Gempa Megathrust Selat Sunda Berpotensi Picu Tsunami hingga Pesisir Utara Jakarta
Skenario gempa megathrust di Selat Sunda menunjukkan potensi tsunami dapat mencapai pesisir utara Jakarta dalam 2,5 jam. Pakar menekankan warga perlu memahami konteks kerentanan wilayah masing-masing, bukan sekadar angka perkiraan.

Warga pesisir utara Jakarta diminta mewaspadai potensi tsunami akibat gempa megathrust di Selat Sunda. Berdasarkan data BRIN yang dirujuk BMKG, skenario terburuk gempa magnitudo 8,9 dapat memicu gelombang tsunami yang mencapai pesisir utara Jakarta dalam waktu sekitar 2,5 jam.
Ketinggian gelombang yang diprediksi sekitar 0,5 meter. Angka ini bukan意味着 kepastian, melainkan gambaran skenario yang disusun untuk keperluan mitigasi. BMKG dan BRIN menyusun skenario ini sebagai langkah persiapan, bukan peringatan atas kejadian yang sedang terjadi.
Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina, Dr. Ir. Farah Mulyasari, mengatakan angka magnitudo dan perkiraan tsunami tanpa konteks justru dapat menimbulkan kecemasan. Warga yang merasa jauh dari sumber bahaya justru berisiko mengabaikan kebutuhan untuk bersiap.
Baca Juga: Oknum Pejabat Dishub Sukabumi Resmi Dibawa Polisi untuk Pemeriksaan Kasus Dugaan Pelecehan Siswi PKL
"Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya," kata Farah.
Konteks spasial menjadi penting karena lokasi tinggal dan aktivitas sehari-hari menentukan tingkat kerentanan seseorang. Farah menjelaskan, masyarakat perlu memahami keterkaitan potensi bahaya dengan tempat mereka tinggal dan bekerja saat ini.
Istilah teknis kebencanaan sering kali menghambat pemahaman warga. Farah mendorong penjelasan ilmiah diterjemahkan menjadi tindakan praktis. Panduan yang bisa langsung diterapkan meliputi mengenali jalur evakuasi di lingkungan sekitar, menyusun rencana komunikasi keluarga saat darurat, serta memantau informasi resmi BMKG dan BNPB.
Baca Juga: 646 Ibu Meninggal di Jabar pada 2025, DP3AKB Gencarkan Program KB untuk Turunkan Angka Kematian
Media sosial menjadi tantangan tersendiri dalam penyebaran informasi kebencanaan. Dokumentasi bencana lama yang disebarkan ulang tanpa keterangan jelas berpotensi menimbulkan salah pengertian.
"Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu," tegas Farah.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menekankan peran perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara ahli kebumian dan komunikasi dinilai penting untuk memperkuat literasi kebencanaan.
"Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya," kata Ichsan.
Masyarakat diimbau selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG serta panduan BNPB dan BPBD daerah masing-masing untuk langkah kesiapsiagaan yang sesuai kondisi wilayah.