Kisah Mantri BRI di Sultra: Dorong Ekonomi Kerakyatan di Pegunungan
Kisah inspiratif Mispa Lewi Yt, Mantri BRI di Sulawesi Tenggara yang menembus pegunungan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui dukungan usaha lokal dan literasi keuangan.

Semangat Kartini Hidup dalam Kisah Mantri BRI di Pegunungan Sultra
Perjuangan emansipasi perempuan yang diwakili R.A. Kartini bukan hanya cerita sejarah yang terlupakan. Semangatnya terus membakar hingga kini, menginspirasi ribuan perempuan Indonesia untuk melangkah maju, berkarier, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Salah satu sosok yang mewujudkan semangat itu adalah Mispa Lewi Yt, Mantri BRI yang bertugas di BRI Unit Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dengan medan kerja yang penuh tantangan di wilayah pegunungan, Mispa tidak hanya menjalankan tugas perbankan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan bagi warga lokal.
Menembus Akses Terbatas di Wilayah Pegunungan
Ranteangin dikenal dengan kondisi geografis yang menantang. Sebagian besar jalan menuju desa-desa di kawasan ini masih berupa tanah dan batu, sehingga hanya bisa diakses menggunakan sepeda motor. Bahkan, karena wilayah ini dipenuhi kebun cengkeh, rumah-rumah warga saling berjauhan, dengan jarak tempuh hingga 1-2 km jalan kaki antara satu rumah ke rumah lain. Beberapa lokasi bahkan membutuhkan pendakian, sehingga tidak bisa dijangkau dengan motor sama sekali.
Saat musim hujan tiba, medan tanah yang licin semakin memperumit perjalanan. Awal masa bertugas, kondisi ini hampir membuat Mispa menyerah. Namun, semangatnya kembali muncul besok pagi, didukung oleh sambutan hangat nasabah.
"Sempat mau menyerah. Tapi besok paginya tiba-tiba semangat lagi. Yang paling bikin semangat adalah nasabah yang bilang jangan mutasi, tetap di sini sampai bertahun-tahun. Itu yang jadi pemicu semangat saya," kenang Mispa.
Dari PHK Pandemi Menjadi Mantri BRI
Perjalanan karier Mispa di BRI dimulai dari situasi yang tidak mudah. Saat pandemi COVID-19 melanda, ia harus menerima kenyataan dirumahkan dari pekerjaan sebelumnya. Alih-alih putus asa, ia melihat peluang baru di dunia perbankan mikro dan memberanikan diri melamar ke BRI, meskipun usianya sudah melebihi batas pendaftaran maksimal 25 tahun.
Alhamdulillah, Mispa berhasil lolos seleksi dan bergabung sebagai customer service pada tahun 2022. Setelah sekitar 20 bulan bertugas sebagai CS, ia kembali lolos seleksi dan dipercaya menjadi Mantri BRI di wilayah Ranteangin pada awal tahun 2024.
Mendukung Usaha Lokal dan Literasi Keuangan
Sebagai Mantri BRI, tugas Mispa tidak hanya terbatas pada layanan perbankan rutin. Ia juga bertanggung jawab untuk mendorong inklusi keuangan dan literasi keuangan bagi masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani cengkeh. Banyak dari mereka membutuhkan akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha, namun kurang memahami layanan perbankan digital.
Selain melayani nasabah perorangan, Mispa juga membina klaster usaha minuman herbal berbahan rimpang yang dikenal sebagai Gujames. Ia memberikan bantuan modal, edukasi pemasaran, serta pendampingan e-commerce untuk membantu klaster ini berkembang. Saat ini, klaster Gujames telah memiliki kemasan yang profesional, sertifikat halal dari MUI, dan telah memasarkan produknya hingga ke luar wilayah desa.
Mispa menambahkan, perannya sebagai Mantri BRI bukan hanya sekadar profesi, tetapi juga kesempatan untuk berkembang dan memberikan dampak positif. Ia percaya bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga, memberdayakan masyarakat, dan membangun negeri.
"Perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi juga bisa membantu perekonomian keluarga, memberdayakan masyarakat, dan membangun negeri. Banyak perubahan positif yang saya rasakan selama menjadi Mantri BRI, terutama dalam komunikasi, wawasan, dan kesejahteraan," tutup Mispa.
Peran Mantri BRI dalam Ekonomi Nasional
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan bahwa Mantri BRI adalah tenaga pemasar produk mikro yang berperan penting dalam penggerak pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Indonesia. Dengan pemahaman yang kuat terhadap karakter usaha, potensi wilayah, serta kebutuhan finansial nasabah, mantri BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga bertindak sebagai financial advisor yang mengawal pertumbuhan usaha sejak tahap awal.
Hingga saat ini, BRI memiliki lebih dari 26.000 mantri BRI, dengan 28,2% di antaranya merupakan perempuan. Akhmad menegaskan, kisah Mispa menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi dengan tantangan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
"Kisah ini menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. BRI percaya bahwa kesetaraan kesempatan adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," tegas Akhmad.
Kesimpulan
Kisah Mispa Lewi Yt adalah bukti nyata bagaimana semangat emansipasi perempuan terus hidup dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional. Dengan menembus akses terbatas di pegunungan Sultra, ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai Mantri BRI, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat lokal. Semoga kisah ini terus menginspirasi banyak perempuan lainnya untuk berkarier dan berkontribusi pada kemajuan bangsa.