Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Harga Ayam & Telur Naik di Jawa Barat: Penyebab, Dampak, dan Tindakan Pemerintah

Bandung · Oleh Nabila Azzahra · · Diperbarui 2 Maret 2026

Harga ayam ras dan telur naik di Jawa Barat akibat cuaca ekstrem, permintaan hari raya, dan pasokan terbatas; pemerintah siapkan operasi pasar bersubsidi, koordinasi distribusi, dan kebijakan harga acuan.

Harga Ayam & Telur Naik di Jawa Barat: Penyebab, Dampak, dan Tindakan Pemerintah

Latar Belakang Kenaikan Harga

Pada awal 2026, harga daging ayam ras dan telur ayam di pasar Jawa Barat menunjukkan tren naik yang signifikan. Kenaikan ini bertepatan dengan musim hujan ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah provinsi, sekaligus mendekati periode hari raya Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri. Kombinasi faktor cuaca, peningkatan permintaan, serta ketergantungan pada pasokan dari luar daerah menjadi pemicu utama.


Penyebab Kenaikan Harga

  1. Cuaca ekstrem – Hujan berkepanjangan menunda masa panen, terutama pada komoditas cabai dan bawang merah, mengakibatkan penurunan produksi dan tekanan pada rantai pasok.
  2. Lonjakan permintaan – Menjelang hari raya, konsumen meningkatkan konsumsi protein (ayam, telur) untuk menu tradisional, sehingga permintaan melampaui kapasitas penawaran.
  3. Ketergantungan impor – Sebagian besar pasokan daging ayam dan telur berasal dari provinsi lain (Jawa Tengah, Jawa Timur). Gangguan logistik memperburuk kelangkaan.
  4. Harga acuan (HET/HAP) – Meskipun harga masih berada di bawah batas acuan untuk sebagian besar komoditas, harga ayam ras (Rp40.896/kg) dan telur (Rp31.174/kg) sudah melewati batas Harga Acuan Penjualan (HAP) masing‑masing.

"Kenaikan harga terutama dipicu oleh cuaca ekstrem dan peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan," kata Nining Yulistiani, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat.


Komoditas yang Terkena Dampak

| Komoditas | Harga Sekarang | HAP / HET | Kenaikan (%) | |-----------|----------------|----------|--------------| | Bawang merah | Rp42.994/kg | Rp36.500‑41.500 | +4,5% | | Ayam ras | Rp40.896/kg | Rp40.000/kg | +2,2% | | Telur ayam | Rp31.174/kg | Rp30.000/kg | +3,9% | | Cabai rawit merah | Rp91.882/kg | Rp40.000‑57.000 | +60% |

Komoditas lain seperti beras medium, beras premium, minyak goreng, kedelai impor, bawang putih, dan tepung terigu masih berada di bawah batas acuan, sehingga tidak menimbulkan tekanan harga yang signifikan.


Kebijakan Pemerintah: Operasi Pasar Bersubsidi

Untuk menahan laju inflasi pangan, Disperindag Jawa Barat meluncurkan Operasi Pasar Bersubsidi dengan langkah‑langkah berikut:

Pemerintah juga menyiapkan dukungan keuangan bagi peternak kecil melalui program kredit subsidi, guna meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.


Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Meskipun proyeksi ketersediaan 12 komoditas utama untuk Januari‑Maret 2026 dinyatakan aman, beberapa tantangan tetap harus dihadapi:

Analisis menunjukkan bahwa komoditas paling rentan adalah cabai rawit merah, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi. Pemantauan intensif dan penyesuaian kebijakan harga akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar.


Kesimpulan

Kenaikan harga ayam dan telur di Jawa Barat bukan sekadar fenomena musiman, melainkan hasil interaksi kompleks antara cuaca ekstrem, permintaan musiman, dan struktur pasokan yang masih tergantung pada daerah lain. Operasi pasar bersubsidi yang digulirkan Disperindag merupakan respon cepat untuk menstabilkan pasar, namun keberlanjutan kebijakan memerlukan koordinasi lintas sektoral, investasi pada produksi lokal, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan langkah‑langkah tersebut, diharapkan tekanan inflasi pangan dapat diminimalkan dan konsumen tetap mendapatkan akses ke bahan pokok dengan harga wajar.

Artikel ini disusun berdasarkan data resmi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat serta laporan lapangan pada Februari 2026.