Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Petugas Damkar Kuningan Tangani Ular Kobra Tanpa Stok Antiserum dan BPJS Ketenagakerjaan

Jabar · Oleh ·

Petugas Damkar Kuningan tangani ular kobra tanpa antiserum dan BPJS Ketenagakerjaan. Penangkaran sementara di kantor sering tidak mampu menahan ular agar tidak lolos.

Petugas Damkar Kuningan Tangani Ular Kobra Tanpa Stok Antiserum dan BPJS Ketenagakerjaan

Petugas Pemadam Kebakaran Kuningan sehari-hari berhadapan dengan king kobra tanpa dilengkapi antiserum. Mereka hanya mengandalkan masker, face shield, dan alat pelindung diri biasa saat mengevakuasi dan menahan ular berbisa yang masuk ke permukiman warga.

Andri Arga Kusuma, Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kuningan, membenarkan kondisi itu. Ia menyebut antiserum memang belum tersedia di kantor mereka.

"Nggak ada. Kita cuman menggunakan APD aja, pakai masker ya, pakai facial, itu biarkan king kobra berapa kali nyembur juga, tapi untungnya pakai faceshield, jadi nggak kena mata gitu. Antiserum sebetulnnya butuh, tapi kan harus tenaga medis yang melakukan tindakannya harus tenaga medis, itu kan harus ada dosisnya, resepnya kan. Jadi kalau ada apa-apa kita langsung ke RS 45," tutur Arga.

Baca Juga: Polisi Subang Sita 182 Botol Miras dari Dua THM dan Tangkap 2 Pengedar Sabu dengan 75 Paket

Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan menjadi rujukan ketika terjadi gigitan. Jaraknya tidak jauh dari Markas Komando Damkar di Jalan Jendral Sudirman, Awirarangan, Kecamatan Kuningan. Namun, jarak dan waktu tetap menjadi risiko saat kondisi darurat terjadi.

Tekanan kerja petugas tidak hanya datang dari evaksi di lapangan. Fasilitas penangkaran sementara di kantor damkar juga bermasalah. Setidaknya ada tiga titik kandang yang digunakan, tetapi konstruksinya sederhana. Satu kandang terbuat dari lemari kaca mirip akuarium dekat toilet, satu lagi berupa kerangka besi di sudut gedung dekat mobil pemadam, dan satu di halaman depan. Untuk ular kecil, petugas menggunakan galon bekas sebagai wadahnya.

"Kita kebanyakan sih pakai galon air minum ya, galon yang karena itu lebih efektif isinya, nggak makan tempat, terus lebih aman juga. Tutupnya itu kan kecil ya, bisa dimin, walaupun tetap saja suka pada kabur," tutur Arga.

Baca Juga: Karang Taruna Husada Bekasi Rencanakan Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk Ribuan Warga pada 2027

Bukti ketidakamanan fasilitas itu pernah terjadi.seekor ular kobra kecil pernah ditemukan di area toilet kantor damkar setelah lolos dari penangkaran. Petugas yang ada di lokasi tidak disengat, tetapi risiko tetap tinggi karena ular itu masih aktif dan berbisa.

"Karena kita simpan terlalu lama, kita juga suka kesulitan dan lama-lama nggak ketahuan kan, saking banyaknya gitu ada yang lepas berapa gitu. Tapi alhamdulillah sejauh ini nggak ada yang kepatok karena ular lepas gitu," papar Arga.

Insiden lebih besar pernah terjadi di Gedung Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kuningan yang lokasinya bersebelahan dengan kantor damkar. Pada Agustus 2026, saat pembersihan gudang, security menemukan 5 ekor ular selama dua hari. Salah satunya adalah ular weling.

"Nah Agustus kemarin di KPU ini beres-beres gudang sekalian ngebangun. Karena beberapa kali di ruang KPU ini pinggir gedung apa damkar ini security-nya nemu ular. Nah kemarin dibersihin, dapat 5 ekor selama 2 hari beres-beres. Di gedung Damkar sini lepas," terang Arga.

Ular-ular yang lolos dari penangkaran damkar itu kemudian menyebar ke gedung pemerintahan terdekat. Arga menduga angka 5 ekor bukan jumlah final karena proses pembersihan belum tuntas.

Penanganan jangka panjang untuk satwa liar yang berhasil ditangkap交给了 komunitas pecinta reptil di Kabupaten Kuningan. Biasanya dalam dua hingga tiga hari, ular akan diambil dan dilepasliarkan ke habitat jauh dari permukiman.

"Jadi kami lebih baik dipercayakan ke komunitas reptil karena mereka itu dunianya, mereka tahu habitatnya, mereka ada jadwalnya, punya SOP-nya cara merawat segala macamnya. Nggak ke BKSDA soalnya kan jauh, kecuali paling untuk hewan-hewan yang langka saja," jelas Arga.

Untuk mencegah pelarian kembali dan melindungi petugas, Arga berharap kantor damkar segera memiliki penangkaran yang lebih representatif. Ia juga mendorong agar seluruh petugas mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan.

"Paling penangkarannya kalau alatnya alhamdulillah sudah agak komplit ya, terus sekarang kan kemarin kita ada pengadaan stick-nya. Terus APD-nya juga sama, tinggal penangkarannya gitu, kita pengin kalau ada rezekinya mah pengen bikin penangkaran kecil atau kalau untuk hewan jenis ular itu bisa semodel akuarium raksasa gitu. Ya ke depannya minimal BPJS Ketenagakerjaan. Karena masih belum ter-cover, belum aktif, masih menggunakan BPJS yang umum," tegas Arga.

Situasi serupa pernah dialami petugas damkar di daerah lain di Jawa Barat. Seperti di Ciamis, king kobra juga pernah dievakuasi tanpa jaminan serum antidot. Kondisi itu menunjukkan ketiadaan antisrum bukan hanya masalah lokal, melainkan bagian dari kesenjangan keselamatan kerja di tubuh penyelamat sipil.