Gas Metana Ancam TPA Cirebon Saat Musim Kemarau, Begini Strategi Mitigasinya
DLH Kabupaten Cirebon siapkan strategi mitigasi cegah kebakaran TPA saat musim kemarau 2026. Fokus pada pengelolaan gas metana dan peran aktif masyarakat.

Gelombang panas yang melanda wilayah Cirebon memasuki pertengahan tahun 2026 menjadi ancaman serius bagi operasional tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran di TPA menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Ancaman Gas Metana di TPA saat Musim Kemarau
Gas metana yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik secara anaerobik di dalam timbunan TPA menjadi salah satu faktor utama risiko kebakaran saat musim kemarau. Dede Sudiono, Kepala DLH Kabupaten Cirebon, menjelaskan bahwa timbunan sampah menghasilkan gas metana yang mudah terbakar ketika suhu udara meningkat drastis selama musim kemarau.
Baca Juga: Pelaku Usaha Kota Depok Terapkan Prinsip Kejujuran dan Tanggung Jawab sebagai Fondasi Bisnis
Gas metana memiliki potensi mudah terbakar pada konsentrasi tertentu, terutama ketika suhu lingkungan meningkat dan kelembaban udara menurun drastis," jelas Dede.
Hasil koordinasi DLH dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan periode Agustus hingga September menjadi masa kritis yang perlu diwaspadai karena meningkatnya risiko kekeringan dan munculnya titik-titik panas di berbagai wilayah.
Metode Semi Sanitary Landfill sebagai Solusi Utama
Untuk menekan risiko akumulasi gas metana, DLH Kabupaten Cirebon menerapkan metode semi sanitary landfill dalam pengelolaan TPA. Metode ini melibatkan penutupan timbunan sampah menggunakan lapisan tanah secara berkala.
"Penutupan timbunan sampah dengan tanah dilakukan secara rutin untuk meratakan permukaan sekaligus mengurangi potensi terbentuknya gas metana yang bisa memicu kebakaran," terang Dede.
Proses penutupan berkala ini tidak hanya membantu mengurangi emisi gas berbahaya, tetapi juga memperbaiki kondisi permukaan TPA sehingga lebih stabil dan aman selama musim kemarau.
Penyiraman Rutin dan Pemantauan Titik Panas
Selain metode penutup tanah, DLH menambah frekuensi penyiraman area timbunan sampah menggunakan truk tangki air minimal dua kali sehari. Volume penyiraman disesuaikan dengan kondisi cuaca dan suhu udara untuk memastikan suhu di dalam timbunan tetap terkendali.
Tim koordinasi juga rutin memantau potensi titik panas bersama instansi terkait, termasuk BMKG dan BPBD. Sistem pemantauan ini memungkinkan deteksi dini terhadaparea-area yang berpotensi mengalami kenaikan suhu ekstrem sehingga tindakan preventif dapat segera dilakukan.
Peran Aktif Masyarakat dalam Pencegahan
Penanganan risiko kebakaran TPA tidak bisa hanya bergantung pada upaya pemerintah. DLH Kabupaten Cirebon actively mendorong partisipasi masyarakat untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
Langkah utama yang dianjurkan adalah pemilahan sampah dari rumah, terutama memisahkan sampah organik dari jenis sampah lainnya. Masyarakat diminta mengolah sampah organik menjadi kompos atau memanfaatkan sebagai pakan maggot.
Semakin sedikit sampah organik yang masuk ke TPA, semakin kecil pula potensi terbentuknya gas metana yang dapat memicu kebakaran," tegas Dede.
DLH juga menegaskan imbauan keras agar masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan selama musim kemarau. Pembakaran sembarangan dapat menambah titik-titik api yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar di area TPA maupun lahan sekitar.
Kolaborasi Terpadu untuk Antisipasi Musim Kemarau
Kebijakan mitigasi ini menunjukkan bahwa penanganan risiko kebakaran TPA memerlukan pendekatan terpadu antara pemerintah dan masyarakat. Melalui koordinasi intensif antarinstansi dan peningkatan kesadaran masyarakat, potensi kebakaran saat musim kemarau di Kabupaten Cirebon dapat diminimalkan secara signifikan.