Kisah Tak Terputus Olympia: Pabrik Biskuit yang Bertahan 96 Tahun di Bandung
Olympia, pabrik biskuit legendaris di Jalan Cibadak Bandung, telah bertahan sejak 1928 atau hampir satu abad. Menjadi salah satu warisan industri aktif tertua di Indonesia.

Pabrik Biskuit Tertua yang Tetap Bernapas di Jantung Kota Bandung
Di tengah lanskap industri modern yang terus berubah, terdapat satu tempat di Jalan Cibadak, Bandung, yang telah bertahan selama hampir satu abad. Pabrik Biskuit Olympia bukan sekadar fasilitas produksi, melainkan saksi hidup perjalanan sejarah industri di Kota Bandung.
Berdiri sejak tahun 1928, Olympia kini menjadi salah satu dari sedikit warisan industri yang masih aktif beroperasi. Selama hampir satu abad, pabrik ini melewati berbagai era, mulai dari masa kolonial Hindia Belanda, tragedi Bandung Lautan Api, pergolakan politik nasional, hingga era digital saat ini.
Akar Sejarah di Kawasan Pecinan Bandung
Olympia lahir di kawasan Pecinan Bandung, sebuah area yang pada masa kolonial menjadi pusat perdagangan yang sibuk. Menurut Liem Swie Hong, generasi penerus keluarga pendiri, bisnis ini bermula dari pengamatan terhadap kebutuhan pasar.
"Keluarga pendiri melihat permintaan biskuit dari masyarakat Belanda yang cukup tinggi. Dari situlah muncul ide untuk membangun pabrik demi memenuhi kebutuhan tersebut," jelas Liem Swie Hong.
Nama Olympia dipilih dengan makna yang dalam. Diambil dari kata "Olimpiade", nama ini membawa harapan bahwa setiap produk yang dihasilkan akan memiliki kualitas terbaik dan dikenal luas, layaknya para atlet terbaik di pentas dunia.
Masa Kejayaan sebagai Pabrik Terintegrasi
Sepanjang perkembangannya, Olympia berkembang menjadi salah satu pabrik biskuit terbesar di Bandung. Keunikan utama pabrik ini terletak pada sistem produksinya yang terintegrasi penuh—suatu hal yang jarang ditemukan di era tersebut.
"Kami pernah menjadi pabrik yang terintegrasi penuh. Kami membuat kaleng sendiri, mengolah bahan baku, bahkan memproduksi mesin untuk kebutuhan produksi," papar Liem Swie Hong.
Pada masa keemasnya, Olympia mempekerjakan sekitar 560 karyawan, menjadikannya salah satu industri utama yang menggerakkan roda perekonomian Kota Bandung. Jumlah ini menunjukkan betapa besarnya kontribusi pabrik tersebut terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Mengarungi Berbagai Tantangan Zaman
Perjalanan Olympia bukanlah jalur yang selalu mulus. Berbagai peristiwa besar pernah menguji keberlangsungan pabrik ini:
- Bandung Lautan Api — tragedi yang menghancurkan sebagian besar kota pada November 1946
- Dinamika sosial awal 1960-an — masa transisi politik yang penuh gejolak
- Perubahan kondisi politik nasional — pergeseran kebijakan yang berdampak pada sektor industri
- Era modern — competencia dengan produk industri berskala besar
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, aktivitas produksi Olympia tetap dipertahankan. Filosofi untuk terus berproduksi menjadi fondasi yang menjaga eksistensi pabrik ini hingga kini.
Tantangan Modernisasi di Era Kontemporer
Kini, tantangan yang dihadapi Olympia lebih bersifat struktural. Usia fasilitas produksi yang sudah sangat tua membutuhkan pembaruan menyeluruh agar mampu bersaing dengan standar industri pangan modern.
Liem Swie Hong mengakui bahwa modernisasi menjadi kebutuhan mendesak. Namun, proses ini harus dilakukan dengan bijak agar tidak menghilangkan identitas Olympia sebagai salah satu pabrik biskuit tertua di Indonesia.
"Kami harus berbenah agar bisa terus bersaing. Tapi kami juga ingin menjaga warisan dan sejarah yang sudah dibangun selama puluhan tahun," tegas Liem Swie Hong.
Kesetiaan yang Menggetarkan
Bagi sebagian karyawan, Olympia bukan sekadar tempat bekerja—itu adalah bagian dari hidup mereka.
Nono adalah salah satu contohnya. Ia telah menjadi bagian dari pabrik tersebut sejak tahun 1980, atau lebih dari empat dekade terakhir. Selama bertahun-tahun, ia menyaksikan sendiri perubahan besar yang dialami Olympia, dari masa produksi yang sangat sibuk hingga berbagai tantangan yang datang silih berganti.
"Saya mulai bekerja di Olympia sejak tahun 1980. Banyak perubahan yang saya saksi, tetapi saya bersyukur Olympia masih tetap bertahan hingga sekarang," cerita Nono.
Baginya, keberadaan Olympia menjadi bukti nyata bahwa warisan industri Kota Bandung masih memiliki ruang untuk bertahan di tengah perubahan zaman yang terus berlari.
Warisan yang Tetap Hidup
Keberlangsungan Pabrik Biskuit Olympia juga menjadi pengingat penting bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di balik kaca museum. Di sudut Jalan Cibadak, sejarah itu masih terus bergerak bersama mesin produksi yang tetap bekerja.
Setiap biskuit yang keluar dari lini produksi Olympia membawa serta jejak perjalanan hampir satu abad sejarah industri di Kota Bandung. Ini bukan hanya tentang sebuah merek—ini adalah monologue tentang ketahanan, adaptasi, dan komitmen untuk tetap relevan.
Di era di mana banyak hal datang dan pergi dengan cepat, kehadiran Olympia menawarkan perspektif berbeda: bahwa bertahan bukan berarti diam di tempat, melainkan terus bergerak seiring zaman tanpa melupakan akar dan jati diri.