Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kerja Berbahaya di Sungai Citarum yang Tak Pernah Benar-benar Pulih

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Warga Kutawaringin mengandalkan ikan sapu‑sapu dan cacing sutera dari Citarum untuk penghasilan, namun produk tersebut terkontaminasi mikroplastik dan logam berat, menimbulkan risiko kesehatan.

Kerja Berbahaya di Sungai Citarum yang Tak Pernah Benar-benar Pulih

Risiko Kesehatan Ikan Sapu‑Sapu dan Cacing Sutera di Citarum

Konteks lokal – Di bawah Jembatan Gajah Eretan, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Sungai Citarum menjadi sumber penghidupan sekaligus zona risiko bagi warga setempat. Dua warga, Andri (44) dan Rian (35), setiap hari menelusuri lumpur untuk menangkap ikan sapu‑sapu dan mengais cacing sutera, dua komoditas yang tumbuh subur karena tingkat pencemaran yang tinggi.


Latar Belakang Ekonomi Lokal


Praktik Penangkapan dan Nilai Pasar


Kontaminasi Mikroplastik dan Logam Berat

"Di perut ikan sering ditemukan serpihan kecil, namun kami tidak pernah diberi informasi apakah ikan itu layak konsumsi," kata Andri.

Penelitian ilmiah di Citarum mengidentifikasi ratusan partikel mikroplastik per kilogram sedimen serta akumulasi mikroplastik di saluran pencernaan ikan dasar. Ikan sapu‑sapu, sebagai spesies bentik, cenderung mengakumulasi logam berat (misalnya timbal, merkuri) bersama mikroplastik.


Dampak Kesehatan bagi Pekerja dan Konsumen


Tantangan Kebijakan dan Rekomendasi

  1. Pengawasan rantai pasok – Pemerintah daerah harus mewajibkan uji laboratorium bagi ikan dan cacing yang diperdagangkan.
  2. Perlindungan pekerja – Penyediaan alat pelindung diri (APD) dan program kesehatan bagi warga yang bergantung pada penangkapan.
  3. Rehabilitasi sungai – Upaya pembersihan harus melampaui sekadar visual; harus mencakup pengendalian limbah industri, pengurangan mikroplastik, dan monitoring kualitas air secara berkala.
  4. Diversifikasi ekonomi – Program pelatihan dan bantuan modal untuk usaha alternatif dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang tercemar.
  5. Keterlibatan komunitas – Masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan kebijakan, mengingat mereka adalah pihak terdepan yang merasakan dampak pencemaran.

Dengan mengintegrasikan pengawasan keamanan pangan, perlindungan tenaga kerja, dan upaya restorasi ekosistem, risiko kesehatan yang kini menimpa warga Kutawaringin dapat diminimalisir, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan.