Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Hilal Ramadan 1447 H Tak Terlihat di Bandung: Analisis dan Dampak

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Pengamatan hilal Ramadan 1447 H di Observatorium Albiruni Bandung tidak terlihat karena posisi astronomi kurang dari 3°, memengaruhi keputusan sidang isbat dan potensi Ramadan dimulai hari Kamis.

Hilal Ramadan 1447 H Tak Terlihat di Bandung: Analisis dan Dampak

Latar Belakang Rukyatis Hilal

Pencarian hilal sebagai penanda awal Ramadan merupakan proses yang melibatkan kombinasi ilmu astronomi dan tradisi hisab‑rukyat. Pada tahun Hijriah 1447, tim pengamat dari Fakultas Syariah Islam Universitas Islam Bandung (Unisba) bersama sejumlah lembaga pendukung melakukan pemantauan di Observatorium Albiruni. Kegiatan ini bertujuan menyediakan data objektif bagi Kementerian Agama RI sebelum sidang isbat penetapan tanggal 1 Ramadan.

Metode Pengamatan di Observatorium Albiruni

Pengamatan dimulai pukul 13.30 WIB dengan prosedur kalibrasi teropong menggunakan filter khusus untuk memfokuskan pada matahari. Seluruh proses mengacu pada standar teknis yang disepakati secara nasional:

Kolaborasi antar lembaga memperkuat transparansi:

"Posisi bulan saat magrib berada pada kisaran minus 2°24'42" hingga minus 0°58'47". Dengan posisi seperti itu, hilal tidak mungkin terlihat," kata Ali Abdul Latif, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jabar.

Hasil Pengamatan dan Faktor Astronomi

Data astronomis menunjukkan konjungsi geosentris (ijtima') terjadi pada pukul 19.01 WIB, tepat setelah matahari terbenam di wilayah Bandung. Pada saat itu:

Kriteria visibilitas minimal yang disepakati adalah ketinggian 3° di atas ufuk. Pada pengamatan, ketinggian hilal berada antara -2° dan 0°, jauh di bawah batas tersebut. Oleh karena itu, semua 98 titik rukyat di Indonesia, termasuk titik‑titik di Jawa Barat seperti Pangandaran, Subang, dan Sukabumi, melaporkan ketidakmampuan melihat hilal.

Implikasi Terhadap Penetapan Awal Ramadan

Kegagalan melihat hilal di seluruh wilayah Jawa Barat meningkatkan probabilitas bahwa bulan Sya'ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Namun, keputusan akhir tetap berada pada sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama di Jakarta. Berikut implikasi utama:

Perspektif Ke Depan dan Integrasi Hisab‑Rukyat

Pengamatan di Observatorium Albiruni menegaskan nilai kolaborasi ilmiah‑keagamaan. Encep Abdul Rojak, Kepala Observatorium, menekankan bahwa:

Ke depan, rekomendasi meliputi:

Dengan memperkuat sinergi antara ilmuwan astronomi, otoritas keagamaan, dan masyarakat, proses penentuan kalender Hijriyah dapat menjadi lebih objektif, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Catatan: Semua data di atas bersumber dari laporan resmi tim rukyat dan tidak mengandung unsur spekulatif.