Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Malam Ketika Aku Tak Jua Terlelap

Bandung · Oleh Raka Permana · · Diperbarui 2 Maret 2026

Narasi pribadi tentang kisah cinta dan perpisahan di berbagai sudut Kota Bandung, dengan kenangan bersama mantan yang tersimpan di setiap tempat yang pernah dikunjungi.

Malam Ketika Aku Tak Jua Terlelap

Kisah Cinta dan Perpisahan yang Terpendam di Setiap Sudut Kota Bandung

Di tengah malam yang hening, ketika jarum jam menunjukkan pukul hampir 1 dini hari, pikiran saya terpaku pada serangkaian kenangan yang tak pernah bisa saya lepaskan. Saya terbaring di samping meja kecil yang penuh dengan buku-buku, dengan pulpen biru yang dulu kamu berikan setahun lalu terlipat di antara halaman buku favorit. Pulpen itu, yang saya tak pernah gunakan karena terlalu sayang, kini menjadi teman setia saat saya menulis semua hal yang selama ini tertahan di dada.

Saya sedang mendengarkan lagu Bandung oleh Danilla feat The Panasdalam, ciptaan Pidi Baiq — seniman favorit saya sejak masa kuliah, meskipun kamu selalu menggodaku karena terlalu mainstream. Lagu itu dengan liriknya yang menyentak hati, terus-menerus memanggil kembali semua kenangan kita di kota ini.

Tempat-tempat Kenangan yang Tak Terlupakan di Bandung

Bandung bukan hanya sekadar kota bagi kita. Ini adalah tempat di mana kita menjelajahi setiap sudut, dengan daftar tempat favorit yang tak pernah bisa kita lewatkan:

Saya juga ingat saat kita pertama kali bertemu di warteg belakang kampus, dan kamu sedang menikmati segelas matcha di sudut Mokopi — minuman yang dulu kamu benci karena terlalu manis. > "Aku sudah terlalu manis, buat apa menambah yang manis-manis." — canda kamu saat pertama kali mencicipinya, yang selalu membuat saya tersenyum meskipun terasa garing.

Saya bahkan masih ingat keluhanmu setiap kali penat dengan rutinitas kota ini: > "Aku tidak terlalu suka Bandung, sudah terlalu padat."

Pesan Penting yang Kau Tinggalkan

Salah satu hal yang paling saya hargai dari kamu adalah nasihatmu tentang menulis. Ketika saya sering mengeluh tentang ketidakmampuan saya dalam berbagai hal, dari bermain musik hingga melukis, kamu berkata:

"Menulislah, bukan untuk dibaca orang lain tetapi sekadar memaksamu untuk memahami siapa dirimu. Menulis mungkin tidak membuatmu kaya ataupun terkenal tetapi setidaknya kau mengenali siapa dirimu."

Kau sendiri malas menulis, bahkan pernah mengatakan bahwa puisi yang kamu tulis tentang kampus kita adalah "tulisan sampah". Tapi ternyata, nasihat itu adalah cara kamu memberiku kekuatan untuk menyembuhkan luka setelah kamu pergi.

Saya juga masih menulis surat-surat absurd untukmu, yang saya harap kamu simpan rapi di kamar kosmu. Surat-surat itu adalah cara saya untuk berbicara denganmu, meskipun kamu sudah tidak ada di samping saya lagi.

Akhir Kisah Kita

Beberapa hari yang lalu, saya melihatmu dari kejauhan di sudut Mokopi, menikmati segelas matcha. Saya tahu saat itu bahwa ini adalah pertemuan terakhir saya denganmu, karena kamu menerima tawaran orang tuamu untuk pulang kampung dan menikahi teman kelasmu — cinta pertama kamu.

Kita tidak pernah berbicara tentang perpisahan itu dengan jelas, tapi kamu berkata di Mokopi:

"Kau akan baik-baik saja di kota ini, jarak hati yang harus memisahkan semua setelah kebersamaan yang begitu singkat."

Saya tidak membalas, hanya raut muka yang menunjukkan bahwa saya mengerti betapa hidup seringkali bercanda. Saya tidak pernah menyalahkanmu, meskipun luka itu masih terasa sampai sekarang.

Saya bersyukur karena bisa mengenalmu selama dua tahun, saat saya masih asing di kota ini. Kita adalah dua perantau yang jatuh cinta pada Bandung dan satu sama lain, meskipun kisah kita tidak berakhir bahagia.

Selamat tinggal, Kirana. Selamat tinggal pada semua kenangan yang kita buat di setiap sudut Bandung. Aku akan selalu mengenalmu, dalam setiap tulisan yang saya tulis.