KAPMI Jawa Barat Bidik 8 Persen Pertumbuhan Ekonomi Lewat Tiga Pilar Program UMKM dan Ekspor
KAPMI Jawa Barat unterapkan tiga pilar kerja untuk mendongkrak ekonomi 8 persen. UMKM promete pendampingan kapasitas, hilirisasi, dan kemitraan bisnis sebagai strategi nyata pelaku usaha kecil naik kelas.

Pelaku UMKM di Jawa Barat mendapat tantangan baru setelah Octavia Vadilla Supratman resmi memimpin Badan Pengurus Daerah KAPMI Jawa Barat. Organisasi pengusaha ini menjanjikan program konkret untuk membantu pelaku usaha kecil naik kelas, bukan sekadar organisasi seremonial.
Jawa Barat memiliki potensi ekonomi besar di sektor pertanian, perkebunan, pangan, manufaktur, dan ekonomi kreatif. Namun potensi itu belum sepenuhnya化为 nilai tambah bagi pelaku usaha kecil. Octavia menyadari hal ini dan langsung menetapkan tiga pilar kerja.
Pilar pertama adalah penguatan jejaring pengusaha. Octavia ingin menciptakan sinergi antara pengusaha, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan mitra dagang internasional. Pilar kedua fokus pada peningkatan kapasitas UMKM. Pilar ketiga berupa perluasan kemitraan bisnis untuk membuka akses pasar.
"UMKM naik kelas bukan sekadar peningkatan omzet, melainkan juga peningkatan profesionalisme, produktivitas, kualitas produk, kapasitas produksi, dan kemampuan mengakses pasar yang lebih luas," jelas Octavia.
Program pendampingan akan menyentuh aspek legalitas usaha, sertifikasi produk, standar mutu, pengembangan merek, hingga pemahaman regulasi ekspor. Octavia mengakui pelaku UMKM sering kali belum mampu memenuhi persyaratan ini sendiri.
Hilirisasi menjadi bagian penting dari strategi KAPMI. Octavia mendorong pengusaha daerah untuk mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Langkah ini diharapkan membuka peluang ekspor produk jadi maupun produk olahan.
Baca Juga: Guru Ngaji di Majalengka Ditahan karena Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap 4 Anak
Kemitraan antara UMKM dan perusahaan eksportir juga akan diperkuat. Octavia ingin produk-produk unggulan daerah masuk ke dalam rantai pasok perdagangan global, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi.
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang berkeadilan menjadi acuan kerja KAPMI. Octavia menekankan bahwa pertumbuhan itu harus menciptakan kesempatan berusaha bagi berbagai lapisan, termasuk generasi muda yang bergerak di bidang kewirausahaan.
Namun kalangan pelaku UMKM di daerah masih menunggu implementasi nyata dari janji-janji ini. Mereka berharap program pendampingan benar-benar menyentuh kebutuhan dasar usaha kecil, bukan hanya menjadi wacana dalam pertemuan pengusaha.