Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kisah Inspiratif Pelari dengan Kelainan Jantung dan Skoliosis yang Menaklukkan Marathon

Jabar · Oleh · · Diperbarui 15 Agustus 2026

Kisah inspiratif pelari dengan prolaps katup jantung dan skoliosis yang tak patah semangat, berhasil finish marathon penuh.

Kisah Inspiratif Pelari dengan Kelainan Jantung dan Skoliosis yang Menaklukkan Marathon

Olahraga lari kini telah melampaui sekadar aktivitas fisik—bagi banyak orang, ini telah menjelma menjadi gaya hidup yang membawa makna lebih dalam. Termasuk bagi mereka yang hidup dengan kondisi kesehatan tertentu.

Tak sedikit individu dengan kelainan jantung hingga gangguan tulang belakang justru menemukan motivasi baru untuk hidup lebih sehat melalui berlari. Keterbatasan yang dimiliki tidak menjadi penghalang untuk tetap konsisten dan aktif.

Berdasarkan panduan dari Mayo Clinic, pengidap asma, diabetes, maupun gangguan jantung tetap dapat berlari asalkan mengatur intensitas latihan, pola makan, dan waktu istirahat secara tepat. Artinya, memiliki kondisi kesehatan tertentu bukan berarti harus meninggalkan kebiasaan berlari.

Baca Juga: Panda Mengibar Bendera Lagi Setelah 38 Tahun, Penghuni Panti Sosial Aura Welas Asih Sukabumi Ikuti Upacara HUT ke-81

Mengenai hal ini, dua kisah nyata dari para pelari Indonesia menjadi bukti bahwa semangat dan determinasi bisa mengatasi berbagai keterbatasan. Berikut cerita mereka:

Mengatasi Kelainan Jantung dengan Strategi Latihan yang Tepat

Muhammad Muhaimin Marta (34) adalah salah satu contoh nyata bahwa kelainan jantung bukanlah akhir dari segalanya. Didiagnosis mengidap kelainan jantung Mitral Valve Prolapse (MVP), pria ini tidak pernah menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk berhenti berlari.

Baca Juga: Diskominfo Cirebon Latih Forum Anak Jadi Garda Terdepan Literasi Digital di Kalangan Sebaya

Dilansir dari Cleveland Clinic, MVP merupakan kelainan pada katup jantung yang menyebabkan katup mitral tidak menutup dengan sempurna. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko aritmia atau detak jantung tidak beraturan, sehingga penderita perlu lebih berhati-hati saat menjalani aktivitas fisik berat.

"MVP memiliki risiko aritmia atau detak jantung yang tidak beraturan. Kendala ini membuat saya tidak bisa memaksakan diri saat latihan berlari lebih kencang," jelas Muhaimin.

Karena tidak dapat memaksimalkan intensitas latihan, Muhaimin mengubah strateginya. Alih-alih mengejar kecepatan, ia memilih berlari dengan intensitas ringan namun durasi lebih panjang. Pendekatan ini memungkinkan tubuhnya tetap beradaptasi tanpa membebani jantung secara berlebihan.

Hasilnya sangat membekas. Pada Jakarta International Marathon 2026, Muhaimin berhasil menyelesaikan jarak penuh 42 kilometer dengan catatan waktu 5 jam 39 menit.

"Bukan main terharunya, saya berhasil finish 42 KM. Menjelang garis finish air mata saya menitik haru, terlebih istri dan anak saya menanti di balik garis finish," kenangnya.

Pencapaian tersebut kini menjadi bahan bakar motivasi Muhaimin untuk terus melangkah. Ia bahkan memiliki mimpi untuk mengikuti Copenhagen Marathon suatu hari nanti. Di balik semua itu, ada alasan sederhana namun mendalam: منذ didiagnosis MVP, ia semakin bersemangat memperbaiki gaya hidup agar bisa hidup sehat lebih lama bersama keluarga tercinta.

Tantangan Skoliosis yang Tak Menghentikan Semangat Lari

Cerita tidak kalah inspiratif datang dari Chasanah (31), seorang perempuan yang hidup dengan skoliosis. Kelainan pada tulang belakang ini membuatnya harus lebih bijak dalam mengatur ritme saat berlari.

Chasanah tidak bisa memaksakan tubuhnya, baik saat latihan maupun saat mengikuti race. Mengikuti saran dari instrukturnya, ia selalu menerapkan aturan khusus untuk menjaga kondisinya tetap terkendali.

"Kalau terlalu di-pressure, rasa pegal akan mulai terasa. Saya sering rehat sebentar untuk stretching di track saat berlari," cerita Chasanah.

Tantangan yang dihadapi Chasanah bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ada kalanya ia merasa ingin menangis ketika nyeri di tulang belakang muncul saat sedang berlari. Namun, ia tidak pernah menyerah.

Untuk menjaga kondisinya, Chasanah menerapkan beberapa hal penting yang disarankan oleh instrukturnya:

Ke depannya, Chasanah menargetkan untuk mengikuti lebih banyak ajang lari populer seperti Garmin Run, JRF, hingga BTN Jakarta International Marathon untuk kategori 5K. Saat ini, ia masih terus berlatih agar bisa menyelesaikan jarak tersebut dengan lebih stabil.

"Masih ada sebersit harapan bahwa kita mampu melewati rasa takut kita sendiri," tutup Chasanah penuh semangat.

Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang untuk Hidup Aktif

Kedua kisah di atas membuktikan satu hal penting: keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Baik kelainan jantung maupun skoliosis, keduanya menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, gaya hidup aktif tetap bisa dijalani.

Konsistensi, kesabaran, dan komitmen menjadi kunci utama mereka dalam menjalani latihan. Bukan sekadar mencapai target tertentu, tetapi membangun kebiasaan yang berkelanjutan demi kesehatan jangka panjang.

Jadi, apakah kamu juga memiliki tantangan kesehatan tertentu? Ingatlah bahwa selama ada kemauan dan strategi yang tepat, siapa pun dapat menjalani gaya hidup lebih bugar dan berkualitas. Inspirasi bisa datang dari mana saja—termasuk dari mereka yang memilih untuk tidak menyerah melawan kondisi yang mereka miliki.