Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Ma Onam: Fakta Linguistik di Balik Cerita Hantu yang Disalahpahami Generasi

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Ma Onam bukan hantu, melainkan transformasi linguistik dari ungkapan Sunda kumaha onam yang berubah makna seiring tradisi lisan.

Ma Onam: Fakta Linguistik di Balik Cerita Hantu yang Disalahpahami Generasi

Ma Onam Bukan Hantu, Melainkan Peninggalan Tradisi Lisan Sunda yang Sarat Makna

Di tengah masyarakat Sunda, ungkapan "Awas ulah ulin peuting teuing, bisi Kuma Onam" telah melekat dalam ingatan kolektif lintas generasi. Banyak anak Sunda yang grew up mendengar peringatan tersebut dari orang tua dan Nenek mereka. Namun, di balik cerita tentang sosok mistis yang diklaim menjaga anak-anak dari bermain terlalu malam, tersimpan fakta linguistik dan filosofis yang jauh lebih kaya daripada sekadar narasi horor.

Asal-Usul Linguistik Ma Onam yang Jarang Diketahui

Menurut penjelasan resmi dari humas Kota Bandung, istilah Ma Onam sebenarnya berasal dari frasa kumaha onam dalam bahasa Sunda. Dalam konteks ini, kumaha berarti "bagaimana" atau "bagaimana jadinya", sedangkan onam tidak memiliki arti khusus apabila berdiri sendiri sebagai kata.

Ungkapan kumaha onam sejatinya berfungsi sebagai ekspresi kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Seiring bergantinya generasi, pelafalan tersebut berubah secara gradual menjadi Kuma Onam, lalu Ma Onam. Proses ini merupakan fenomena umum dalam tradisi lisan di mana pesan disebarkan secara turun-temurun melalui percakapan sehari-hari.

Proses Transformasi Makna dalam Folklor Sunda

Perubahan makna dari ungkapan wasiat menjadi cerita hantu sejati merupakan proses yang lazim terjadi dalam tradisi lisan. James Danandjaja dalam karyanya Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain menjelaskan bahwa cerita rakyat berkembang secara dinamis mengikuti ingatan dan imajinasi masyarakat pendukungnya.

Cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut kerap mengalami penyesuaian, baik dari segi bunyi maupun penafsiran.

Dalam kajian folklor Sunda, Ma Onam tidak tercatat sebagai tokoh maupun jenis hantu yang diakui dalam sistem kepercayaan masyarakat Sunda. Hal ini memperkuat argumen bahwa Ma Onam lebih merupakan produk linguistik yang berkembang daripada entitas mistis yang pernah dipercayai.

Filosofi Pendidikan dalam Tradisi Sunda

Di balik kisah Ma Onam, tersimpan filosofi pendidikan karakter yang khas masyarakat Sunda. Nenek moyang kita pada masa lampau lebih mengutamakan penggunaan siloka (perumpamaan), babasan (pepatah), dan ungkapan daripada larangan yang bersifat langsung dan tegas.

Kalimat "bisi Kuma Onam" bukan semata-mata untuk menanamkan rasa takut kepada anak-anak. Melainkan, ungkapan ini berfungsi sebagai:

Dengan demikian, rasa takut menjadi vehicle atau alat penyampa pesan, sementara tujuan utamanya tetap bersifat mendidik dan melindungi.

Tradisi Lisan sebagai Bank Kehidupan

Penelitian yang dilakukan oleh Afsari, Sobarna, dan Risagarniwa dalam jurnal Totobuang mengungkapkan bahwa ungkapan tradisional Sunda memiliki fungsi multidimensi:

  1. Media pewarisan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya
  2. Pengendali perilaku sosial melalui norma yang tidak tertulis
  3. Sarana pendidikan dengan pendekatan yang lembut dan tidak memaksa

Masyarakat Sunda secara historis menggunakan bahasa sebagai vehicle untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Melalui ungkapan-ungkapan sederhana yang tampak kasualitas, mereka berhasil menyampaikan pesan-pesan penting tentang kehati-hatian, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada anak-anak.

Kembali ke Akar Makna

Pada akhirnya, Ma Onam tidak sepatutnya dipahami sebagai hantu yang sesungguhnya. Apa yang diwariskan oleh leluhur Sunda bukanlah sosok menakutkan yang perlu ditakuti, melainkan pesan moral yang tertanam dalam sebuah ungkapan.

Ma Onam menjadi bukti nyata bahwa bahasa memiliki kemampuan luar biasa untuk menyimpan kebijaksanaan kolektif suatu bangsa. Tradisi lisan menjelma sebagai perpustakaan tanpa dinding yang menjaga warisan pengetahuan tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di balik cerita tentang sosok yang diklaim menakutkan, sesungguhnya tersimpan cara masyarakat Sunda dalam:

Mari kita hargai tradisi lisan Sunda sebagai sumber kebijaksanaan yang tak ternilai harganya, bukan sekadar cerita mistis yang menakutkan.