Inafis Ungkap Identitas Korban Cicendo, Penyelidikan Kematian Berlangsung
Identitas korban kematian di Cicendo Bandung terungkap melalui teknologi Inafis, namun penyebab kematian masih dalam penyelidikan intensif polisi.

Kota Bandung, 28 April 2026 – Tim kepolisian Polrestabes Bandung berhasil mengungkap identitas pria yang ditemukan tewas membusuk di Gang Siti Supiah, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, berkat penggunaan teknologi Inafis Portable System (IPS). Meskipun identitas korban sudah diketahui, misteri penyebab kematian masih belum terpecahkan, dengan penyelidikan terus dilakukan secara intensif.
Teknologi Inafis Bantu Ungkap Identitas Korban
"Dari hasil pemeriksaan Inafis Portable System, korban diketahui bernama Eric Handy Siman, usia 50 tahun," ujar AKP Dedi Sutisna, Kanit Reskrim Polsek Cicendo, saat dikonfirmasi Selasa (28/4/2026).
Ketika pertama kali ditemukan, korban tidak membawa dokumen identitas apapun, sehingga proses identifikasi awal terhambat. Kondisi jasad yang sudah mengalami pembusukan parah juga membuat identifikasi visual tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, tim polisi memanfaatkan teknologi Inafis IPS untuk mencocokkan data korban dengan database nasional, yang akhirnya berhasil mengungkap identitasnya.
Hasil pencocokan menunjukkan bahwa korban adalah warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan alamat Jalan Lantana, Kelurahan Naikoten, Kecamatan Kotaraja. Polisi kini sedang menelusuri latar belakang perjalanan korban selama berada di Kota Bandung, untuk menggali informasi terkait aktivitas terakhirnya sebelum kematian.
Dalam konteks Kota Bandung yang ramai dengan populasi transient, kasus identifikasi jenazah tanpa identitas bukanlah hal yang jarang terjadi. Penggunaan teknologi Inafis ini menjadi solusi efektif untuk mempercepat proses identifikasi, yang sebelumnya sering memakan waktu lama karena keterbatasan metode visual.
Lokasi Penemuan dan Respons Warga
Korban ditemukan oleh warga sekitar yang melaporkan adanya bau menyengat yang berasal dari gang sempit tersebut. Setelah menerima laporan, petugas polisi langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan area sekitar.
Penemuan jasad korban sempat menggegerkan warga sekitar, yang telah lama merasakan bau tidak sedap dari gang tersebut namun tidak berani mendekati karena rasa takut. Banyak warga yang khawatir akan adanya hal yang tidak diinginkan, sehingga laporan yang diberikan kepada polisi sangat cepat dan tepat.
Dugaan awal polisi menyatakan bahwa korban telah meninggal dunia lebih dari dua hari sebelum ditemukan, berdasarkan tingkat pembusukan jasad yang teramati. Kondisi jasad yang sudah membengkak dan membusuk parah juga membuat proses identifikasi melalui ciri fisik tidak dapat dilakukan, sehingga teknologi Inafis menjadi satu-satunya cara untuk mengungkap identitas korban dalam waktu singkat.
Langkah Penyelidikan Selanjutnya
Setelah identitas korban terungkap, jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian.
Hingga saat ini, polisi belum menemukan indikasi kuat terkait adanya tindak kekerasan pada korban. Namun, penyelidikan tetap dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap semua kemungkinan skenario, termasuk faktor kesehatan internal atau dugaan tindak pidana.
Sejumlah saksi telah dimintai keterangan untuk menggali informasi terkait aktivitas terakhir korban di Kota Bandung. Tim polisi juga terus mengumpulkan barang bukti yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian, termasuk barang pribadi korban dan jejak yang ditemukan di sekitar gang.
Dalam pernyataannya, AKP Dedi Sutisna menegaskan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan intensif. Ia tidak memberikan detail lebih lanjut terkait kemungkinan skenario kematian, namun menegaskan bahwa tim akan melakukan semua upaya untuk mengungkap misteri di balik kematian korban.
"Untuk sementara, kematian masih dalam proses penyelidikan," ujar Dedi.
Sampai saat ini, polisi masih membuka kemungkinan berbagai skenario terkait kematian korban, dan meminta kepada warga yang memiliki informasi terkait aktivitas terakhir korban untuk menghubungi pihak polisi.