Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

GPM Kuningan: Stabilkan Daya Beli Warga Jelang Idul Adha 2026

Jabar · Oleh Nayla Putri ·

Program Gerakan Pangan Murah di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ditujukan menjaga daya beli warga jelang Idul Adha 2026 dengan menawarkan komoditas pokok di bawah harga pasar.

GPM Kuningan: Stabilkan Daya Beli Warga Jelang Idul Adha 2026

Latar Belakang Program Gerakan Pangan Murah di Kuningan

Menjelang Idul Adha 2026, Kabupaten Kuningan di Jawa Barat meluncurkan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Menurut Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, tujuan utama program ini adalah memastikan warga dapat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, sehingga stabilitas daya beli tetap terjaga di tengah peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan.

Program GPM Idul Adha ini pertama dilaksanakan pada periode 18-21 Mei 2026, dan akan dilanjutkan dalam beberapa hari ke depan untuk mencukupi kebutuhan warga di seluruh kecamatan di Kabupaten Kuningan.

Distribusi Komoditas dan Target Sasaran

Sebagai upaya memastikan distribusi tepat sasaran, tim program GPM Kuningan menyiapkan berbagai komoditas strategis yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari. Komoditas yang disediakan meliputi beras, minyak goreng, bawang merah, cabai, telur, gula, tepung terigu, hingga daging ayam dan sapi.

Menurut Dian Rachmat Yanuar, secara agregat distribusi komoditas per titik penjualan rata-rata mencapai sekitar 4,3 ton beras dan 1.000 liter minyak goreng, ditambah komoditas lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat setempat. Ia menambahkan bahwa sebagian besar komoditas yang disediakan cepat terserap oleh warga, menunjukkan tingginya permintaan akan pangan murah menjelang Idul Adha.

Perbandingan Harga Pasar dan Harga GPM

Sebelum diluncurkannya program GPM, pihak pemerintah daerah mendata harga sejumlah bahan pokok di Kuningan yang relatif tinggi per 21 Mei 2026. Beberapa harga yang dicatat antara lain:

Melalui program GPM, pemerintah daerah menjual berbagai komoditas di bawah harga pasar umum, dengan harga terjangkau seperti:

Menurut Dian, selisih harga ini membantu masyarakat menekan pengeluaran rumah tangga di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi menjelang Idul Adha. Ia menegaskan bahwa stabilitas daya beli masyarakat merupakan faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah, terutama saat permintaan pangan meningkat secara signifikan.

Peran Intervensi Pemerintah dalam Mengendalikan Inflasi Pangan

Dian Rachmat Yanuar menekankan bahwa pengendalian inflasi pangan tidak dapat hanya diandalkan dari kebijakan administratif semata. Menurutnya, intervensi langsung yang dirasakan oleh masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah gejolak harga pangan sebelum terjadi.

"Pemerintah harus hadir lebih cepat sebelum gejolak harga terjadi agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan pokok dengan harga yang wajar," ujar Dian.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan Wahyu Hidayah menyatakan bahwa pelaksanaan GPM menjadi instrumen strategis dalam menjaga keseimbangan harga pangan sekaligus meredam potensi gejolak inflasi menjelang hari besar keagamaan. Ia menambahkan bahwa program ini disusun berbasis data harga dan kebutuhan riil masyarakat, sehingga distribusi komoditas dapat berjalan efektif dan tepat sasaran di setiap wilayah.

"Kami tidak ingin menunggu harga semakin tinggi. Pemerintah harus bergerak lebih awal melalui intervensi yang terukur agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan dengan harga yang terjangkau," ujar Wahyu.

Menurut Wahyu, pendekatan berbasis data ini penting untuk memastikan bahwa setiap warga dapat memperoleh manfaat dari program GPM, tanpa ada kesenjangan akses di berbagai wilayah Kabupaten Kuningan.

Kesimpulan

Program Gerakan Pangan Murah di Kuningan ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif dalam menjaga daya beli masyarakat menjelang Idul Adha 2026. Dengan menawarkan komoditas pokok di bawah harga pasar, pemerintah daerah berharap dapat menekan beban pengeluaran rumah tangga dan menjaga stabilitas ekonomi lokal di tengah peningkatan permintaan pangan.