Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Lima Bangunan Peninggalan Kolonial Masih Berdiri di Bogor, Istana hingga Vihara Abad ke-18

KDM · Oleh ·

Lima bangunan peninggalan kolonial di Bogor Tengah masih berdiri dan aktif dipakai, dari Istana Kepresidenan sampai Vihara Hok Tek Bio yang diyakini ada sejak abad ke-18

Lima Bangunan Peninggalan Kolonial Masih Berdiri di Bogor, Istana hingga Vihara Abad ke-18

Bangunan-bangunan tua di Bogor Tengah masih dipakai warga setiap hari. Istana Kepresidenan tetap menjadi kantor kenegaraan, Stasiun Bogor masih mengantar puluhan ribu penumpang Commuter Line, dan GPIB Zebaoth masih menggelar ibadah. Di balik fungsinya, kelimanya menyimpan rekam jejak kekuasaan kolonial yang diwariskan ke kota ini.

Istana Bogor, dari rumah peristirahatan ke istana negara

Bangunan di Jl. Ir. H. Juanda No. 1, Paledang, itu pertama kali didirikan pada 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff. Arsitekturnya mengacu pada Blenheim Palace di Inggris, dan namanya semula Buitenzorg, yang berarti bebas dari kesulitan.

Baca Juga: Penelitian Qolby dan Nuralia Telusuri Asal-usul Nama Ciwidey dari Wide Bambu sampai Pabrik Teh 1870

Gempa bumi 1834 merusaknya berat. Bangunan dibangun ulang dengan struktur lebih rendah dan gaya Indische Empire. Setelah kemerdekaan, fungsinya beralih menjadi Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Stasiun Bogor, tertua di antara yang beroperasi

Perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij membuka stasiun ini pada 1873. Delapan tahun kemudian, tepatnya 31 Januari 1881, Staatsspoorwegen meresmikannya kembali setelah pengembangan.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Tawarkan Tunda Bayar Rp2,1 Triliun Proyek Infra Jabar Usai Pinjaman Rp3,4 Triliun dari SMI Tidak Hormone

Jalur ini dulu mengangkut hasil perkebunan menuju Batavia dan menerima pejabat tinggi Eropa. Kini stasiun di Jl. Nyi Raja Permas, Cibogor, itu melayani puluhan ribu penumpang Commuter Line setiap hari.

GPIB Zebaoth, gereja Eropa di lingkar istana

Batu pertamanya diletakkan Gubernur Jenderal Mr. J. P. Graaf van Limburg Stirum pada 30 Januari 1920. Setahun kemudian gereja diresmikan dengan nama Koningin Wilhelmina Kerk, penghormatan bagi Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Gaya Gothic Revival berpadu sentuhan Art Deco membuat bangunannya berbeda dari gereja lain di kota ini. Warga menyebutnya Gereja Ayam karena hiasan penunjuk mata angin berbentuk ayam jantan di puncak menara. Hingga kini bangunan di Jl. Ir. H. Juanda No. 3 itu masih dipakai beribadah.

Hotel Salak dan jejak Kempeitai

Bangunan di Jl. Ir. H. Juanda No. 8, Pabaton, berdiri pada 1856 sebagai Bellevue-Dibbets Hotel, penginapan tamu keluarga Gubernur Jenderal Charles Ferdinan Pahud. Pada 1941 hingga 1945, tempat ini dialihfungsikan menjadi markas polisi militer Jepang, Kempeitai.

Setelah kemerdekaan namanya berubah menjadi Hotel Salak karena menghadap Gunung Salak. Hotel itu masih beroperasi sampai sekarang dan menyandang predikat salah satu hotel tertua di Indonesia.

Vihara Mahacetya Dhanagun, tertua di Bogor

Kebijakan segregasi permukiman kolonial (Wijkenstelsel) memindahkan etnis Tionghoa ke kawasan pecinan Suryakencana. Perpindahan itu melahirkan vihara di Jl. Suryakencana No. 1, Babakan Pasar, yang diyakini berdiri sejak abad ke-18.

Nama aslinya Hok Tek Bio, berarti tempat kebijakan dewa. Arsitektur Miao mendominasi bangunan dengan warna merah-emas dan ukiran naga. Vihara ini masih berdiri di jantung kota sebagai penanda kerukunan budaya.

Kenapa ini penting bagi warga Bogor

Kelima bangunan berada di satu koridor, Bogor Tengah, dan sebagian besar masih dipakai untuk kegiatan pemerintahan serta aktivitas masyarakat. Artinya, perawatan bangunan cagar budaya di kawasan ini bukan urusan masa lalu, melainkan soal keselamatan dan kenyamanan pengguna sehari-hari.

Bogor bukan satu-satunya kota di Jawa Barat yang menghadapi tekanan pembangunan di kawasan bersejarah. Di skala provinsi, pemerintah sedang membongkar bangunan liar di tepi sungai, seperti yang kami laporkan dalam penertiban bangunan liar tepi sungai oleh Dedi Mulyadi.

Risiko kerusakan bangunan tua juga nyata. Kami pernah melaporkan robohnya TPT di Bondongan, Kota Bogor, yang longsorannya menewaskan warga, peristiwa yang menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan struktur di kawasan padat.

Di sisi lain, kawasan wisata seperti Gentong di Tasikmalaya mendapat pengamanan ketat saat musim libur, sebagaimana tergambar dalam pengamanan Ops Lilin 2025 di Gentong. Pengamanan itu menyangkut keselamatan pengunjung, termasuk mereka yang datang untuk menelusuri jejak sejarah kota.