Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

ITB Bandung Gelar Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67: Fokus Riset dan Hilirisasi Bahan Alam

Bandung · Oleh Salsa Maharani ·

Institut Teknologi Bandung (ITB) merayakan Dies Natalis ke-67 melalui sidang terbuka di Kampus Ganesha, fokus penguatan riset dan hilirisasi bahan alam untuk kemandirian bangsa.

ITB Bandung Gelar Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67: Fokus Riset dan Hilirisasi Bahan Alam

Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar perayaan Dies Natalis ke-67 dengan mengadakan Sidang Terbuka di Kampus Ganesha pada Senin, 2 Maret 2026. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan capaian selama 67 tahun, serta memperkuat komitmen ITB sebagai perguruan tinggi unggul yang berfokus pada riset berdampak dan pengembangan inovasi untuk kemandirian bangsa.

Tema Utama dan Komitmen Strategis

Dalam sambutan pembuka, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya tata kelola yang adaptif dan akuntabel untuk menjawab tantangan global. Ia menegaskan bahwa ITB memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional melalui sinergi antara tiga pilar utama: akademisi, pemerintah, dan dunia usaha.

"Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk mendorong hilirisasi riset yang berdaya saing," ujar Budi Gunadi Sadikin.

Menurutnya, kolaborasi ini akan memastikan bahwa hasil riset dari kampus dapat terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan kebijakan publik, sehingga tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga solusi nyata bagi masyarakat.

Transformasi Institusi Berlandaskan Mutu Akademik

Ketua Senat Akademik ITB Edy Tri Baskoro menegaskan bahwa setiap upaya transformasi institusi harus tetap berlandaskan pada fondasi mutu akademik yang kuat. Ia menekankan bahwa kebebasan akademik, integritas ilmiah, dan standar kualitas yang tinggi menjadi pilar dasar untuk menjaga marwah ITB, serta memastikan kontribusi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Edy Tri Baskoro menambahkan bahwa komitmen ini akan membantu ITB terus menghasilkan insan akademik yang berkualitas, serta penelitian yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Arah Strategis ITB Menuju Peringkat Dunia

Dalam pidato resmi sebagai pemimpin kampus, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menjelaskan arah strategis institusi menuju target peringkat 150 di World University Rankings 2030. Capaian ini, menurutnya, bertumpu pada dua faktor utama: kualitas insan akademik dan penguatan substansi tridarma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) yang sejalan dengan visi "ITB Berdampak".

"Melalui kolaborasi lintas disiplin, penguatan tata kelola, dan perluasan jejaring internasional, ITB diarahkan untuk terus menghadirkan solusi atas tantangan nasional di bidang industri, energi, dan kesehatan," terang Tatacipta Dirgantara.

Ia menambahkan bahwa fokus ini akan membantu ITB menjadi pemain utama dalam pengembangan inovasi nasional, serta meningkatkan daya saing produk dan layanan berbasis teknologi Indonesia di pasar global.

Orasi Ilmiah: Hilirisasi Riset Bahan Alam untuk Kemandirian Kesehatan

Sesi orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67 ITB disampaikan oleh Direktur Riset dan Inovasi ITB sekaligus Guru Besar Kelompok Keahlian Biologi Farmasi Sekolah Farmasi ITB Elfahmi. Ia mengambil topik "Hilirisasi dan Komersialisasi Riset dan Inovasi Bahan Alam Indonesia untuk Kemandirian Kesehatan", yang sangat relevan dengan potensi biodiversitas Indonesia yang melimpah. Elfahmi menyoroti bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar sebagai sumber bahan baku obat dan produk kesehatan berbasis bahan alam, namun potensi ini belum sepenuhnya dioptimalkan. Ia menegaskan bahwa untuk memanfaatkan potensi ini, diperlukan proses hilirisasi yang terstruktur, meliputi:

"Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui proses hilirisasi yang terstruktur, mulai dari riset dasar, pengujian keamanan dan efektivitas, hingga pengembangan produk siap edar," tutur Elfahmi.

Lebih lanjut, Elfahmi menegaskan bahwa riset tidak boleh berhenti pada tahap publikasi ilmiah atau pengajuan paten. Hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi produk yang dapat diproduksi secara massal, dimanfaatkan oleh masyarakat, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan rakyat. Ia menekankan bahwa kolaborasi erat antara kampus, industri, pemerintah, dan regulator sangat diperlukan untuk mewujudkan hal ini. Menurut Elfahmi, kemandirian kesehatan merupakan bagian integral dari kedaulatan bangsa. Dengan memperkuat riset dan produksi berbasis sumber daya alam dalam negeri, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor obat dan produk kesehatan, serta menjadi pemain utama dalam industri kesehatan berbasis bahan alam di tingkat global.

Penutup

Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67 ITB ini menunjukkan komitmen yang kuat dari institusi untuk mengubah hasil riset menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Melalui fokus pada hilirisasi riset dan kolaborasi lintas sektor, ITB berharap dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemandirian bangsa, serta meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia.