Dustira: RS Tua Cimahi Saksi Bisu Sejarah Medis & Militer Bandung
Jelajahi sejarah RS Dustira, dari Militaire Hospital kolonial hingga rujukan nasional. Saksi bisu evolusi Cimahi, memori perjuangan pahlawan, berdenyut di jantung kota.

RS Dustira: Saksi Bisu Sejarah Medis dan Militer yang Berdenyut di Jantung Cimahi
Gerbang utama Rumah Sakit Dustira Pascabaru yang telah direnovasi, menyimpan kisah transformasi dari rumah sakit militer kolonial menjadi rujukan nasional. (Dok. Penulis)
Di tengah hiruk pikuk Kota Cimahi, Jawa Barat, berdiri megah sebuah bangunan yang lebih dari sekadar fasilitas kesehatan: Rumah Sakit Dustira. Terletak di Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, keberadaannya tak terpisahkan dari sejarah panjang Cimahi sebagai kota militer kolonial. Dustira bukan hanya melayani kesehatan, melainkan juga menjadi arsip hidup perjalanan bangsa, sebuah cagar budaya yang kian memperkuat posisinya sebagai saksi bisu perubahan zaman.
Setiap dinding, setiap koridor, dan setiap sudut bangunan Dustira memancarkan lapisan sejarah yang bertumpuk sejak abad ke-19, mengisahkan evolusi dari sebuah rumah sakit militer kolonial hingga menjadi rumah sakit rujukan modern yang melayani masyarakat luas.
Dari Kebutuhan Militer Kolonial Menjadi Cikal Bakal Pelayanan Kesehatan
Sejarah Rumah Sakit Dustira mengakar kuat pada keputusan pemerintah kolonial Belanda untuk menjadikan Cimahi sebagai kota garnisun utama. Kala itu, Bandung dirancang sebagai pusat pemerintahan baru, menggantikan Batavia yang santer disebut-sebut kurang sehat. Cimahi, dengan lokasinya yang strategis, kemudian ditetapkan sebagai kawasan penyangga militer Bandung.
Untuk mendukung operasional pasukan yang besar, kebutuhan akan rumah sakit militer yang memadai menjadi sangat krusial. Menurut **Lubis dalam Sejarah Cimahi Kota Garnisun (2004)**, kesehatan tentara adalah prioritas strategis kolonial, dan dari sinilah gagasan pendirian Militaire Hospital di Cimahi mulai dibentuk.
>