akhirnya menemukan jalan untuk bertemu kembali. Bandung tidak hanya kota yang menyimpan luka masa lalu, tetapi juga harapan untuk masa depan yang baru.