Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Hari Bumi: Pakar UPER Sebut TPA Jakarta Penyumbang Metana Dunia Kedua

Jabar · Oleh ·

Laporan UCLA 2025 mengungkap TPA Jakarta sebagai penyumbang emisi metana terbesar kedua dunia. Pakar UPER Dr. Wayan Koko Suryawan menawarkan solusi adaptif untuk mengurangi emisi sampah organik.

Hari Bumi: Pakar UPER Sebut TPA Jakarta Penyumbang Metana Dunia Kedua

Laporan Baru Ungkap TPA Jakarta sebagai Penyumbang Metana Dunia Kedua

Momentum peringatan Hari Bumi 22 April 2025 menjadi titik evaluasi penting bagi langkah nyata Indonesia dalam menghadapi krisis iklim. Laporan terbaru dari STOP Methane Project UCLA tahun 2025 mengungkap fakta mengejutkan: lokasi pembuangan sampah di Jakarta terdeteksi satelit sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dalam kategori fasilitas limbah global.

Bahaya Gas Metana yang Tak Boleh Diabaikan

Gas metana yang dilepaskan dari tumpukan sampah organik ini memiliki kekuatan memanaskan bumi hingga 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Ir. I Wayan Koko Suryawan, Ph.D., pakar Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER), menegaskan bahwa temuan ini adalah alarm keras bagi seluruh bangsa Indonesia.

"Data satelit tidak bisa berbohong. Ketika Jakarta menempati posisi kedua dunia, itu artinya kita sedang menghadapi bom waktu iklim. Satu titik emisi TPA yang pekat di Jakarta bisa menyumbang pemanasan global setara dengan polusi dari satu juta mobil SUV dalam setahun," ujar Dr. Koko.

Data Kementerian Lingkungan Hidup Menguatkan Urgensi Masalah

Data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 memperkuat urgensi permasalahan ini: dari total 56,63 juta ton sampah nasional yang dihasilkan setiap tahun, sebanyak 21,85% masih ditimbun secara terbuka (open dumping). Praktik penimbunan sampah tanpa pengelolaan yang layak inilah yang memicu pelepasan gas metana yang sangat pekat, hingga terdeteksi oleh teknologi satelit internasional.

Solusi Adaptif dari Riset Terbaru UPER

Melalui riset terbarunya berjudul Achieving Zero Waste for Landfills by Employing Adaptive Municipal Solid Waste Management Services, Dr. Koko menawarkan solusi adaptif untuk memutus rantai emisi metana langsung dari sumbernya. Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal internasional bereputasi Ecological Indicators (Elsevier), yang masuk dalam kategori jurnal Q1 dengan H-Index 146 sebagai peringkat kualitas tertinggi. Dalam kajiannya yang melibatkan 651 warga Jakarta dari kawasan kumuh dan non-kumuh, Dr. Koko menemukan fakta menarik: sebagian besar warga Jakarta sudah sadar akan pentingnya memilah sampah. Namun, kesadaran ini tidak berubah menjadi aksi nyata karena fasilitas pendukung yang belum memadai.

"Masyarakat kita sudah paham, tapi mereka bingung harus bertindak bagaimana karena sistemnya belum siap. Karena itu, Jakarta tidak bisa lagi cuma mengandalkan imbauan. Kita butuh cara yang lebih dekat dengan warga, seperti sistem pengingat di ponsel, memaksimalkan bank sampah, hingga menggerakkan tokoh masyarakat atau kader lokal sebagai contoh di lingkungan masing-masing," jelas Dr. Koko.

Riset ini juga turut menyoroti perbedaan kebutuhan antar kelompok warga:

Tanpa implementasi solusi yang menyentuh akar rumput ini, peringkat Jakarta sebagai penyumbang metana dunia akan sulit untuk diperbaiki.

Langkah Strategis untuk Mengurangi Emisi Metana

Dr. Koko turut menyarankan beberapa langkah strategis yang dapat diambil untuk mengatasi krisis ini:

  1. Percepatan teknologi penangkapan gas metana (Landfill Gas/LFG) di TPA Bantargebang untuk dikonversi menjadi energi listrik, mengingat kapasitas infrastruktur saat ini masih jauh dari optimal
  2. Meningkatkan transparansi data emisi secara proaktif, agar pemerintah tidak hanya bergantung pada laporan satelit asing untuk memantau krisis ekologis di wilayahnya sendiri
  3. Implementasi solusi inklusif yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap kelompok warga, untuk memastikan semua lapisan masyarakat terlibat dalam upaya pengurangan emisi metana

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., menegaskan peran UPER sebagai institusi berbasis sains dan teknologi yang didirikan PT Pertamina (Persero) dalam mengatasi krisis ini.

"UPER berkomitmen menghadirkan riset terapan dan teknologi penangkapan metana untuk memastikan era open dumping segera berakhir sesuai UU No. 18 Tahun 2008, demi mendukung SDG 11 (Kota Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)," tutup Prof. Djoko.