Empat Korban Jiwa Tabrakan Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur
Insiden tabrakan antara Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur Senin malam menewaskan empat orang, dengan puluhan korban luka. Proses evakuasi berlangsung hingga larut malam.

Pada Senin malam (27/4/2026), suasana Stasiun Bekasi Timur di Kota Bekasi berubah menjadi kepanikan saat Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang rangkaian KRL Commuter Line yang sedang berhenti di jalur stasiun. Insiden ini menewaskan empat orang, dengan puluhan korban lain yang mengalami luka ringan hingga berat. Proses evakuasi korban berlangsung hingga larut malam, dengan dukungan petugas gabungan dari pemadam kebakaran, tenaga medis, TNI, dan Polri.
Kronologi Lengkap Insiden
Menurut keterangan Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo, insiden ini dimulai dengan kecelakaan lain di perlintasan sebidang Ampera, kawasan Bulak Kapal, sekitar pukul 20.00 WIB. Sebuah mobil taksi diduga tertabrak oleh KRL Commuter Line, menyebabkan gangguan perjalanan dan memaksa rangkaian kereta untuk berhenti sementara di Stasiun Bekasi Timur.
“Jadi KRL itu berhenti karena ada taksi yang tertabrak di perlintasan dekat Bulak Kapal,” ujar Franoto dalam keterangan resmi.
Akibat KRL berhenti mendadak di jalur aktif stasiun, Argo Bromo Anggrek yang bergerak dari arah belakang dengan kecepatan tinggi tidak dapat menghindari tabrakan. Insiden terjadi sekitar pukul 20.53 WIB, saat stasiun masih dipadati penumpang pulang kerja.
Saksi Mata: Pemandangan Mengerikan Pasca Tabrakan
Salah satu calon penumpang KRL, Wijaya (40), yang sedang mengantre masuk gerbong saat insiden terjadi, mengaku melihat situasi janggal beberapa detik sebelum tabrakan.
“Saat itu kereta sedang menurunkan penumpang, saya mau naik. Ternyata kita lihat di sana kereta itu berada di jalur yang sama,” kata Wijaya saat diwawancarai.
Menurut dia, bagian depan lokomotif Argo Bromo Anggrek masuk sekitar seperempat ke dalam gerbong paling belakang KRL, yang merupakan gerbong khusus perempuan.
“Jadi kepala lokomotifnya itu sampai masuk ke dalam gerbong kurang lebih seperempat bagian,” tambahnya.
Saksi lain, Andi (42), penumpang KRL yang selamat, menyebut gerbong paling belakang menerima dampak terparah.
“Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujarnya.
Pengemudi ojek online Muhammad Akbar, yang berada tak jauh dari lokasi, awalnya mengira kecelakaan terjadi di jalan raya.
“Keras banget, saya pikir itu mobil yang tertabrak. Kita lihat tahu-tahu begini. Api tidak ada tapi ngebul, asap banyak,” katanya.
Asap tebal keluar dari rangkaian kereta yang bertabrakan, menciptakan suasana mencekam di sekitar stasiun. Penumpang panik berebut keluar, sementara petugas berupaya membuka akses evakuasi.
Tanggapan dan Tindak Lanjut dari KAI
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan dan pihak terkait atas insiden ini.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh penumpang dan petugas mendapatkan penanganan secepat mungkin dan sebaik mungkin,” ujar Anne.
Pihak KAI juga memastikan mereka terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait di lapangan dan akan memberikan pembaruan informasi secara berkala. Sementara itu, VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan proses penanganan di lokasi masih berlangsung hingga malam.
“Jadi, ini masih dalam proses penanganan di Stasiun Bekasi Timur untuk kejadian kecelakaan KA antara Commuter Line dengan kereta jarak jauh,” katanya.
KAI juga mengonfirmasi bahwa penyebab pasti tabrakan akan diselidiki bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Investigasi akan menelusuri sistem persinyalan, komunikasi antarpetugas, serta prosedur keselamatan saat rangkaian berhenti di jalur aktif.
Data Korban dan Proses Penanganan
Hingga Senin malam, KAI mengonfirmasi terdapat empat korban jiwa dalam insiden ini. Dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia saat diterima di rumah sakit, sementara puluhan korban lain masih dalam proses perawatan. Pihak KAI menyebut pendataan jumlah korban luka masih terus dilakukan seiring proses evakuasi yang berlangsung hingga larut malam. Penumpang yang terluka dibawa ke lantai dua stasiun sebelum dilarikan ke rumah sakit terdekat. Warga sekitar juga turut membantu evakuasi korban dengan alat seadanya sebelum kedatangan tim darurat resmi.
Analisis Faktor yang Memungkinkan Memicu Kecelakaan
Menurut ahli keselamatan transportasi, insiden ini menunjukkan pentingnya sistem pengamanan yang handal dan prosedur komunikasi yang jelas di stasiun kereta api. Beberapa faktor yang akan diselidiki oleh KNKT meliputi:
- Sistem persinyalan di Stasiun Bekasi Timur yang mungkin gagal memberikan peringatan dini kepada Argo Bromo Anggrek tentang KRL yang berhenti di jalur aktif
- Prosedur penanganan gangguan perjalanan KRL yang mungkin tidak diikuti dengan benar oleh petugas stasiun
- Komunikasi antara petugas KRL dan stasiun yang mungkin terganggu saat insiden terjadi
Ahli juga menambahkan bahwa insiden ini menjadi peringatan untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang dan stasiun kereta api, terutama saat jam sibuk malam hari ketika jumlah penumpang paling banyak.
Insiden tabrakan kereta api ini menjadi salah satu kecelakaan terparah di wilayah Jabodetabek dalam beberapa tahun terakhir. Pihak berwenang berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa depan, serta meningkatkan standar keselamatan di seluruh stasiun dan perlintasan kereta api di Indonesia.