Mushaf Sundawi di Pusdai Bandung: Harmoni Agama dan Budaya Pasundan
Galeri Mushaf Sundawi di Pusdai Bandung menampilkan perpaduan harmoni Kalam Ilahi dan budaya Pasundan, dengan detail pameran tentang proses pembuatan dan makna elemen khas karya ini.

Di ruang pamer Perpustakaan Pusat Daerah (Pusdai) Bandung, galeri yang menampilkan Mushaf Sundawi menjadi tempat yang memadukan harmoni antara Kalam Ilahi dengan kekayaan budaya dan seni tradisional Jawa Barat. Cahaya lampu yang terinspirasi motif lokal menyinari lembar-lembar kaligrafi yang terbingkai rapi, mengajak pengunjung menyelami perjalanan spiritual dan identitas Tanah Pasundan dalam satu ruang.
Lokasi dan Konsep Galeri Mushaf Sundawi
Galeri ini berlokasi tepat di dalam Perpustakaan Pusdai Bandung, menampilkan kitab suci Al Quran dengan balutan estetika khas Sunda. Setiap sudut ruang pamer dirancang dengan detail yang mempertimbangkan kaidah kaligrafi baku serta motif tradisional Jawa Barat, menciptakan nuansa yang tenang dan penuh makna spiritual.
Ketersediaan Galeri Selama Bulan Ramadan
Menurut Bagus Raihan, penjaga Perpustakaan Pusdai, galeri dan pameran Mushaf Sundawi telah ada sejak lama, namun keberadaannya kurang dikenal oleh banyak orang. Salah satu periode paling ramai pengunjung adalah bulan Ramadan, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
"Galeri dan pamerannya memang sudah ada sejak lama tapi di bulan Ramadan banyak pengunjung yang tertarik untuk datang, terutama menjelang berbuka puasa,"
kata Bagus saat ditemui pada Senin, 23 Februari 2026.
Detail Pameran dan Proses Pembuatan Mushaf Sundawi
Di dalam galeri, pengunjung dapat menyaksikan berbagai tahapan pembuatan Mushaf Sundawi, mulai dari perencanaan hingga proses finishing. Setiap juz Al Quran dilengkapi dengan penjelasan makna iluminasi bingkai yang menjadi ciri khas karya ini. Selain itu, pameran juga menampilkan elemen unik bernama Mamolo, yaitu tiara atau mahkota yang menjadi bagian dari desain kaligrafi Mushaf Sundawi.
Makna di Balik Elemen Mamolo
Mamolo diambil dari bentuk hiasan puncak atap masjid tradisional Banten dan Cirebon, yang memiliki kaitan erat dengan arsitektur masjid lokal Jawa Barat. Konsep ini diterapkan pada tiara Al Quran Mushaf Sundawi sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan arsitektur Islam Nusantara, serta memperkuat identitas budaya Jawa Barat dalam konteks spiritual.
Sejarah Resmi Peluncuran Mushaf Sundawi Jawa Barat
Mushaf Sundawi Jawa Barat diresmikan sebagai karya monumental pada 17 Ramadhan 1417 H, atau tepatnya 25 Januari 1997. Momen ini menjadi sejarah baru bagi masyarakat Jawa Barat, sebagai bentuk perpaduan antara kesahihan teks suci Al Quran dengan kekayaan seni dan budaya Sunda.
Proses Penulisan yang Teliti dan Bertanggung Jawab
Menurut Tim Pelaksana Penulisan Al Quran Mushaf Sundawi, Ragam Santika, mushaf ini disusun dengan penuh tanggung jawab ilmiah dan spiritual.
"Al Qur’an Mushaf Sundawi adalah Mushaf yang penulisannya mengacu dan tunduk kepada kaidah baku Rasam Usmani. Seluruh prosesnya dilakukan melalui tahapan perencanaan, penelitian, eksperimen bahan, hingga pengujian tinta, emas, dan kertas agar kualitasnya terjamin,"
tulis Ragam Santika. Setiap lembar mushaf juga melalui proses tashih internal dan formal oleh Lajnah Pentashihan Al Qur’an Departemen Agama RI, memastikan kesahihan teks suci tanpa ada penyimpangan dari kaidah yang berlaku.
Keberadaan Galeri Mushaf Sundawi di Pusdai Bandung tidak hanya menjadi tempat pameran seni, tetapi juga jembatan untuk mempertemukan antara nilai spiritual Islam dengan warisan budaya Pasundan. Bagi pengunjung, galeri ini memberikan kesempatan untuk menyelami kedalaman makna Kalam Ilahi sambil menghargai kekayaan identitas lokal Jawa Barat.