Kabupaten Bandung Rawan Banjir: Pemkab Siapkan 20 Infrastruktur Pengendali
Pemkab Bandung siapkan 20 infrastruktur pengendali banjir untuk mengatasi rawan banjir akibat perubahan lahan, penyempitan aliran sungai, dan karakteristik geografis wilayah berbentuk mangkuk.

Wilayah Kabupaten Bandung tetap menjadi daerah rawan banjir hingga saat ini, menurut data Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung. Untuk mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk 20 proyek infrastruktur pengendali banjir yang masuk tahap perencanaan.
Faktor Penyebab Banjir di Kabupaten Bandung
Wilayah Kabupaten Bandung memiliki karakteristik unik yang membuatnya rentan terhadap banjir, menurut Kepala DPUTR Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqwa. Ia menjelaskan bahwa wilayah ini berbentuk seperti mangkuk seluas 1.800 kilometer persegi yang dikelilingi pegunungan, sehingga air dari gunung akan bermuara ke pusat cekungan melalui sungai Citarum.
"Karakteristik geografis kita itu, menyerupai mangkuk seluas 1.800 kilometer persegi yang dikelilingi pegunung. Lalu, air gunung semuanya bermuara ke pusat cekungan melalui sungai Citarum," ujarnya kepada awak media pada Sabtu (30/5/2026).
Selain faktor geografis, perubahan pemanfaatan lahan dalam kurun 10 tahun terakhir juga turut memperparah potensi banjir. Tercatat sekitar 942,68 hektare lahan pertanian telah berubah menjadi kawasan terbangun, dengan perubahan paling signifikan terjadi di Kecamatan Cimenyan dan Cilengkrang. Di Cimenyan, luas kawasan permukiman bertambah sekitar 584,90 hektare, seiring penyusutan lahan pertanian mencapai 582,4 hektare. Sementara di Cilengkrang, penambahan luas permukiman mencapai 321,03 hektare.
Hal ini membuat potensi genangan banjir meluas hingga 10.140 hektare, tersebar di 19 kecamatan di Kabupaten Bandung. Selain itu, penyempitan aliran sungai akibat tumpukan sampah, limbah industri, dan buangan domestik (grey water) juga turut memperparah situasi banjir.
Daerah Rentan Banjir Terparah
Berdasarkan data DPUTR, beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung menjadi daerah paling rentan terdampak banjir, antara lain:
- Kecamatan Dayeuhkolot
- Kecamatan Baleendah
- Kecamatan Bojongsoang
Selain ketiga kecamatan tersebut, beberapa wilayah lain mulai menunjukkan potensi banjir yang meningkat, seperti Majalaya, Rancaekek, Cikancung, dan Margahayu.
Langkah Mitigasi yang Sudah Ada
Sampai saat ini, Kabupaten Bandung telah memiliki 11 infrastruktur pengendali banjir yang beroperasi, antara lain:
- Kolam Retensi Cieunteung
- Kolam Retensi Andir
Selain kolam retensi, sejumlah polder juga telah beroperasi untuk menampung dan menguras air banjir, seperti:
- Polder Bojong Citepus
- Polder Citepus
- Polder Parung Halang
- Polder Cisangkuy
- Polder Cijambe Barat
- Polder Cijambe Timur
- Polder Cikapundung
- Polder Cipalasari
- Polder Cigede
Zeis juga menekankan bahwa Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bandung Nomor 1 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2024–2044 mengamanatkan bahwa pengembang harus memfungsikan 10 persen dari total lahan untuk tempat penampungan air, sebagai langkah tambahan untuk mengurangi risiko banjir.
Rencana Infrastruktur Baru 20 Proyek
Sebagai langkah mitigasi lebih lanjut, Pemkab Bandung menyiapkan 20 proyek infrastruktur pengendali banjir baru yang telah masuk tahap perencanaan. Menurut Zeis, rencana ini disusun berdasarkan kajian kebencanaan dan mengacu pada regulasi tata ruang daerah yang berlaku.
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah intens berkoordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk dua kali bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum dalam dua bulan terakhir. "Atas arahan Pak Bupati, kami terus berupaya untuk mempercepat proses perencanaan dan pengembangan infrastruktur ini," ucapnya.
Pihaknya berharap bahwa dengan adanya infrastruktur pengendali banjir baru ini, risiko banjir di Kabupaten Bandung dapat dikurangi secara signifikan, terutama di daerah-daerah yang paling rentan.
Perubahan pemanfaatan lahan dan faktor geografis membuat Kabupaten Bandung tetap menjadi daerah rawan banjir hingga saat ini. Namun, dengan adanya langkah mitigasi yang sudah ada dan rencana infrastruktur baru, diharapkan situasi banjir di wilayah ini dapat terkendali dengan lebih baik di masa depan.