Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kemacetan 20 KM di Gilimanuk, Pemudik Pilih Berjalan Kaki

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan ·

Kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk menyusut menjadi 20 KM pada 16 Maret 2026. Banyak pemudik terjebak berjam-jam, bahkan berjalan kaki dan bermalam di dermaga, mengeluhkan macet terparah sekarir 20 tahun.

Kemacetan 20 KM di Gilimanuk, Pemudik Pilih Berjalan Kaki

Kondisi Arus Mudik di Pelabuhan Gilimanuk 2026

Masa arus mudik tahun 2026 menghadirkan tantangan besar bagi pengunjung dan pemudik di kawasan Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Pada Senin (16/3/2026), otoritas melaporkan bahwa panjang antrean kendaraan yang semula mencapai 32 kilometer, telah menyusut menjadi sekitar 20 kilometer. Meskipun ada penurunan, kondisi ini masih meninggalkan ribuan pemudik terjebak berjam-jam di jalan antrean.

Pemudik Terjebak, Pilih Berjalan Kaki

Banyak pemudik yang terjebak macet untuk waktu yang lama akhirnya memilih untuk berjalan kaki menuju pelabuhan, untuk mempersingkat waktu sampai ke dermaga. Selain itu, sejumlah orang juga bermalam di sekitar pelabuhan karena tidak kunjung mendapatkan giliran menyeberang ke pulau Jawa.

Salah satu pemudik, Ahmad Khoiri yang berasal dari Gresik, Jawa Timur, mengeluhkan pengalamannya yang terjebak macet selama hampir sehari penuh. Ia berangkat pada pagi hari Minggu (15/3/2026) dan belum bisa memasuki area pelabuhan hingga Senin sore.

"Berangkat kemarin Minggu pagi, sampai sekarang belum juga masuk pelabuhan," kata Ahmad ketika ditemui di jalur antrean.

Ahmad, yang telah bekerja di Bali sejak 2005, menyatakan bahwa ini adalah macet terparah yang pernah ia alami selama 20 tahun bekerja di pulau ini. Sebelumnya, ia pernah terjebak antrean paling lama 12 jam, tapi tahun ini macetnya mencapai lebih dari sehari semalam.

"Paling parah sejak 20 tahun saya kerja di Bali," ujarnya.

Penyebab Kemacetan Menurut Pemudik

Beberapa pemudik menyebut bahwa pembatasan angkutan barang yang diberlakukan sejak Jumat (13/3/2026) menjadi salah satu penyebab utama kemacetan ini. Sugeng, seorang pemudik asal Ponorogo, mengatakan bahwa aturan pembatasan seharusnya benar-benar diterapkan dengan tegas, karena banyak kendaraan yang seharusnya tidak diizinkan beroperasi, terutama truk sumbu tiga, masih terjebak di antrean panjang.

"Kalau pembatasan dilaksanakan dengan baik, mungkin tidak macet seperti ini," paparnya.

Upaya Penanggulangan dari Otoritas

Otoritas setempat telah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan Gilimanuk. Di Simpang Tiga Cekik, personel kepolisian bersama Kapolres Jembrana AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati mengatur arus kendaraan yang menuju pelabuhan. Kebijakan yang diterapkan adalah memberikan prioritas kepada kendaraan pribadi dan motor, sedangkan kendaraan barang tidak diprioritaskan.

Kendaraan roda dua dan roda empat diarahkan masuk ke Parkir Kargo Gilimanuk yang digunakan sebagai area penyangga sebelum memasuki area pelabuhan. Sementara itu, di dalam pelabuhan, semua area parkir telah terisi penuh oleh kendaraan roda empat, bus, dan motor.

Selain pengaturan lalu lintas, ASDP Indonesia Ferry (Persero) juga melakukan berbagai langkah percepatan operasional bersama stakeholder. Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan bahwa timnya telah bekerja sama dengan kepolisian untuk mengoptimalkan layanan penyeberangan.

"Berbagai langkah percepatan operasional terus kami lakukan bersama stakeholder, mulai dari pengaturan lalu lintas di jalur antrean hingga optimalisasi layanan penyeberangan, agar arus kendaraan tetap bergerak dan antrean dapat segera terurai," ujar Heru pada Senin (16/3).

Menurut laporan operasional, pada Senin pukul 14.00 WITA, polisi telah menerapkan pola lalu lintas satu arah dalam radius sekitar 4,5 kilometer di sekitar area antrean. Ekor antrean kendaraan berada di sekitar KM 15, dengan kepadatan yang terpotong-potong seiring dengan pengaturan lalu lintas dan proses penyerapan kendaraan ke pelabuhan.

ASDP juga mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan efisiensi layanan penyeberangan:

Berdasarkan laporan operasional ASDP Cabang Ketapang-Posko Pelabuhan Gilimanuk pada Minggu (15/3) pukul 19.00 WITA, sebanyak 33 unit kapal telah dioperasikan di lintasan Ketapang-Gilimanuk dengan skema TBB yang membantu mempercepat proses penyeberangan.

Kemacetan Juga Terjadi di Pelabuhan Merak

Tidak hanya di Gilimanuk, arus kendaraan menuju Pelabuhan Merak di Banten juga tersendat parah. Penyebab utamanya adalah kecelakaan truk di ruas tol Tangerang-Merak KM 76, tepatnya di Jembatan Kidemang, Kota Serang. Insiden ini membuat jalur tol ditutup sebagian untuk proses evakuasi, menambah beban arus mudik nasional yang sudah padat.

Kasus Individu Pemudik yang Terjebak

Salah satu pemudik yang mengalami kesulitan parah adalah Daimam, 59 tahun asal Purwodadi, Jawa Tengah. Ia terjebak macet sejak Minggu sore pukul 17.00 WITA di ruas Jalan Denpasar-Gilimanuk, dan hingga Senin subuh kendaraan yang ditumpanginya belum juga bergerak.

Saat rombongannya tiba di Dusun Sumbersari, Daimam memutuskan untuk turun dari travel dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki bersama beberapa penumpang lainnya. Ia menempuh jarak sekitar 10 kilometer untuk mencapai kawasan Gilimanuk, dan saat ini sedang beristirahat di Masjid Al-Mubarok sambil menunggu kabar tentang kendaraan yang ditumpanginya.

"Subuh saya turun dari travel. Badan capek, tapi kalau nunggu di mobil rasanya tidak ada kepastian," katanya.

Hingga pukul 14.30 WITA, kendaraan yang ditumpanginya masih terjebak di kawasan hutan Cekik, dan Daimam mengatakan bahwa ia sudah pasrah untuk menunggu sampai kendaraannya tiba di pelabuhan.

Penutup

Meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk, antrean kendaraan masih terlihat panjang, menunjukkan tantangan besar dalam mengelola arus mudik tahun ini. Banyak pemudik yang mengeluhkan bahwa ini adalah macet terparah dalam beberapa dekade terakhir, dan berharap bahwa upaya penanggulangan dapat segera mengurai antrean sehingga mereka bisa pulang ke kampung halaman dengan aman.