Efek Berbahaya Insinerator Skala Kecil: Menteri LH Ingatkan Bandung
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mendesak Pemkot Bandung untuk tidak menggunakan insinerator skala kecil dalam penanganan sampah. Metode ini dianggap berbahaya karena menghasilkan emisi persisten penyebab kanker dan penyakit paru-paru, dengan dampak yang tak dapat dikendalikan. RDF diusulkan sebagai solusi ramah lingkungan.

Bahaya Tersembunyi Insinerator Skala Kecil: Peringatan Keras Bagi Pengelolaan Sampah Kota Bandung
Pemerintah Kota Bandung didesak untuk meninjau kembali kebijakan pengelolaan sampahnya, terutama terkait penggunaan insinerator skala kecil. Peringatan datang langsung dari pejabat tinggi lingkungan hidup, yang menyoroti dampak serius metode pembakaran sampah ini terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Dalam sebuah pernyataan di Bandung, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa penggunaan insinerator, khususnya yang berskala kecil, merupakan pilihan yang keliru dalam penanganan sampah. “Masker biasa tidak akan sanggup melindungi, bahkan masker N95 pun memiliki keterbatasan. Zat-zat berbahaya yang dihasilkan bersifat persisten, memiliki waktu tinggal hingga 20 tahun setelah dibakar, dan secara langsung memicu kanker serta penyakit paru-paru,” jelas Hanif. “Ini adalah ancaman yang tidak bisa kita tangani dengan cara apa pun.”
Emisi Tak Terkendali: Ancaman di Balik Pembakaran Sampah
Hanif menguraikan bahwa pembakaran sampah melalui insinerator menghasilkan emisi udara yang sangat sulit dikendalikan. Ini berbeda jauh dengan sampah padat, yang meskipun menimbulkan masalah seperti air lindi, masih dapat diolah. “Jika sampah ditumpuk, kita masih bisa mengelolanya, meskipun ada air lindi. Tetapi jika sudah menjadi udara, kita hanya bisa pasrah dan berharap pada Tuhan,” ujarnya, menggambarkan tingkat keparahan ancaman tersebut.
Mendorong Solusi Berkelanjutan: Refuse Derived Fuel (RDF)
Sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, pemerintah daerah didorong untuk mengadopsi metode pengelolaan sampah yang _ramah lingkungan_. Salah satu opsi yang direkomendasikan adalah pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).
RDF adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari sampah mudah terbakar seperti plastik, kertas, dan karton. Sampah-sampah ini melalui proses pemilahan ketat sebelum diolah, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti batu bara dalam berbagai aplikasi industri maupun pembangkit listrik. Hanif mengakui, “Pelaksanaan RDF memang lebih rumit, tetapi inilah solusi paling ramah lingkungan yang kita miliki saat ini.”
>