Kenaikan Harga Kedelai di Jabar: Penurunan Keuntungan Pedagang Tempe Tahu 15%
Kenaikan harga kedelai hingga Rp11.000 per kg membuat keuntungan pedagang tempe dan tahu di Jawa Barat menipis hingga 15 persen. Mereka menahan harga jual meskipun biaya produksi termasuk kemasan plastik naik.

Latar Belakang dan Kondisi Pasca Kenaikan Harga Kedelai
Di tengah kenaikan harga kedelai yang terus bertahan di kisaran Rp11.000 per kilogram, pedagang dan perajin tempe serta tahu di Jawa Barat menghadapi tekanan serius pada margin keuntungan mereka. Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat, Muhammad Zamaludin, mengkonfirmasi bahwa keuntungan perajin telah menipis hingga 15 persen dalam beberapa bulan terakhir.
Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku
Zamaludin menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai telah berlangsung sejak sebelum bulan Ramadan dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga saat ini. "Kalau pembelian enggak berkurang, cuma keuntungan yang berkurang. Ada juga yang rugi," kata Zamaludin dalam wawancara Sabtu (30/5/2026).
Meskipun permintaan pasar tidak mengalami penurunan signifikan, sebagian perajin mempertahankan volume produksi mereka tanpa melakukan pemotongan skala. Kapasitas produksi bervariasi secara luas, mulai dari usaha rumahan yang memproduksi 13 hingga 16 kilogram per hari, hingga skala besar yang mencapai 300 kilogram bahkan 5 ton sehari.
Upaya Menahan Biaya dan Harga Jual
Sebelumnya, perajin sempat menaikkan harga jual produk mereka sekitar Rp2.000 per papan untuk mengurangi tekanan biaya produksi. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup menutup kenaikan harga bahan baku yang lebih signifikan. "Kita enggak bisa terus-terusan naikin harga. Kenaikan biaya bahan baku lebih besar. Jadi keuntungan berkurang lagi," tambah Zamaludin.
Saat ini, harga tahu ukuran kecil yang berisi 10 buah dijual dari pabrik berada di kisaran Rp6.200 per bungkus. Selain harga kedelai, biaya kemasan plastik juga menjadi beban tambahan bagi perajin. Zamaludin mengungkapkan bahwa harga plastik kemasan yang sebelumnya berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000 per satuan kini telah naik menjadi Rp60.000 sampai Rp70.000. Meskipun sempat turun sedikit, harga plastik masih jauh lebih tinggi dibanding kondisi normal sebelum kenaikan.
Pilihan Pelaku Usaha
Kondisi ekonomi yang menekan ini membuat sebagian pelaku usaha harus mengurangi margin keuntungan mereka agar harga produk tetap terjangkau bagi konsumen. "Sejauh ini, para perajin memilih mempertahankan ukuran dan kualitas produk dibanding memangkas produksi," jelas Zamaludin. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan konsumen dan mempertahankan volume penjualan yang stabil, meskipun harus menanggung penurunan keuntungan yang signifikan.
Beberapa faktor yang memperparah situasi ini meliputi:
- Kenaikan harga kedelai yang berlangsung lebih dari dua bulan
- Keterbatasan dalam menaikkan harga jual produk akibat stabilnya permintaan pasar
- Peningkatan biaya kemasan plastik yang belum pulih ke level normal
"Kita tidak ingin membuat produk kita lebih mahal karena khawatir akan mengurangi minat konsumen. Namun, biaya produksi terus meningkat tanpa ada harapan penurunan dalam waktu dekat," ujar Zamaludin.
Analisis dan Harapan Masa Depan
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya usaha mikro dan kecil dalam rantai pasok pangan terhadap fluktuasi harga bahan baku. Para perajin tempe dan tahu di Jawa Barat berharap ada intervensi dari pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai dan mengurangi beban biaya produksi bagi pelaku usaha kecil. Selain itu, beberapa pelaku usaha juga mempertimbangkan untuk mencari alternatif bahan baku lokal jika harga kedelai terus meningkat, meskipun hal ini membutuhkan penyesuaian proses produksi.