Inovasi Modest Fashion: Kolaborasi Deden Siswanto dan Kisera Scarf Bandung
Kolaborasi desainer Bandung Deden Siswanto dan brand scarf Kisera menghadirkan inovasi modest fashion dengan teknik styling tanpa potong kain, membawa prinsip zero waste ke industri mode muslim Indonesia.

Peragaan busana yang digelar di Central Park Jakarta pada Sabtu, 7 Maret 2026, menyajikan kolaborasi tak terlupakan antara desainer kondang Bandung Deden Siswanto dan brand scarf lokal Kisera. Koleksi yang ditampilkan berhasil memukau pengunjung dengan konsep inovatif: busana utuh yang dibuat tanpa memotong kain scarf sama sekali. Inovasi ini menjadi langkah baru dalam industri modest fashion Indonesia, yang selama ini lebih fokus pada desain baju dengan kerudung sebagai pelengkap.
Latar Belakang dan Ide Dasar Kolaborasi
Pemilik Kisera, Ardhina Dwiyanti, mengungkapkan bahwa ide kolaborasi ini lahir dari keinginannya untuk mengangkat status scarf dari sekadar aksesori menjadi bagian utama dari fashion muslim. Selama ini, ia menilai bahwa scarf sering dianggap hanya sebagai pelengkap penampilan, bukan elemen inti dari sebuah outfit.
"Biasanya kalau fashion show, kerudung sering hanya jadi pelengkap saja. Orang lebih melihat desain bajunya. Padahal sejak awal saya ingin menjadikan scarf bukan hanya aksesoris, tapi bagian dari fashion itu sendiri," kata Ardhina dalam wawancara pada Selasa, 10 Maret.
Ardhina menyebut bahwa ia mendapat tantangan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam pengolahan scarf, yang kemudian mendorongnya untuk menjalin kolaborasi dengan Deden Siswanto. Tujuannya adalah untuk menciptakan busana yang sepenuhnya terbuat dari scarf, tanpa memotong bahan sama sekali.
Teknik "Mulas": Inovasi Desain Tanpa Limbah Kain
Desainer Deden Siswanto menjelaskan bahwa teknik yang digunakan dalam koleksi ini diberi nama "mulas", yaitu cara membentuk busana dengan menggabungkan beberapa scarf menggunakan peniti atau pengait tanpa memotong kain. Menurutnya, teknik ini belum banyak digunakan di industri fashion muslim Indonesia, sehingga membuat koleksi ini memiliki nilai unik.
"Orang biasanya membeli satu scarf hanya untuk kerudung. Tapi kalau membeli dua atau beberapa lembar, sebenarnya bisa diolah menjadi busana. Kami membentuk pattern baru tanpa menggunting kain," tandas desainer yang berasal dari Bandung ini.
Dalam salah satu penampilan, Deden menggunakan hingga delapan lembar pashmina untuk membuat sebuah outer panjang atau robe tanpa lengan. Kombinasi warna dan motif yang beragam menghasilkan dimensi visual yang lebih kaya, sehingga penampilan terlihat lebih elegan dan kompleks. Dari kejauhan, busana tersebut terlihat seperti pakaian biasa, tetapi ketika dilihat lebih dekat, pengunjung dapat menyadari bahwa ia tersusun dari beberapa scarf dengan teknik khusus. Selain itu, kolaborasi ini juga menerapkan prinsip sustainable fashion dengan prinsip zero waste. Hampir seluruh bahan dimanfaatkan, termasuk sisa material yang dijadikan aksesori seperti sabuk berbentuk bunga atau perhiasan kecil.
"Prinsipnya zero waste. Kalau ada sisa kain, kami gunakan lagi untuk aksesoris atau detail busana," ujar Deden.
Respons Publik dan Dampak bagi Industri Modest Fashion
Respons publik terhadap koleksi kolaborasi ini disebut cukup positif. Banyak pengunjung yang terkejut ketika mengetahui bahwa busana yang ditampilkan di panggung ternyata disusun dari beberapa scarf. Bahkan beberapa model yang menampilkan koleksi ini bertanya, "Ini benar scarf ya?" yang menunjukkan bahwa inovasi ini berhasil membuktikan potensi scarf yang lebih luas. Ardhina menambahkan bahwa kolaborasi ini juga membuka peluang baru bagi konsumen untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan scarf. Selain digunakan sebagai kerudung, scarf sekarang dapat diolah menjadi berbagai jenis busana, sehingga meningkatkan nilai jual dan kegunaan produk scarf itu sendiri. Ke depan, kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan konsep baru dalam industri modest fashion Indonesia, serta mendorong kreativitas desainer lain untuk memanfaatkan material yang ada dengan cara yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Inovasi ini juga menjadi bukti bahwa fashion muslim dapat digabungkan dengan prinsip keberlanjutan, tanpa mengorbankan nilai estetika.