Kerja Berbahaya di Sungai Citarum yang Tak Pernah Benar-benar Pulih
Warga Kutawaringin mengandalkan ikan sapu‑sapu dan cacing sutera dari Citarum untuk penghasilan, namun produk tersebut terkontaminasi mikroplastik dan logam berat, menimbulkan risiko kesehatan.

Risiko Kesehatan Ikan Sapu‑Sapu dan Cacing Sutera di Citarum
Konteks lokal – Di bawah Jembatan Gajah Eretan, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Sungai Citarum menjadi sumber penghidupan sekaligus zona risiko bagi warga setempat. Dua warga, Andri (44) dan Rian (35), setiap hari menelusuri lumpur untuk menangkap ikan sapu‑sapu dan mengais cacing sutera, dua komoditas yang tumbuh subur karena tingkat pencemaran yang tinggi.
Latar Belakang Ekonomi Lokal
- Pekerjaan sampingan: Kedua pria ini bekerja sebagai pembersih sungai dan buruh tani, namun pendapatan utama mereka berasal dari penangkapan ikan dan cacing.
- Jam kerja: Aktivitas dimulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, tanpa perlindungan pribadi atau standar keselamatan.
- Pendapatan: Rata‑rata 20 kg ikan sapu‑sapu (Rp 11.000/kg) menghasilkan Rp 220 ribuan, sementara 10 kg cacing sutera (Rp 15.000/kg) menambah Rp 150 ribuan. Total harian dapat mencapai Rp 370 ribu.
Praktik Penangkapan dan Nilai Pasar
- Distribusi: Ikan sapu‑sapu biasanya dijual ke tengkulak dan diproses menjadi campuran bakso ikan; cacing sutera dipasarkan sebagai pakan ikan hias.
- Pengawasan: Rantai distribusi hampir tidak pernah melalui uji keamanan pangan, sehingga konsumen akhir tidak mengetahui tingkat kontaminasi.
Kontaminasi Mikroplastik dan Logam Berat
"Di perut ikan sering ditemukan serpihan kecil, namun kami tidak pernah diberi informasi apakah ikan itu layak konsumsi," kata Andri.
Penelitian ilmiah di Citarum mengidentifikasi ratusan partikel mikroplastik per kilogram sedimen serta akumulasi mikroplastik di saluran pencernaan ikan dasar. Ikan sapu‑sapu, sebagai spesies bentik, cenderung mengakumulasi logam berat (misalnya timbal, merkuri) bersama mikroplastik.
- Risiko rantai makanan: Mikroplastik < 5 mm dapat berpindah dari lingkungan ke jaringan ikan, kemudian masuk ke produk olahan seperti bakso ikan.
- Dampak kesehatan: Partikel ini dapat membawa zat aditif kimia, patogen, serta memicu gangguan metabolik, inflamasi, dan potensi efek jangka panjang pada manusia.
Dampak Kesehatan bagi Pekerja dan Konsumen
- Pekerja: Andri dan Rian bekerja tanpa alat pelindung, terpapar langsung pada air keruh yang mengandung logam berat dan mikroplastik.
- Konsumen: Produk yang dijual ke pasar lokal berpotensi mengandung kontaminan, namun tidak ada uji laboratorium yang menjamin keamanan.
- Indikator ekologis: Keberadaan cacing sutera dalam jumlah besar menandakan kualitas air yang buruk dan kandungan bahan organik tinggi.
Tantangan Kebijakan dan Rekomendasi
- Pengawasan rantai pasok – Pemerintah daerah harus mewajibkan uji laboratorium bagi ikan dan cacing yang diperdagangkan.
- Perlindungan pekerja – Penyediaan alat pelindung diri (APD) dan program kesehatan bagi warga yang bergantung pada penangkapan.
- Rehabilitasi sungai – Upaya pembersihan harus melampaui sekadar visual; harus mencakup pengendalian limbah industri, pengurangan mikroplastik, dan monitoring kualitas air secara berkala.
- Diversifikasi ekonomi – Program pelatihan dan bantuan modal untuk usaha alternatif dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang tercemar.
- Keterlibatan komunitas – Masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan kebijakan, mengingat mereka adalah pihak terdepan yang merasakan dampak pencemaran.
Dengan mengintegrasikan pengawasan keamanan pangan, perlindungan tenaga kerja, dan upaya restorasi ekosistem, risiko kesehatan yang kini menimpa warga Kutawaringin dapat diminimalisir, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan.