Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

ITB dan Kampus Lain Berkolaborasi Pulihkan Sumatra dari Bencana

Bandung · Oleh Salsa Maharani · · Diperbarui 2 Maret 2026

ITB memimpin kolaborasi multi-kampus dan alumni dalam "Workshop dan Galeri Abhinaya" untuk pemulihan pasca-bencana di Sumatra. Inisiatif ini menyatukan riset, aksi nyata, dan kesadaran publik untuk membangun kembali wilayah terdampak dengan pendekatan holistik.

ITB dan Kampus Lain Berkolaborasi Pulihkan Sumatra dari Bencana

Membangun Kembali: Kolaborasi Akademisi untuk Pemulihan Sumatra dari Bencana

Bandung, [Tanggal Publikasi] – Institut Teknologi Bandung (ITB), melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK), baru-baru ini menggelar "Workshop dan Galeri Abhinaya Pemulihan Pasca Bencana Sumatra". Acara yang berlangsung pada Senin (12/1) di Aula Timur ITB dan Galeri Soemardja ini menjadi platform krusial untuk refleksi, diskusi ilmiah, serta menumbuhkan kepedulian publik terhadap dampak dan upaya pemulihan pasca bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Zulfiadi Zulhan, mengungkapkan bahwa inisiatif ini bermula dari kunjungan Rektor ITB ke wilayah terdampak bencana pada akhir tahun lalu. Kunjungan tersebut menyingkap besarnya skala kerusakan, sekaligus menegaskan urgensi kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.

"Kami menginisiasi kegiatan ini bersama Ikatan Alumni (IA) ITB dan Rumah Amal Salman, yang selama ini telah berkolaborasi secara intensif, berkelanjutan, dan melakukan aksi nyata di lapangan, khususnya melalui kerja sama dengan pemerintah daerah serta universitas di wilayah terdampak," ujar Zulhan.

Ia menambahkan, Workshop dan Galeri Abhinaya berfungsi sebagai ruang reflektif sekaligus forum berbagi pengalaman dan pembelajaran antar perguruan tinggi.

Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Penanggulangan Bencana

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk menjembatani diskusi ilmiah dengan penyampaian pesan kepada khalayak luas. Workshop diperuntukkan bagi diskusi akademis, sementara galeri dibuka untuk publik guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap risiko bencana.

"Penanganan dan pemulihan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak atau satu disiplin ilmu saja. Oleh karena itu, ITB mengambil peran strategis sebagai simpul penghubung yang menyatukan berbagai perguruan tinggi agar tidak bekerja secara terpisah. Melalui forum ini, semua pihak saling terhubung, berbagi peran, dan bekerja secara terkoordinasi sesuai kebutuhan di lapangan,” jelas Tatacipta.

Aksi Nyata dan Kolaborasi Multidisiplin

Tatacipta juga memaparkan berbagai aksi konkret yang telah diimplementasikan oleh ITB bersama Ikatan Alumni ITB dan Rumah Amal Salman, menyusul bencana siklon pada 25–26 November 2025. Sejak 27 November, kolaborasi ini bergerak cepat dalam memberikan bantuan, mencakup:

"Ini merupakan kerja bersama. Bukan hanya ITB di Bandung, tetapi juga alumni ITB di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, serta berbagai universitas mitra. Pengelolaan bantuan dilakukan secara transparan agar kegiatan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tatacipta turut meluncurkan buku berjudul 'Bangkit dari Hidup Penuh Lumpur', yang berisi catatan perjalanannya saat mengunjungi daerah terdampak bencana siklon di Aceh pada 26–29 Desember 2025. Buku ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran publik serta memperkuat semangat gotong royong dalam menghadapi potensi risiko bencana.

Apresiasi dan Visi Mendiktisaintek

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto memberikan apresiasi tinggi atas peran aktif perguruan tinggi dalam upaya pemulihan pasca bencana ini. "Pemulihan tidak hanya mencakup infrastruktur, tetapi juga pemulihan kehidupan masyarakat secara menyeluruh melalui riset terapan, inovasi teknologi, analisis dampak lingkungan, serta pendampingan psikososial," tuturnya.

Melalui Workshop dan Galeri Abhinaya, ITB berharap dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai motor kolaborasi nasional dalam pemulihan pasca bencana. Tujuannya adalah menghasilkan kajian yang aplikatif dan berkelanjutan, sekaligus menjadi model sinergi multidisiplin dalam rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih tangguh di masa depan.