Gubernur Jabar Tetapkan Sumedang Sebagai Titik Awal Milangkala Tatar Sunda Berbasis Fakta
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menetapkan Sumedang sebagai titik awal Milangkala Tatar Sunda berdasar artefak sejarah Mahkota Binokasih, bukan hanya pertimbangan administratif.
Pada kunjungannya di Sumedang Sabtu lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengumumkan penetapan wilayah Sumedang sebagai titik awal pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda. Keputusan ini tidak didasarkan pada pertimbangan administratif semata, melainkan berlandaskan pada jejak sejarah fisik yang dapat ditelusuri hingga saat ini.
Dasar Penetapan Berdasarkan Fakta Sejarah
KDM menegaskan bahwa alasan utama pemilihan Sumedang adalah keberadaan artefak budaya Mahkota Binokasih yang terletak di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa preferensi pada Sumedang diakibatkan adanya jejak sejarah nyata, bukan hanya narasi atau mitologi belaka.
"Penetapan berlandaskan karena Mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi," ujarnya.
Menurut KDM, Mahkota Binokasih menjadi salah satu penanda penting dalam membaca kembali perjalanan sejarah Kerajaan Sunda yang masih meninggalkan jejak kebendaan. Ia menjelaskan lintasan sejarah Kerajaan Sunda yang meliputi wilayah Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang sebagai bagian dari kesinambungan peradaban di Tatar Sunda.
"Pakuan, Pajajaran dalam sejarahnya mengalami serangan, kemudian terjadi pembakaran terhadap kerajaan. Lalu ada proses penitipan pusaka ke Sumedang Larang," tambah KDM.
Ia menegaskan bahwa posisi Sumedang Larang dalam perjalanan sejarah tersebut membuat wilayah itu memiliki keterkaitan kuat dengan jejak Kerajaan Sunda yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
Peran Mahkota Binokasih sebagai Simbol Budaya
Mahkota Binokasih sendiri selama ini dipandang sebagai artefak budaya yang merepresentasikan perjalanan sejarah peradaban Sunda, sekaligus menjadi simbol utama dalam pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda.
KDM menyebut bahwa hasil kajian akademis dari berbagai perguruan tinggi juga turut memperkuat nilai sejarah dari Mahkota Binokasih sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki keterkaitan dengan peradaban Sunda.
Program Milangkala Tatar Sunda sebagai Ruang Pelestarian Budaya
Selain aspek sejarah, Milangkala Tatar Sunda juga dirancang sebagai ruang pelestarian budaya Sunda yang lebih luas, mencakup musik, busana, hingga nilai-nilai tradisi yang masih hidup di masyarakat.
KDM menjelaskan bahwa setiap elemen budaya dalam program ini memiliki makna mendalam, seperti tata nilai musik yang melambangkan kelembutan. Ia juga menambahkan bahwa busana bernuansa kerajaan yang ditampilkan dalam acara ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga tetap relevan dengan tren fashion saat ini.
"Dari tata nilai musik misalnya itu melambangkan kelembutan. Dari tata nilai pakaian, kita ini sudah lama memiliki passion yang sangat tinggi. Pakaian bernuansa kerajaan itu kan sebenarnya fashionable," ujarnya.
Gubernur Jabar juga menegaskan bahwa penetapan Milangkala Tatar Sunda sebagai agenda rutin diharapkan menjadi upaya menghubungkan kembali mata rantai sejarah yang terputus, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Sunda di seluruh wilayah Jawa Barat.
Tanggapan Pihak Lokal
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan penetapan Sumedang sebagai titik awal Milangkala Tatar Sunda menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat daerah.
"Ini sebuah perhelatan yang luar biasa, sarat akan makna bagaimana sebuah Milangkala menjadi cerita sejarah dan kompas bagi masa depan Jawa Barat, dan Sumedang di dalamnya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda budaya semata, tetapi juga ruang untuk menguatkan kembali identitas sejarah masyarakat Sunda di Sumedang. Melalui acara ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dan mengapresiasi warisan budaya yang dimiliki oleh Tatar Sunda.