Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Gayahidup realistis dan komunikasi terbuka, kunci keluarga pejabat hindari jeratan korupsi

KDM · Oleh Nayla Putri ·

Pemprov Jawa Barat gandeng KPK gelar bimbingan teknis keluarga berintegritas untuk pejabat eselon II dan pasangan mereka guna cegah korupsi dari tekanan finansial dan gaya hidup.

Gayahidup realistis dan komunikasi terbuka, kunci keluarga pejabat hindari jeratan korupsi

Pencegahan Korupsi Mulai dari Lingkungan Keluarga

Dalam upaya memperkuat budaya integritas di kalangan aparatur sipil negara, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggagas sebuah pendekatan pencegahan korupsi yang tidak biasa, yakni menyentuh langsung lingkungan keluarga pejabat.

Langkah ini dilakukan melalui program Bimbingan Teknis Keluarga Berintegritas yang menyasar pejabat eselon II beserta pasangan mereka. Kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi fondasi utama program ini.

Tekanan Finansial sebagai Pemicu Utama

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengungkapkan bahwa salah satu faktor terbesar yang mendorong pejabat terjerumus dalam praktik korupsi maupun penerimaan gratifikasi adalah tekanan finansial dan tuntutan gaya hidup dari lingkungan keluarga.

"Sering kali seseorang sudah berniat bekerja dengan integritas, namun karena desakan dari pasangannya akhirnya terjerumus korupsi."

Pernyataan ini menggarisbawahi realitas yang kerap terjadi di lapangan, di mana niat baik seorang pejabat bisa buyar karena dorongan dari orang-orang terdekatnya.

Peran Pasangan sebagai Pendorong Positif

Program bimbingan teknis ini hadir dengan kesadaran bahwa keluarga, terutama pasangan, memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku pejabat. Dengan mengundang pasangan pejabat, Erwan berharap mereka mampu menjadi pendorong positif而非 pendorong gaya hidup konsumtif.

"Kami mengundang pasangan mereka agar memahami cara memberikan dukungan yang positif."

Pendekatan ini menekankan bahwa keluarga yang suportif secara emosional namun realistis dalam menyikapi kemampuan finansial adalah garda terdepan pencegahan korupsi.

Membangun Komitmen hingga Akhir Masa Jabatan

Erwan menjelaskan bahwa tujuan akhir program ini adalah memastikan seluruh pejabat dapat menyelesaikan masa jabatan mereka dengan bersih dan berakhir secara husnul khatimah, istilah yang merujuk pada penyelesaian yang baik dan bermartabat.

"Agar tetap berintegritas, tidak ada niat untuk melakukan korupsi maupun menerima gratifikasi."

Komitmen ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan terakhir bagi para pejabat dalam menghadapi berbagai godaan durante office.

KPK: Keluarga Berintegritas Ciptakan Kesejukan Rumah Tangga

Dari sisi nasional, Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo memberikan perspektif bahwa pencegahan korupsi memerlukan fondasi yang lebih dalam, yaitu dimulai dari lingkungan keluarga.

Ia menekankan bahwa keluarga atau pasangan yang berintegritas adalah mereka yang mampu menciptakan kesejukan dalam rumah tangga, bukan tekanan yang berujung pada perilaku koruptif.

"Setidaknya, pasangan menjadi pengingat utama untuk tidak melakukan korupsi."

Penerapan Pola Hidup Sesuai Kemampuan

Salah satu materi utama dalam program ini adalah penerapan pola hidup yang sesuai dengan penghasilan dan kemampuan finansial. KPK turut memberikan edukasi agar pejabat dan pasangan mereka mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan semata.

Dengan kata lain, gaya hidup realistis dan komunikasi terbuka mengenai kondisi keuangan menjadi kunci utama dalam menjaga integritas seorang pejabat.

Membangun Ekosistem Birokrasi yang Lebih Akuntabel

Lebih dari sekadar mencegah korupsi individu, penguatan nilai-nilai antikorupsi berbasis keluarga ini diharapkan mampu membangun ekosistem birokrasi di Jawa Barat yang lebih akuntabel.

Pendekatan holistik ini bertujuan memperkecil peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang dengan cara memberdayakan unit terkecil organisasi, yakni keluarga pejabat itu sendiri.

Langkah Strategis yang Perlu Diikuti Daerah Lain

Program yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini dapat menjadi model referensi bagi pemerintah daerah lainnya di Indonesia. Dengan melibatkan pasangan pejabat dalam program antikorupsi, pendekatan pencegahan tidak lagi bersifat sektoral melainkan menyentuh aspek personal dan familial.

Jika diterapkan secara masif, langkah ini berpotensi menciptakan perubahan paradigma signifikan dalam cara pandang pejabat terhadap integritas, di mana dukungan keluarga menjadi komponen tak terpisahkan dari komitmen antikorupsi mereka.