Deretan Bendera Merah Putih di Pinggir Jalan Gejayan: Sisa Dagang Waeng yang Menunggu Pembeli
Waeng, 45 tahun, asal Kota Banjar, Jawa Barat, merantau ke Sleman, Yogyakarta, untuk jual bendera Merah Putih. Tiga hari tanpa pembeli, kini berharap penjualan meningkat jelang 17 Agustus.

Deretan Bendera Merah Putih di Pinggir Jalan Gejayan: Sisa Dagang Waeng yang Menunggu Pembeli
Di antara hiruk-pikuk kendaraan yang melintas di Jalan Gejayan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang pria paruh baya berdiri menanti pembeli. Namanya Waeng, 45 tahun, asal Kota Banjar, Jawa Barat. Setiap akhir Juli, ia merantau ke Yogyakarta dengan satu misi: menjual bendera Merah Putih jelang Hari Kemerdekaan Indonesia.
"Kemarin tiga hari kosong, nggak ada yang beli sama sekali," kata Waeng kepada media, Jumat (31/7/2026).
Perjalanannya ke Yogyakarta dimulai sekitar 24 Juli lalu. Selama menetap di Kota Gudeg, ia menyewa indekos di Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta. Tiap pagi, ia memberanikan diri membentangkan dagangan di pinggir Jalan Gejayan—salah satu ruas jalan strategis yang ramai dilalui masyarakat Sleman dan sekitarnya.
Kondisi dagangan tahun ini jauh berbeda
Tahun ini menjadi musim yang sulit bagi Waeng. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana pembeli selalu ada setiap harinya, kali ini dagangannya cenderung mengering. Tiga hari berturut-turut, ia harus menelan kenyataan pahit: tidak ada satu pun pembeli yang melirik bendera maupun umbul-umbul miliknya.
Bendera standar dijualnya seharga Rp 20 ribuan, sementara umbul-umbul dihargai Rp 50 ribu. Harga yang tergolong terjangkau, namun tetap belum mampu menarik minat pembeli seperti biasanya.
"Sampai sekarang ini belum ada peningkatan. Sepi lah," akunya.
Harapan masih menyala
Memasuki akhir pekan kemarin, situasi mulai menunjukkan perkembangan positif. Beberapa orang mulai mampir untuk melihat dagangan Waeng. Tiga orang akhirnya memutuskan membeli, termasuk seorang ibu yang menjadi pembeli terakhir pada hari itu.
"Tadi baru tiga pembeli sama ibu tadi (yang terakhir)," kata Waeng dengan nada lega.
Momentum ini menjadi secercah harapan bagi pria berkulit gelap ini. Ia memprediksi, mulai 10 Agustus nanti, jumlah pembeli akan mengalami peningkatan signifikan. Biasanya, permintaan bendera dan umbul-umbul melonjak drastis menjelang tanggal 17 Agustus.
Jika tidak laku, Waeng siap pulang lebih awal
Kendati demikian, Waeng tidak ingin terlena. Ia sudah mempersiapkan skenario terburuk.
"Lihat minggu-minggu ini kalau nggak laku ya paling pulang," katanya.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Jika dagangan terus tidak laku, ia justru akan mengalami kerugian lebih besar. Biaya hidup di Yogyakarta—khususnya untuk makan dan akomodasi—termasuk dalam kategori tinggi. Setiap hari yang berlalu tanpa penjualan berarti pembengkakan biaya yang harus ditanggungnya sendiri.
"Membengkak biaya itu kan. Biaya hidup mahal," keluhnya.
Sisa dagangan akan disimpan untuk tahun depan
Jika harus pulang lebih awal, Waeng memastikan seluruh sisa dagangan akan dibawanya kembali ke Kota Banjar. Ia tidak akan menjualnya dengan harga murah hanya untuk recoup kerugian. Sebagai gantinya, bendera dan umbul-umbul itu akan disimpan dengan baik, menunggu musim depan.
Ya, Waeng tidak menyerah. Tahun depan, ia akan kembali datang ke Yogyakarta untuk mencoba peruntungan yang sama—berjualan Sang Saka Merah Putih di pinggir jalan yang sama.
Bagi Waeng, perantauan ini bukan sekadar mencari keuntungan. Ini tentang harapan, kerja keras, dan kepercayaan bahwa masa depan yang lebih baik akan datang—persis seperti semangat yang terkandung dalam merah putih yang ia jual setiap musim Kemerdekaan.