Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Liga 4: Klub Kampus Beri Warna Baru Sepak Bola Bandung dan Nasional

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Liga 4 kerap diwarnai kontroversi, namun klub kampus hadir membawa angin segar. Dengan keseriusan dan penerapan *sport science*, klub seperti UAD FC, UNESA FC, dan Malang United berupaya mencetak talenta sepak bola profesional masa depan di tengah tantangan yang ada.

Liga 4: Klub Kampus Beri Warna Baru Sepak Bola Bandung dan Nasional

Liga 4: Warna Baru Sepak Bola Bandung dan Nasional dari Jantung Kampus

Kompetisi sepak bola Liga 4, yang sering dianggap sebagai strata terbawah, tak luput dari drama dan kontroversi. Dari tendangan brutal, tekel horor, hingga keputusan wasit yang janggal, semua menjadi bumbu penyedap lapangan hijau. Namun, di tengah riuhnya intrik tersebut, muncul geliat positif dari klub-klub kampus yang membawa angin segar dengan keseriusan dan penerapan sport science.

Sebuah insiden di Liga 4 DI Yogyakarta menjadi sorotan ketika wasit hanya memberikan kartu kuning kepada pemain KAFI Jogja, Dwi Pilihanto Nugroho, yang kakinya mendarat di kepala pemain UAD FC, Amirul Muttaqin. Keputusan ini mengingatkan banyak pihak pada kasus Nigel de Jong di final Piala Dunia 2010. Kejadian semacam ini hanyalah satu dari sekian banyak "keanehan" yang kerap mewarnai Liga 4 di berbagai daerah. Tak jarang, penonton menyaksikan kericuhan hingga keributan pascapertandingan, memicu pertanyaan satir, "Apakah pemain Liga 4 ini berasal dari Mortal Kombat?"

Fenomena lain yang tak kalah memprihatinkan adalah hukuman berat bagi pemain muda seperti Muhammad Hilmi Gimnastiar (20 tahun) yang harus mengakhiri kariernya karena sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Jatim. Hilmi dihukum larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup setelah menerjang dada pemain Perseta 1970 Firman Nugraha. Kejadian ini bersama dengan berbagai tindakan tidak sportif lainnya, baik dari pemain maupun ofisial, seringkali berujung pada kerusuhan.

Ketua Komdis PSSI Jatim, Samiadji Makin Rahmat, menyoroti akar masalahnya. "Semua itu dikarenakan tidak ada pemahaman soal Law of The Game (LOG), baik pemain, pelatih, official, maupun owner dari tim-tim," ujarnya. Makin menekankan pentingnya bimbingan teknis (workshop) mengenai LOG sebelum kompetisi dimulai, khususnya bagi semua pihak berkepentingan dalam klub. Persiapan tim yang minim juga dinilai sangat berpengaruh. "Proses seleksi yang cepat membuat klub-klub hanya merekrut pemain berdasarkan skill saja. Attitude, kemampuan berpikir, intelektual, pemahaman taktikal, sampai fisik tidak dilihat. Padahal hal-hal ini berpengaruh pada tindakan pemain di lapangan," jelasnya. Contoh nyata, Persegres Gresik hanya mempersiapkan diri selama seminggu untuk menghadapi kompetisi.

Cahaya Harapan dari Klub-Klub Kampus

Meskipun Liga 4 sering diwarnai hal-hal yang "agak lain", masih ada secercah harapan yang muncul dari partisipasi klub-klub di lingkungan pendidikan tinggi. Beberapa di antaranya:

Manajer UNESA FC, Afif Dwi Nugraha, mengungkapkan bahwa mayoritas pemain dan ofisial timnya adalah mahasiswa serta pegawai kampus. "Kami memang ingin menjadi wadah bagi mahasiswa kami yang ingin berprestasi di sepak bola," kata Afif. Fokus utama timnya adalah pembinaan, namun mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk berprestasi.

Inovasi juga ditunjukkan oleh Malang United, yang menerapkan sport science untuk skuadnya, termasuk penggunaan GPS Tracker Vest untuk pencatatan data pemain. Manajer Malang United, Virdianita, menjelaskan bahwa manajemen tim sangat fokus pada pembinaan pemain muda yang mayoritas berusia 17 tahun, berasal dari akademi mereka sendiri. "Biar nanti ketika naik atau direkrut klub profesional, mereka sudah terbiasa bermain dengan data dari sport science," tegasnya. Pendekatan ini diharapkan dapat membekali pemain muda dengan pemahaman dan kebiasaan yang relevan dengan tuntutan sepak bola modern dan profesional.

Partisipasi klub-klub kampus ini, bersama dengan penerapan sport science, menunjukkan bahwa Liga 4 bukan hanya sekadar kompetisi amatir, tetapi juga platform yang potensial untuk pembinaan pemain muda dan inovasi dalam sepak bola nasional.